Edisi 19-05-2017
Suksesi Bisnis Keluarga


Suksesi bisnis keluarga merupakan masalah besar jika tidak dipersiapkan dengan baik. Kitaikutbersyukurbahwadi Indonesiatelahadabeberapacontoh suksesi yang berhasil bukan saja ke generasi ke dua, tetapi ke generasi ketiga, sebut saja Bakrie, Salim Group, Sinar Mas, Lippo, GudangGaram, Djarum, Ciputra, bahkan perusahaan-perusahaan skala menengah dan kecil telah lebih dari lima generasi.

Namun, pada umumnya menurut statistik hampir 90% bisnis keluarga berakhir di generasi ketiga, tidak dapat melanjutkan ke generasi berikutnya. Tentunya ada kesalahan secara umum yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Beberapa praktik berikut disinyalir sebagai faktor kegagalan dalam melakukan suksesi bisnis keluarga ke generasi berikutnya:

a.Tidak dipersiapkan dan dibuat perencanaan. Bisnis berjalan seperti biasa, para pendiri dan pemegang saham mula-mula senangmelihatperkembanganperusahaan yang dipimpin sendiri maupun dengan beberapa orang yang menjadi pendiri, seluruh posisi kunci dipegang erat-erat. Tanpa terasa waktu berlalu dan mereka semakin tua, lemah dalam fisik, lemah dalam berpikir tapi tetap merasa diri kuat. Melihat anak-anak, sekalipun sudah berumur setengah tua, tetap saja dianggapanakyangtidakmampu menggantikan diri mereka. Akibatnya ketika harus terjadi suksesi, itu pun dilakukan terpaksa, generasi penerus menerima secara kaget, dan karena selama ini tidak diberi kesempatan, tidak tahu apa yang seharusnya diperbuat. Suksesi gagal total.

b.Membagi tanggung jawab sama rata sesuai dengan warisan. Membagi warisan kepada beberapa anak dalam bentuk saham dengan sama rata adalah sesuatu yang baik, tidak pilih kasih. Namun, jika itu disertai dengan pembagian tanggung jawab dalam manajemen akan terjadi ketimpangan jika tidak menempatkan the right person in the right position. Salah satu contoh dengan menempatkan sesuai urutan usia, yang lebih tua lebih berkuasa. Faktor kemampuan, bakat, pendidikan, dan wawasan tidak diindahkan, akibatnya kembali gagal di tengah jalan.

c.Menempatkan generasi penerus pada posisi yang tidak berpengaruh. Dengan dalih agar belajar dari bawah, maka generasi penerus ditempatkan di posisi yang tidak berpengaruh. Konsekuensinya karyawan di bagian tersebut akan cenderung hilang respek dan penuh kecurigaan dan kedua, bagi generasi penerus, di bawah sadar mereka timbul perasaan rendah diri, hal ini akan berisiko besar ketika secara mendadak dia harus mengambil alihkepemimpinanperusahaan. Tidak memiliki rasa percaya diri, berlamban-lamban dalam mengambil keputusan karena tidak mengetahui mana prioritas dan mana yang tidak.

d.Tidak dibuatkan sasaran dan gol yang jelas. Gol dan sasaran disimpan baik-baik di benak generasi pertama dan generasi kedua hanya disuruh untuk memperhatikan dan belajar dari apa yang dilakukan oleh generasi pertama. Gol dan sasaran atau objektif memang sebagian besar merupakan keinginan dan tekad generasi pertama yang dituangkan ke dalam bentuk perencanaan, strategi dan program agar diketahui oleh setidaknya posisi-posisi kunci di perusahaan. Generasi penerus seharusnya mendapat penjelasan, secara pribadi: apa, mengapa, danbagaimanagoldan sasaran dibuat dan bagaimana harusdilaksanakandanselanjutnya diingatkan bahwa gol dan sasaran tersebut akan menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk mencapainya.

e.Menyimpan sebagai rahasia exit plan (Perencanaan untuk estafet, serah tanggung jawab). Pemimpin yang berhasil bukan saja yang menunjukkan dirinya mampu dan hebat, juga dilihat apakah dia berhasil mencetak generasi penerus yang mampu minimal sama dengan dirinya, dan jika mungkin melampaui.

f.Menolak campur tangan orang luar. K arena merasa diri yang paling tahu, maka generasi pertama tabu melibatkan orang luar. Sebetulnya tersedia para konsultan yang mengerti secara manajemen dan teknik bagaimana secara mulus mempersiapkan suksesi yang berhasil.

Memang harus dicari yang cukup berpengalaman dan memiliki kompetensi. Setidaknya mereka dapat diajak untuk tukar pikiran dalam mempersiapkan suksesi. Dari gambaran di atas, kita dapat melihat bahwa suksesi yang berhasil cukup sulit karena itu perlu dipersiapkan sebaik-baiknyakarenagagalmempersiapkan suksesi merupakan faktor utama kegagalan bagi kelanjutan perusahaan.

Berikut merupakan langkah-langkah yang dapat membantu dalam hal tersebut:

Pertama, berikan kesempatan kepada generasi penerus untuk menerima pendidikan yang dibutuhkan dalam kaitan dengan perusahaan. Selain ilmu pengetahuan sesuai bidang yang menjadi bakat dan obsesinya, juga ilmu manajemen dan kepemimpinan. Baik pendidikan formal di universitas terkemuka maupun informal seperti seminar dan lokakarya.

Kedua, diberitahukan dengan jelas dan terus terang apa yang diinginkan dari generasi penerus dan kapan diharapkan suksesi dapat berlangsung agar mereka berbesar hati dan siap menerima tanggung jawab pada waktunya sesuai target waktu yang ditetapkan.

Ketiga, menempatkan generasi penerus di posisi-posisi yang berdampak luas dan berpengaruh besar dengan memulai sebagai asisten kemudian menjadi wakil kepala bagian atau pemimpin divisi atau pemimpin unit. Ditargetkan kepada kepala bagian atau pemimpin divisi atau unit yang bersangkutan untuk memberikan on the job training yang efektif, menjadikan mereka mentor.

Keempat, mengikutsertakan generasi penerus dalam rapat-rapat penting dalam perencanaan, strategi, pengambilan keputusan sekalipunsebagaipengamat.

Kelima, dengan berjalannya waktu dan semakin lengkapnya pengetahuan dan pengalaman generasi penerus, secara resmi dapat diberikan tanggung jawab yang lebih besar dan penyerahan bertahap sementara generasi pertama bertindak sebagai mentor sampai penuh menjadi tanggung jawab generasi penerus ketika generasi pertama atau generasi sebelumnya melepas dan meninggalkan perusahaan.

DR. ELIEZER H. HARDJO PH.D., CM

Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) & The Institute of Certified Professional Managers (ICPM)