Edisi 12-05-2017
30 Kukang Jawa Sitaan Dilepasliarkan


KUNINGAN – Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sekaligus PLT Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDE) Bambang Hendroyono melepas Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) di stasiun penelitian Blok Bintangot, Desa Seda, Kecamatan Mandirancan, Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, kemarin.

Pelepasan secara simbolis itu sebagai pertanda dimulainya acara melepasliarkan 30 primata jenis Kukang Jawa ini merupakan kerja sama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah Jawa Barat, Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Primata IAR Indonesia, dan TNGC. Staf media International Animal Rescue (IAR) Risanti menyebutkan, primata nokturnal (aktif di malam hari) yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil penyitaan dalam operasi penegakan hukum Reskrimsus Mabes polri, Polda Metro Jaya, Polda Jabar, dan Sat Reskrim Polres Majalengka.

Semua itu ditemukan di beberapa tempat berbeda termasuk dari pedagang online yang telah diamankan beberapa waktu lalu. “Kukang yang kami lepaskan ke habitatnya setelah selesai menjalani perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor, ini terdiri dari 18 individu betina, dan 12 jantan,” tutur Risanti kepada KORAN SINDO kemarin.

Kukang Jawa yang merupakan korban perdagangan itu, dipindahkan dari pusat rehabilitasi ke kawasan habituasi TNGC secara bertahap sejak 19 April 2017. Mereka akan dibiarkan beradaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan alam, sebelum akhirnya dilepasliarkan ke habitatnya. Menurutnya primata yang termasuk dalam daftar terancam punah ini kembali ke rumah asalnya di alam.

Hal itu setelah dari hasil pemeriksaan tim medis menunjukkan bahwa 30 kukang sitaan yang dititiprawatkan oleh penegak hukum ini dinyatakan telah lulus sekolah alam liar baik dari segi pelaku dan kesehatan. Alhasil mereka dinilai layak untuk kembali menjalani kehidupan alaminya.

Risanti mengakui, dipilihnya TNGC untuk melepaskan kukang hasil sitaan itu karena menurut hasil survei tim IAR Indonesia dan tim TNGC menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki keanekaragaman, ketersediaan pohon pakan, juga pohon tidur kukang, sekaligus memiliki kondisi ekologis yang sesuai dengan daya dukung habitat kukang jawa.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Padmo Wiyoso menganggap pelepasliaran kukang jawa di TNGC merupakan salah satu strategi untuk menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata satwa endemik yang kini jumlahnya semakin berkurang.

TNGC sendiri merupakan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis dengan luas sekitar 15.500 hektare, berfungsi sebagai kawasan pelestarian dan perlindungan kelangsungan hidup satwa tertentu, termasuk kukang agar tidak punah. Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sekaligus PLT Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDE) Bambang Hendroyono mengungkapkan apresiasinya pada jajaran kepolisian, khususnya Reskrimsus Mabes polri, Polda Metro Jaya, Polda Jabar, dan Sat Reskrim Polres Majalengka yang telah berupaya menyelamatkan kelestarian satwa liar jenis Kukang Jawa ini.

Dia juga mengaku salut pada kerja sama yang telah dilakukan aparat penegak hukum dengan pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar, BTNGC, dan Rehabilitasi Primata IAR Indonesia, sehingga terselenggara acara pelepasliaran kukang dari hasil sitaan tersebut.

yudi r sudirman

Berita Lainnya...