Edisi 12-05-2017
Kemampuan Teropong Bosscha Tinggal 30%


BANDUNG BARAT – Kemampuan teropong Observatorium Bosscha di Jalan Peneropongan Bintang, Kecamatan Lembang, KBB saat ini tinggal 30-40%.

Polusi cahaya akibat perkembangan Bandung dinilai menjadi penyebab turunnya kemampuan observatorium pertama di Indonesia itu. Direktur Pusat Observatorium Bosscha Lembang Mahasena Putra mengatakan, saat ini tingkat kemampuan pengamatan teropong bintang di Bosscha jauh menurun. Hal itu dilihat berdasarkan kemampuan teropong pada saat menangkap jumlah bintang di angkasa.

Bila dipersentasekan, kemampuannya turun hanya tinggal 30-40%. Selain dari pengaruh cuaca, hal itu utamanya disebabkan karena terlalu banyaknya polusi cahaya yang berasal dari pijaran lampu- lampu terbuka di kawasan Bandung.

“Polusi cahaya salah satunya, karena banyaknya pijaran lampu yang terbuka. Banyaknya bangunan gedung juga secara otomatis menambah banyaknya pijaran lampu terbuka,” ujar Mahasena Putra saat dihubungi melalui saluran telepon kemarin.

Kendati demikian, dikatakan Sena (sapaan akrab Mahasena), Observatorium Bosscha Lembang masih bisa digunakan untuk kegiatan pengamatan bintang-bintang di angkasa. Ketika disinggung tingkat akurasi, hal itu tergantung dari kondisi cuaca. Jika kondisi awan berpotensi akan mendatangkan hujan, pengamatan tidak bisa dilakukan.

“Biasanya bagaimana tahun, kalau dari setahun biasanya kan 50 hari ada cerahnya, tetapi kalau sekarang Mei saja masih hujan, beda dengan tahun 2015 saat terjadi fenomena el nino, saat itu banyak cerahnya jadi pengamatan pun bisa dilakukan,” terangnya. Kendati kemampuan teropong menurun, para pengamat hilal dari berbagai daerah di Jawa Barat biasanya selalu datang ke Observatorium Bosscha untuk menentukan awal Ramadan.

Para pengamat yang datang biasanya akan mengunjungi Boscha di akhir-akhir bulan Syaban. “Kalau tahun lalu dari tim hisab atau rukyat dari berbagai daerah seperti Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Subang dan daerah lainnya kurang lebih ada sekitar 50 sampai 100 orang yang melakukan pengamatan di Boscha,” kata Mahasena.

Peneliti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) Thomas Jamaluddin membenarkan polusi cahaya mempengaruhi kemampuan Bosscha. Menurut dia, dengan pesatnya pertambahan penduduk dan pembangunan infrastruktur terutama pembangunan gedung-gedung di Bandung dan sekitarnya maka pengaruh polusi cahaya tidak dapat dihindari. Hal itu secara otomatis berdampak pada penurunan tingkat kemampuan peneropongan bintang di Pusat Bbservatorium Lembang.

“Polusi cahaya sudah tidak dapat dihindari lagi karena seiring maraknya dengan pembangunan gedung-gedung di Kota Bandung dan sekitarnya, pembangunan gedung secara otomatis membutuhkan infrastruktur lainnya salah satunya lampu-lampu sebagai penerangan,” terangnya. Dikatakan Thomas, kondisi Bosscha saat ini hanya mampu menangkap objek-objek tata surya dan bintang terdekat saja.

Sementara untuk galaksi terluar sudah tidak dapat dilakukan. “Kalau tata surya dan bintang terdekat masih bisa, tetapi lambat laun itupun sudah tidak akan bisa lagi,” ujarnya. Untuk mengatasi persoalan itu, kata Thomas, rencananya Pusat Observatorium Bosscha Lembang akan dipindahkan ke daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Dalam proyek tersebut, LAPAN akan beker jasama dengan ITB, Pemkab Kupang dan Universitas Nusa Cendana. Proyek tersebut ditargetkan bisa terlaksana di tahun 2018 nanti. “Nantinya, Bosscha Lembang hanya untuk kepentingan pendidikan saja, sementara yang di kupang untuk penelitian,” katanya.

nur azis




Berita Lainnya...