Edisi 19-05-2017
Redam Kerusuhan, 2.000 Tentara Dikerahkan


SAN CRISTOBAL - Pemerintah Venezuela mengerahkan 2.000 tentara untuk menangkal penjarahan dan kerusuhan antipemerintah di Kota San Cristobal, negara bagian Tachira, Venezuela, kemarin.

San Cristobal mengalami kekacauan setelah aksi protes penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pecah dan memanas. Sebagian pengunjuk rasa dilaporkan melakukan penjarahan di sejumlah toko ritel di tengah aktivitas bisnis yang lumpuh. Penjarahan dan kerusuhan masih terjadi hingga kemarin karena kurangnya personel tentara yang beroperasi.

”Saya telah memerintahkan pengiriman 2.000 personel dan 600 tentara operasi khusus ke Tachira,” ungkap Menteri Pertahanan Venezuela Padrino Lopez di saluran televisi pemerintah. Otoritas menyatakan, di Tachira ada sekitar 20 toko, restoran, dan satu sekolah yang dijarah. Dua kantor polisi dibakar dan satu pos militer pun diserang dengan bom.

Menurut warga lokal, beberapa pendemo tidak hanya menjarah barang berharga seperti barang elektronik, makanan, dan obat-obatan, tapi juga barang-barang yang dianggap sepele seperti kopi, minyak goreng hingga popok bayi. Aksi pelanggaran hukum tersebut sudah kerap terjadi sejak beberapa hari lalu saat protes memasuki fase puncak.

Akses ke beberapa titik San Cristobal juga putus akibat pemasangan blokade dari sampah, ban mobil, dan pasir di sejumlah jalan raya. Ribuan warga telah turun ke jalan raya sejak April untuk menuntut pemilihan umum presiden (pilpres), pembebasan para aktivis yang ditahan, bantuan asing, dan otonomi bagi anggota parlemen oposisi.

Pemerintah Venezuela menuduh para pendemo ingin melakukan kudeta dengan jalan kekerasan dan menyebut mereka tidak beda jauh dengan teroris. Krisis politik ini sudah banyak memakan korban. Terbaru, seorang remaja bernama Jose Fransisco Guerrero tewas ditembak mati saat melakukan penjarahan di satu toko.

”Ibuku meminta adikku (Fransisco) membeli tepung untuk makan malam. Tidak lama kemudian, kami mendapatkan kabar dia telah terluka akibat terkena peluru,” ujar Maria Contreras saat menunggu jenazah korban di rumah sakit (RS) di San Cristobal. Menurut Kantor Kejaksaan Agung, total korban tewas selama kerusuhan mencapai 43 orang.

Perusahaan minyak milik negara PDVSA menyatakan krisis politik ini juga menimbulkan krisis minyak di beberapa daerah. Dengan situasi yang kian buruk, komunitas internasional meminta Pemerintah Venezuela tidak mengambil jalan kekerasan. Hal itu diungkapkan Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Nikki Haley.

”Komunitas internasional harus menegaskan kepada Venezuela, Hormatilah hak asasi manusia (HAM) atau arahnya akan seperti yang kita lihat di Suriah, Sudan Selatan, Burundi, dan Myanmar,” ujar Haley seperti dikutip kantor berita Reuters .

Dia menambahkan, ”Kami tidak menginginkan aksi Dewan Keamanan, tapi ingin semuanya sadar mengenai situasi di sana.” Haley mendesak semua negara mengirim pesan kepada Presiden Maduro. Sebelumnya dia juga memperingatkan Venezuela bahwa mereka berada di tepi krisis kemanusiaan.

muh shamil



Berita Lainnya...