Edisi 19-05-2017
Outbound di Bekas Tambang, Enam Santri Tewas


GRESIK - Enam santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, tewas tenggelam di kolam bekas galian tambang kapur, belakang pondok mereka.

Para korban bersama 265 santri lain sedang mengikuti outbound setelah lulus kajian kitab Imriti (salah satu kitab ilmu bahasa Arab) dan akan diwisuda Sabtu 20 Mei mendatang. Mereka tewas di lokasi yang dikenal dengan sebutan Makam Kidang Kuning. Tempat ini adalah kolam yang terbentuk dari bekas galian kapur terisi air hujan.

Kedalamannya mencapai sekitar 2 meter seluas sekitar 10x20 meter sehingga tampak seperti danau dengan air kehijauan. Enam santri yang tewas itu Syaifuddin Juhri Subagyo (kelas IX C) asal Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah; Sholahuddin Ahmad (kelas IX C) asal Sukolilo, Surabaya, JawaTimur.

Berikutnya M Royi Amanullah Rusydi (kelas IX C) dari Wonocolo, Surabaya; Ahmad Syafii (kelas IX C) dari Babat, Lamongan; Abdul Rohman Nafis (kelas IX C), warga Kecamatan Kerembangan, Surabaya; dan Yosar Muhammad Ardyansyah Putra(kelasIX C) dari Driyorejo, Gresik. Di lokasi kejadian, para santri ini bersenda gurau dan salingdorong.

Akibatnya empat orang santri tercebur. Tiga orang santri lain mencoba menolong temannya, tetapi mereka juga tenggelam karena tidak bisa berenang. Akhirnya tiga guru mereka yaitu Rofik, Hadi, dan Gufron terjun ke kolam dan berhasil menemukan lima orang dalam kondisi tidak bernyawa. “Para santri sudah diingatkan agar tidak bergurau, karena jalan-jalan setapak masih licin,” ujar Kanit Reskrim Polsek Manyar Ipda Yoyok Mardi P kemarin.

Berikutnya, santri bernama M Royi Amanullah Rusydi akhirnya ditemukan juga dalamkondisitewas. Seorang santri bernama Efendi ditemukan selamat. Korban yang selamat dirawat di RS Semen Gresik, sementara korban yang meninggal dibawa ke RS Ibnu Sina.

Salah satu pengasuh pesantren, Ahmad Nadilah, mengatakan bahwa pimpinan pondok yaitu KH Masbuhin Faqih, sebenarnya sudah melarang kegiatan di luar lingkungan pesantren karena alasan keselamatan.

Dia mengakui pihaknya merasa kecolongan dengan kejadian tersebut. Dia menduga kegiatan tersebut tidak dikonsultasikan dengan pengasuh, sebab selama ini pengasuh sudah melarang kegiatan yang berada di luar pondok demi untuk keselamatan santri.

ashadi ik




Berita Lainnya...