Edisi 19-05-2017
Jam Tangan Penambah Karisma


Rolex tetaplah Rolex. Tidak ada merek jam tangan yang sebaik dan sepopuler Rolex. Mulai Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill hingga aktor James Bond bangga mengenakan jam tangan asal Swiss tersebut.

Kualitasnya yang supertinggi menjadikan jam tangan Rolex penambah karisma dan juga teman setia.S ejak awal abad ke-19 Rolex sudah dikenal sebagai jam tangan yang andal karena bandel terhadap berbagai cuaca ekstrem dan sangat akurat. Dengan demikian, tak heran jika banyak orang di dunia menghargai, mengakui, memuja, dan menyanjungnya.

Sejumlah pejabat tinggi Indonesia juga ada yang memuji kualitas jam tangan Rolex. Para pencinta jam tangan biasanya hafal dengan jenis baja khusus yang digunakan Rolex. Kenyataannya, baja stainless tidak semuanya sama, tapi terbagi ke dalam beberapa tingkatan. Mayoritas jam tangan yang ada di dunia dibuat dari baja stainless 316L. Namun, Rolex mengisolasikan diri dan lebih memilih menggunakan baja stainless 904L.

Pada 1988 Rolex merilis jam tangan pertama dari baja stainless 904L. Kelebihannya, baja untuk industri luar angkasa itu lebih keras sehingga lebih tahan terhadap karat seperti logam mulia. Baja itu juga memberikan kilauan yang memesona. Hal ini yang menentukan sekaligus mempertahankan reputasi Rolex sebagai jam tangan terbaik. Sebagian besar pabrik jam tangan tidak berani menggunakan baja stainless 904L karena lebih mahal, lebih sulit, dan lebih rumit.

Tantangan tersebut menahan mereka dari keuntungan baja stainless 904L yang sangat istimewa dan mengistimewakan. Rolex sendiri terpaksa mengganti keseluruhan alat mesin dan hanya merekrut pegawai ahli. Rolex juga memiliki Departemen Riset dan Pengembangan yang diisi para ilmuwan yang amat kompeten dan profesional di berbagai bidang.

Mereka bekerja dengan perlengkapan yang sangat baik dan lengkap. Tujuannya bukan hanya untuk meriset jam tangan baru, juga untuk menemukan teknik manufaktur yang lebih efektif dan efisien. Di laboratorium kimia misalnya, di sana terdapat beberapa gelas dan tabung yang terisi cairan dan gas yang diawasi secara ketat para ahli kimia terlatih. “Laboratorium ini digunakan untuk mengembangkan dan meriset minyak dan pelumas yang digunakan di dalam mesin pembuatan jam tangan,” kata seorang sumber Rolex, dikutip Ablogtowatch .

Rolex juga memiliki beberapa mikroskop elektron dan spektrometer gas. Para ahli mengamati setiap material dengan sangat jeli untuk menyelidiki efek apa saja yang dapat terjadi. “Yang paling menarik ialah ruangan stress test. Saya dapat menyaksikan berbagai simulasi. Semua jam tangan diuji dengan ketat,” tandas pengunjung Ariel Adam.

Meski memiliki banyak robot dan mesin otomatis lain, Rolex sebenarnya lebih banyak menggunakan cara manual dalam pembuatan jam tangan. Tugas-tugas yang diambil alih mesin hanya tugas-tugas kecil seperti pemasangan pin. Pemeriksaan kualitas juga dilakukan manual. Prosedurnya 1 jam tangan diperiksa tiga tahap sebelum dirilis. Rolex juga memproduksi emas dan platina sendiri yang jarang dilakukan pabrik jam tangan lain.

Jadi, mereka mampu memastikan kualitas dan bagian terbaik yang dijadikan sebagai bahan utama. Mereka biasanya melelehkan emas 24 karat (murni 99,95+%) menjadi emas Rolex Everose, emas kuning, atau emas putih 18 karat di atas tungku. Secara langsung, Rolex juga menjadi gudang emas. Satu batang emas Everose dibanderol sekitar USD1 juta. Atas hal itu, mereka selalu waspada dan menerapkan sistem keamanan yang superketat.

Mereka menggunakan alat pemindai sidik jari dan mata di setiap pintu. Jam tangan yang dikirim ke luar juga menggunakan truk berlapis baja. Semua jam tangan Rolex juga melalui uji ketahanan yang panjang, termasuk uji ketahanan udara dan tekanan air di kedalaman 300 meter. Setelah selesai jam tangan itu akan dipanaskan dan didinginkan di dalam air bersuhu sangat rendah untuk melihat terjadinya kondensasi.

Sensor optik lalu memindainya untuk melacak bekas dan sisa air. “Satu dari ribuan jam tangan Rolex gagal dalam uji coba ini,” tandas Adam. Rolex memerlukan waktu setahun untuk membuat satu jam tangan. Mereka rata-rata memproduksi 1 juta jam tangan per tahun. Namun, mereka tidak pernah mengambil jalan pintas karena ingin memberikan jam tangan berkelas, berkualitas, dan terbaik. Idealisme tersebut tidak bisa terlepas dari jiwa visioner pendiri Rolex, Hans Wilsdorf.

Di usia 24 tahun pada 1905, dia sudah mendirikan distribusi alat penunjuk waktu. Saat itu pula dia membayangkan pembuatan jam di pergelangan tangan. Dia yakin suatu saat jam tangan akan dapat diandalkan dan membuat pemakainya tampil elegan. Wilsdorf ingin produk jam tangannya itu memiliki nama yang pendek, mudah diucapkan, dan mudah diingat di negeri mana pun, tapi tidak kampungan.

“Saya coba mengombinasikan semua abjad dan berhasil mendapatkan ratusan nama, tapi tidak ada yang pas. Suatu pagi ada jin membisikkan kata Rolex di telinga saya,” katanya. Pada 1926 Rolex berhasil memproduksi jam tangan kedap air dan kedap debu pertama bernama Oyster. Jam tangan itu sukses diuji secara sempurna oleh seorang perenang muda Inggris Mercedes Gleitze dengan menyeberangi Kanal Inggris.

Lima tahun berikutnya Rolex mematenkan rotor perpetual yang menjadi inti jam tangan modern. Jam tangan Rolex lain juga mampu berfungsi secara sempurna di puncak Gunung Everest dan di dalam air hingga kedalaman lebih dari 10.000 meter. Harga termurah Rolex sekitar Rp55 juta (Oyster Perpetual). Secara umum, jam tangan Rolex digunakan kaum pria dan menjadi pencatat waktu resmi untuk Formula 1 sejak 2013.

muh shamil