Edisi 19-05-2017
Pemkot Jakarta Barat Sulit Tata Kawasan Pasar Asemka


JAKARTA - Kawasan Pasar Asemka, Jakarta Barat sulit dibenahi. Pusat perdagangan ini kembali diserbu pedagang kaki lima (PKL) terlebih menjelang Ramadan. P

ermasalahan PKL juga terjadi di Jalan Cengkeh, Jakarta Barat, di mana PKL resmi tidak mendapat tempat yang layak malah bercampur dengan pedagang tak resmi. Akibat PKL memadati bahu jalan, kondisi Pasar Asemka menjadi semrawut. Tak hanya itu, parkir liar sepeda motor juga memenuhi ruas jalan menjadi tiga baris.

Kondisi ini membuat jalan yang semestinya bisa dilalui dua kendaraan hanya mampu dilewati satu kendaraan. “Apalagi sekarang mau Ramadan, kondisinya makin padat,” kata Arief, 25, salah satu pengguna jalan di Pasar Asemka, Jakarta Barat, kemarin. Keluhan Arief memang benar dirasakan. KORAN SINDO mencoba menelusuri jalanan dari pintu kecil, bawah flyover hingga ke Tubagus Angke.

Jalanan sekitar 200 meter itu cukup padat. Untuk menempuhnya dibutuhkan waktu lebih dari 30 menit dengan kecepatan di bawah 5 km/jam. Sementara bila ketika sepi hanya butuh waktu kurang dari 5-10 menit dengan kecepatan 30-40 km/jam. Sejumlah pedagang di kawasan Pasar Asemka tak menampik menjelang Ramadan banyak mengambil keuntungan. Permintaan pernak-pernik barang tinggi mulai gelas, sendok, peralatan masak hingga aksesori ruangan.

Sobri, 36, pedagang peralatan kamar, mengaku mengalami kenaikan omzet sebesar 30- 50%. Kenaikan ini tak lepas dari permintaan tinggi para pelanggan. “Saya juga dapat pesanan membuat jam dinding untuk acara Ramadan,” ucapnya. Tak hanya di Pasar Asemka, kesemrawutan terhadap kawasan ini semakin meluas.

Penuh sesaknya parkiran membuat sejumlah warga mulai memarkirkan kendaraannya di sekitar Asemka, seperti pintu kecil, pasar perniagaan, hingga pintu kecil 1 menuju kawasan Kota Tua di Pinangsia. Namun karena keterbatasan lahan parkir, kendaraan yang terparkir menjadi tidak terkontrol. Beberapa pengendara terpaksa memarkirkan mobilnya apa adanya. Para juru parkir juga mengeluhkan hal tersebut, termasuk proses pembayaran.

“Di sini kan sudah ada mesin parkir meter. Jadi bayarnya pakai uang elektronik (e-money). Tapi ketika kami lengah, mereka asal masuk dan keluar tanpa bayar di mesin parkir meter,” ujar Sukirno, 52, salah satu juru parkir di sekitar Pasar Asemka. Di tempat terpisah, Camat Tambora Djaharuddin tak menampik soal kesemrawutan di sekitar Pasar Asemka.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari menderek dan mengangkut kendaraan yang terparkir liar bekerja sama dengan Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat hingga melakukan tindak yustisi terhadap PKL oleh petugas Satpol PP. Dari sekian upaya itu, pihak kecamatan tak dapat berbuat banyak sebab begitu pihaknya lengah, PKL dan parkir liar kembali tumbuh.

Mengatasi permasalahan Asemka, dia telah berkomunikasi dengan pengelola pasar perniagaan untuk menggiring pedagang ke kawasan tersebut. “Masalahnya pengelola disitu kan terpecah. Jadiyangada saling ego,” kata Djaharuddin.

yan yusuf



Berita Lainnya...