Edisi 17-05-2017
Metodologi Global Lindungi Kawasan


KOALISI gabungan antara industri dan LSM meluncurkan metodologi gabungan baru yang berlaku secara global untuk melindungi alam dan mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara bertanggung-jawab.

Bertajuk High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit, metodologi ini memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah. HCS Approach Toolkit merupakan sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

”Kami kini meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” kata Grant Rosoman, Co-Chair High Carbon Stock (HCS) Steering Group dalam acara peluncuran HCS Approach Toolkit), belum lama ini.

Grant menuturkan, selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek 'Non- Deforestasi'. Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon,yang mencakup teknologi baru termasuk penggunaan LiDAR, untuk mengoptimalisasi konservasi.

”Koalisi yang unik ini telah bersatu, dalam menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan dampak pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa dan hak-hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan,” tuturnya. Metodologi baru ini diklaim telah berjalan sukses sebagaimana bisa diukur dari adanya implementasi pelaksanaan kerjasama yang melibatkan berbagai pihak baik itu LSM, perusahaan maupun komponen lainnya.

Bahkan, sukses bisa terlihat dari cakupan luasan areal yang telah dikerjasamakan yang begitu luas. HCS tambahnya telah berhasil dilaksanakan di negara-negara Asia dan Afrika. “Ada sekitar delapan negara di Afrika yang komitmen mengadopsi HCS Approach Toolkit. Sedangkan di Indonesia sendiri sistem ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah kabupaten dan provinsi berdasarkan pendekatan yang telah dilakukan.

Misalnya Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah yang telah meneken komitmen yuridiksi untuk menerapkan pendekatan tersebut,” sebut Grant. Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis pada April 2015.

Versi baru yang telah disempurnakan telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach.

(rendra hanggara)