Edisi 19-05-2017
Rela Lepas Status Keluarga Kekaisaran


Putri Mako, cucu tertua Kaisar Jepang Akihito, akan menyerahkan segala status kekaisaran demi cinta. Putri Mako bertunangan dengan Kei Komuro, 25, seorang pekerja firma hukum yang pernah disebut sebagai ”Pangeran Laut” karena aktif dalam mempromosikan pariwisata Bahari Jepang.

Putri Mako, 25, bertemu dengan Kei sejak lima tahun lalu saat mereka masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Kristen Internasional di Tokyo, Jepang. Adapun proses per tunangan belum diresmikan hingga adanya pertukaran hadiah antarkeluarga kedua pasangan. Ketika ditanya soal rencana pertunangannya, Kei Komuro menolak memberi pernyataan.

”Sekarang bukan saatnya bagi saya untuk berkomentar, tapi saya ingin berbicara pada saat yang tepat,” kata Kei seperti dilansir BBC . Kei kemarin memang menjadi perhatian media Jepang karena bisa mencuri hati Putri Mako. Banyak warga Jepang juga ingin mendapatkan informasi tentang siapa sebenarnya Kei. Mereka membuka situs Fujisawa City Ocean Prince di mana Kei pernah menjadi ”Pangeran Laut”.

Hukum Kekaisaran Jepang menyebutkan bahwa seorang putri harus melepaskan status bangsawan setelah menikah dengan rakyat awam. Keputusan Putri Mako tersebut diperkirakan bakal memicu perdebatan mengenai keluarga kerajaan. Dengan begitu jumlah keluarga kekaisaran Jepang akan menyusut—saat ini berjumlah 19 orang yang 14 di antaranya berjenis kelamin perempuan. Menariknya, ada enam putri yang belum menikah.

Mereka juga akan kehilangan gelar kekaisaran jika menikah dengan orang biasa. Muncul kekhawatiran, keluarga kekaisaran Jepang tidak lagi memiliki anggota yang cukup untuk melaksanakan tugastugas publik. Putri Mako bukan keluarga kekaisaran yang pertama kali menikah dengan orang biasa.

Putri Sayako, bibi Putri Mako dan putri satusatunya Kaisar Akihito, menikah dengan orang biasa, Yoshiki Kuroda, pada 2005. Dia menjadi orang pertama dari keluarga kekaisaran Jepang yang menjadi orang biasa. Sebelumnya, pada Agustus lalu, Kaisar Akihito mengisyaratkan bakal lengser. Saat itu dia mengatakan usianya menghalanginya untuk menunaikan tugastugas.

Berdasarkan konstitusi Jepang, seorang kaisar tidak diperbolehkan memiliki kewenangan politik. Dengan demikian, apabila kaisar menyatakan secara blakblakan bahwa dia hendak lengser, hal itu akan dipandang sebagai campur tangan di ranah politik. Lagipula, tiada aturan yang secara eksplisit mengatur soal pelengseran kaisar dalam undang-undang Jepang.

Jika kaisar ingin turun takhta karena usia atau penyakit, perubahan dalam undangundang harus diwujudkan. ”Tiada perubahan dalam meneruskan langkah-langkah untuk memastikan suksesi kekaisaran yang stabil,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga sebagaimana dikutip kantor berita Reuters .

Apabila Kaisar Akihito lengser, hanya ada empat calon penerusnya dalam Takhta Seruni. Mereka adalah putra Akihito, putra mahkota Pangeran Naruhito dan Pangeran Fumihito, Pangeran Hisahito (putra Fumihito), dan adik kaisar, Pangeran Masahito.

MUH SHAMIL




Berita Lainnya...