Edisi 19-05-2017
Etalase Pemain Bernama AS Monaco


MONACO– Sudah 17 tahun sejak terakhir kali Monaco menjadi juara Ligue 1. Penantian itu berakhir setelah Monaco mengandaskan perlawanan Saint Etienne dua gol tanpa balas di Stadion Louis II, Monaco, Kamis (18/5).

Gol Kylian Mbappe pada menit ke-19 dan Valere Germain (90) menjadi penentu digelarnya pesta pasukan Leonardo Jardim di depan pendukung sendiri. Monaco menjadi antitesis dari fenomena gelimang uang di sepak bola, di mana uang tidak selalu menjadi garansi sebuah tim meraih prestasi. Betul, manajemen Les Monegasques pernah membuat kejutan saat promosi ke Ligue 1 dengan membelanjakan uang 140 juta poundsterling dalam satu musim kompetisi.

Jor-joranuang tersebut dimulai pada Desember 2011 saat pengusaha kaya raya asal Rusia Dmitry Rybolovlev menjadi penguasa baru dengan 66,67% ketika Monaco masih di Ligue 2. Masuknya Rybolovlev langsung mengubah peruntungan tim. Setelah beberapa pergantian pelatih Rybolovlev kemudian menunjuk Claudio Ranieri dan berhasil membawa Monaco juara Ligue 2 serta promosi ke Ligue 1 pada musim 2012/2013.

Di Ligue 1, Rybolovlev berusaha meniru apa yang dilakukan Roman Abramovich di Chelsea. Pada musim pertama klub yang berusia 92 tahun itu mengeluarkan dana 140 juta poundsterling untuk mendatangkan pemain. Angka terbesar (50 juta poundsterling) digunakan memboyong Radamel Falcao dari Atletico Madrid.

Gelontoran uang tersebut cukup membuat Monaco menjadi perbincangan karena langsung masuk persaingan gelar juara. Tapi, di akhir musim, mereka gagal juara karena di bawah Paris Saint Germain (PSG) . Tapi, langkah empat tahun lalu itu, adalah masa lalu. Monaco menyadari membeli pemain untuk mengejar prestasi bukanlah sebuah investasi menjanjikan.

Dipimpin Wakil Presiden sekaligus CEO Vadim Vasilyev, Monaco mengubah cara pikir. Belanja pemain bukan pilihan tepat. Apalagi, AS Monaco berada di negara dengan populasi di bawah 40.000 dan kapasitas stadion kurang dari 19.000 penonton. Dengan pangsa pasar yang tidak besar, Vasilyev yang pernah menjadi diplomat Rusia itu langsung mengubah haluan.

”Kami memahami kekuatan dan kelemahan kami,” katanya dalam sebuah kesempatan. Selanjutnya Vasilyev melakukan investasi di akademi. Mereka memilih membesarkan akademi La Turbie dengan mendatangkan pemain muda. Apalagi, La Turbie sudah melahirkan banyak pemain besar, ada Lilian Thuram, Emmanuel Petit, dan Thierry Henry.

Romantisme inilah yang coba dibangkitkan. Hasilnya, Monaco tidak saja mampu menghemat belanja pemain, tapi juga menghasilkan keuntungan bersih USD87 juta dari transfer. Bandingkan dengan PSG yang mengalami kerugian sebesar USD192 juta pada transfer pada periode yang sama. ”Tim ini sangat luar biasa, penuh talenta dan memiliki spirit yang baik, dipimpin pelatih bagus. Ini adalah kerja dari seluruh tim, termasuk staf dan suporter.

Empat setengah tahun lalu kita di Ligue 2 dan sekarang juara Prancis,” kata Raja Monaco Prince Albert II. Monaco kini layaknya etalase pemain muda potensial yang menjadi buruan klub besar. Paling santer disebut adalah Kylian Mbappe. Dia adalah talenta muda yang paling banyak dibicarakan di Eropa,dan menjadi pemain muda terbaik Ligue 1.

Nama lain Thomas Lemar yang baru berusia 21 tahun tapi sudah memikat Barcelona. Mengoleksi 14 gol musim ini, Lemar tidak saja bagus dari sisi teknis, tapi juga memiliki kecepatan dan cerdas dalam membaca permainan. Ada juga Bernardo Silva. Berusia 22 tahun, Silva adalah seorang playmaker, pencetak gol, dan pemain sayap yang membuat dia terlihat sempurna. Silva merupakan ancaman di mana pun dia menerima bola.

Ketika menempati posisi gelandang serang, dia menjadi nomor 10 yang membidik sekaligus menjadi pengumpan matang untuk menopang Radamel Falcao dan Mbappe. Sementara Tiemoue Bakayoko merupakan gelandang jangkar yang baru berusia 22 tahun, tapi sangat baik dalam membaca permainan. Kemampuan tersebut membuatnya menjadi fondasi awal dalam alur serangan tim saat mendapatkan bola dan menjadi pengganggu pertama ketika mendapat tekanan.

ma’ruf