Edisi 14-05-2017
Soul Mengisahkan Yoes Rizal


Seseorang dikenal dari karyanya. Demikian pula seorang perupa dikenal dari lukisannya. Sebanyak 200 karya lukis Yoes Rizal dibukukan. Soul , sebuah ikhtiar mengisahkan sang seniman; karakter dan kiblatnya dalam semesta seni rupa.

Seniman selalu dikagumi dan dikenang karena memiliki karakter kuat dalam berkarya. Sebut di antaranya maestro seni lukis Affandi. Pelukis berhaluan ekspresionis dan romantisme ini termasuk perupa berkarakter kuat dan unik dalam mengerjakan karyanya. Afandi melukis tanpa harus menggunakan kuas. Mula-mula ia menumpahkan cat-cat berwarna ke dalam kanvas.

Kemudian, dia ”aduk” warnawarna itu dengan jarinya hingga selesai dan menampakkan hasil yang luar biasa. Sementara Basoeki Abdullah mematenkan dirinya sebagai seniman realis, naturalis, dan bahkan juga condong surealis. Dia merupakan pelukis potret yang terkenal di dunia. Dia terkenal sebagai seniman istana karena sering diundang ke istana presiden untuk melukis para tamu penting di istana.

Keunikan dan kekuatan karya itu pula yang mendorong Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon untuk mengisahkan Yoes Rizal dalam buku berjudul Soul. Buku Soul merupakan karya bersama Fadli Zon dengan Astri Wright, seorang Profesor Sejarah Seni Asia Tenggara yang juga dosen seni di Universitas Victoria, BC. Diluncurkan di Selasar Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (9/5), buku yang memuat sekitar 200 karya lukisan Yoes ini memberi makna tersendiri bagi Yoes yang sudah menggeluti dunia seni rupa selama 35 tahun.

Launching buku Soul dibuka oleh Irawan Karseno selaku Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Irawan yang juga sahabat karib Yoes Rizal menilai sahabatnya itu termasuk seniman yang produktif. Mengapa? Sebab, pada usianya yang ke-60 tahun, Yoes masih aktif berkarya. Semangat Yoes setidaknya menginspirasi para seniman muda Indonesia saat ini. ”Harapannya, ini bisa menginspirasi seniman-seniman lain untuk terus berkarya,” kata Irawan Karseno.

Ya, pada usianya yang ke-60, Rizal masih saja menghasilkan karya-karya terbaiknya. Menurut Fadli Zon, konsistensi berkarya serta keunikan dalam memilih objek lukisan merupakan salah satu daya tarik Yoes Rizal. Karya-karya Yoes Rizal banyak mengeksplorasi figur sebagai simbol kehidupan manusia.

Tubuh manusia biasa menjadi objek lukisan yang dapat menceritakan banyak hal, mulai dari hal profan hingga keabadian. ” Ini menjadi alasan saya tertarik mendokumentasikan perjalanan Yoes Rizal dalam berkarya,” kata Fadli Zon. Sebagai perupa hebat, Yoes Rizal sudah diakui dunia. Ini bisa dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang pernah dia terima.

Di antaranya Certificate from Paris American Academy (1984), Certificate Kansas City, USA (2000), North Caroline, USA (2006) dan beberapa pameran tunggal di Amerika Serikat dan Jepang. ”Penghargaan Yoes Rizal dalam berkarya menunjukkan Yoes serius dalam menyelami dunia seni rupa dan ia berhasil menjadi salah satu tokoh pelukis yang mewarnai Indonesia,” papar Fadli Zon.

Sementara itu, Yoes Rizal menyampaikan rasa terima kasih kepada Fadli Zon dan Astri Wright yang telah membukukan karya-karyanya. Menegaskan apa yang disampaikan Astri Wright dalam bukunya, bahwa usia seperti dirinya kalau di lembaga pemerintah mungkin sudah pensiun. Namun, katanya, dalam dunia seni rupa tidak kenal pensiun.

”Bagi seorang seniman ini adalah usia kematangan dalam berkarya,” tegas Yoes Rizal. Yoes Rizal juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Fadli Zon Library, selaku penggagas dan pelaksana dalam mendokumentasikan karyanya. Fadli Zon Library (Perpustakaan Fadli Zon) itu sendiri merupakan perpustakaan pribadi milik budayawan yang juga Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

Perpustakaan ini berdiri sejak tahun 2008. Saat ini buku-buku yang sudah tersimpan di Fadli Zon Library mencapai sekitar 40.000 buku. Selain buku, naskah kuno dan koleksi koran pada zaman dulu juga ada di perpustakaan ini. Tidak hanya itu, di perpustakaan ini tersimpan juga benda- benda berupa keris, tombak, pedang dan badik dari berbagai kerajaan Nusantara.

Ada juga koleksi prangko, koleksi uang logam (koin), koleksi patung dan lukisan dari berbagai maestro seniman Indonesia, koleksi piringan hitam (long play) dari musisi/penyanyi Indonesia, koleksi rokok yang diproduksi di Indonesia, koleksi tekstil/kain tua dari berbagai daerah, koleksi kacamata dari beberapa tokoh. Bagi Fadli Zon, baik buku maupun benda-benda koleksi lainnya memiliki nilai sejarah.

Dengan menyimpan rapi di perpustakaan, sejarah yang tersirat pun yang tersurat dalam buku dan bendabenda koleksi lainnya bisa terawat dengan baik. Memiliki perpustakaan yang dipenuhi buku-buku berkualitas, dia juga mau mengajarkan bagaimana pentingnya membaca. Kalau perpustakaan adalah tempat disimpannya banyak buku, maka darinya oase intelektual mengalir.

”Saya ingin membangun oase intelektual. Mudah-mudahan perpustakaan ini bisa menginspirasi orang yang punya kemampuan lebih besar dari saya, juga membangun pusat intelektualisme yang bisa mencerdaskan masyarakat,” tuturnya. Selainbuku Soul, Fadli Zon jua meluncurkan buku puisinya yang bertajuk Memeluk Waktu, pada tempat dan hari yang sama, namun jam berbeda, yaitu mulai pukul 19.00WIB. Baik buku Soul maupun Memeluk Waktu diterbitkanoleh Fadli Zon Library.

donatus nado r