Edisi 19-05-2017
Pemimpin Harus Berpihak Pada Rakyat


JAKARTA – Tantangan bangsa Indonesia ke depan dipastikan akan semakin berat dan kompleks. Karena itu dibutuhkan sosok pemimpin yang dapat menghadirkan solusi. Tidak hanya membawa harapan, melainkan juga perubahan kepada masyarakat.

Terutama masyarakat kecil yang kerap termarginalkan dalam sebuah proses pembangunan bangsa. “Jadi, pemimpin harus punya kapasitas, kapabilitas, keberpihakan, dan punya ketulusan untuk membangun masyarakat. Itu poin penting yang dibutuhkan masyarakat ke depan,” tandas Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Ahmad Rofiq di Jakarta kemarin.

Rofiq membenarkan bahwa tantangan besar hanya dapat dihadapi pemimpin yang memiliki kapasitas. Pemimpin yang baik, menurut dia, harus mampu mengurai masalah dan memberikan solusi bagi keperluan dan kebutuhanmasyarakat.“ Pemimpin itukan leader, dia harus bisa mengarahkan, membina, mengkreasi, menciptakan sesuatu yang menjadi keperluan atau kebutuhan masyarakat,” tandasnya.

Rofiq juga mengatakan bahwa pemimpin adalah kunci dari sebuah perubahan. Dari tangannyalah sebuah era dapat membawa kemakmuran atau justru membawa kesengsaraan bagi rakyat. “Kalau kita lihat kepemimpinan hari ini dan sebelumnya, kan keberpihakan kepada masyarakat kecil tidak kita rasakan. Yang ada bagaimana membangun elite sementara di bawah dilupakan,” ucap Rofiq.

Karena itu, lanjutnya, misi Partai Perindo salah satunya adalah agar Indonesia pada 2019 nanti dipimpin negarawan yang memahami masalah bangsa dan mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas, adil, taat hukum, serta milik semua masyarakat. Partai Perindo, menurut Rofiq, juga tegas dalam menentukan kriteria pemimpin bagi bangsa ke depan.

Sesuai perjuangan partai, menurutnya, pemimpin harus berpihak pada kelompok masyarakat kecil dan bekerja sesuai dengan orientasi kebutuhan masyarakat. “Karena ketika masyarakat yang paling bawah itu disentuh lebih utama, dia akan mengalami kenaikan secara serentak dan itu mendorong kalangan menengah jadi (kelas) atas dan itu tidak lepas dari kapabilitas pemimpin,” paparnya.

Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubeidillah Badrun melihat tantangan pemimpin di 2019 memang berat karena mewarisi permasalahan saat ini baik di bidang ekonomi, politik maupun sosial. Karena tantangannya besar, pemimpin ke depan menurut dia tidak cukup hanya bermodalkan popularitas, melainkan harus punya integritas yang kuat, visioner, serta berani mengambil risiko.

“Bukan sekadar punya keluguan. Pemimpin juga tidak boleh salah dalam membuat kebijakan,” ujar Ubeidillah. Maka sangat tepat apabila pemimpin ke depan, menurut Ubeidillah, juga harus hadir sebagai pemecah masalah. Sebab pemimpin yang potensial menghadirkan masalah justru akan membuat karut-marut jalannya kepemimpinan yang disandangnya.

“Karena kalau pemimpin suka memicu masalah, energi negara ini akan capai untuk mengatasinya,” tandas dia. Ubeidillah pun punya kriteria tersendiri mengenai makna negarawan bagi pemimpin. Menurut dia, pemimpin yang memiliki sifat negarawan akan selalu mengedepankan kepentingan nasional sebagai agenda utama, memiliki pemikiran kebangsaan yang kuat, serta mengutamakan orang banyak.

“Jadi dia punya visi kuat, mengayomi banyak kelompok di negeri ini,” paparnya. Mengenai fenomena munculnya pemimpin muda di berbagai negara lain saat ini, hal itu menurut Ubeidillah bisa juga terjadi di Tanah Air.

dian ramdhani

Berita Lainnya...