Edisi 19-05-2017
Terapi Diabetes Terbaru


PASIEN diabetes melitus (DM) berisiko tinggi terkena komplikasi hingga kematian. Terapi terbaru obat diabetes penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor) terbukti mengurangi tingkat rawat inap akibat gagal jantung dan kematian hingga setengahnya.

Di seluruh dunia, diabetes memengaruhi kehidupan sekitar 415 juta orang dewasa. Angka tersebut diperkirakan akan naik hingga 642 juta pada 2040 (1 dari 10 orang dewasa). Prof DR Dr Idrus Alwi SpPDKKV, spesialis penyakit dalam dan konsultan kardiovaskular, menyampaikan, pada 2015 ada sekitar 10 juta orang dengan penyakit diabetes di Indonesia.

"Pada 2040, angka tersebut diperkirakan naik hingga 16,2 juta," ungkap dr Idrus pada Diskusi Media AstraZeneca: Studi tentang Komplikasi Penyakit Kardiovaskular (CVD) pada Pasien Diabetes atau DM Tipe 2 di Jakarta belum lama ini. Angka ini tentu sangat menakutkan dalam hal kesehatan masyarakat di Indonesia. Terlebih, pasien diabetes tidak lepas dari berbagai peluang terkena komplikasi yang mengancam jiwa.

Pasien diabetes bukan hanya harus berjuang dengan penyakitnya, melainkan juga harus berhadapan dengan risiko komplikasi yang relatif tinggi. Pasien dengan DM tipe 2, misalnya, memiliki risiko 2–3 kali lebih besar terkena gagal jantung dan serangan jantung atau stroke dan sekitar 50% dari angka kematian pada para pasien dengan DM tipe 2 disebabkan komplikasi penyakit kardiovaskular.

Tidak dimungkiri, diabetes adalah epidemik yang terus meluas di dunia. Hal ini berkaitan dengan komorbiditas signifikan yang berkontribusi pada tingkat rawat inap yang sangat mahal, bahkan berujung pada kematian. Namun, dengan kemajuan teknologi di bidang farmasi, berbagai ancaman kesehatan pada pasien diabetes, khususnya akibat komplikasi penyakit jantung sampai risiko kematian, dapat ditekan.

Terapi Obat Baru Harapan Pasien DM Tipe 2

Hal ini telah dibuktikan lewat terapi terbaru obat diabetes, penghambat SGLT- 2 (SGLT-2 inhibitor). Studi real-world (nyata) skala besar pertama telah dilakukan untuk mengevaluasi tingkat rawat inap karena gagal jantung dan kematian oleh berbagai penyebab pada pasien dengan DM tipe-2 yang menerima perawatan dengan terapi obat terkini tersebut.

Dr Andi Marsali, Head of Medical Department AstraZeneca Indonesia, mengatakan, AstraZeneca adalah perusahaan yang melandaskan semua riset dan pengembangannya untuk meningkatkan hasil (outcome) dari manajemen pasien, terutama pasien DM tipe 2.

Hal ini termasuk studi CVD-Real yang diprakarsai AstraZeneca. "Studi ini bertujuan mengetahui dan membuktikan bahwa pemberian obat kelas terapi terbaru penghambat SGLT2 dapat menurunkan angka rawat di rumah sakit akibat gagal jantung dan kematian akibat berbagai sebab hingga separuhnya," urai dr Andi.

Studi CVD-Real menganalisis data yang diperoleh dari lebih 300.000 pasien di enam negara, di mana 87% di antaranya tidak memiliki riwayat komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah (CVD).

Data tersebut menunjukkan bahwa populasi data pasien dengan DM tipe 2 yang luas dan telah menerima pengobatan penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor) dapat menurunkan tingkat rawat inap hingga 39% (p<0.001) dan angka kematian karena berbagai penyebab hingga 51% (p<0.001). Sedangkan, untuk hasil gabungan dari rawat inap karena gagal jantung dan kematian karena berbagai penyebab, angka penurunan tercatat 46% (p<0.001).

Data dari hasil studi real-world (nyata), ini memberikan bukti bahwa kelas terapi terbaru dari obat diabetes, penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor) dapat mengurangi tingkat rawat inap akibat gagal jantung dan kematian hingga setengahnya.

CVD-Real merupakan studi pertama yang mengobservasi efek dari perawatan dengan SGLT-2 inhibitor pada grup pasien DM tipe 2 yang lebih besar, dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan grup pasien lain yang pernah dievaluasi pada uji klinis.

CVD-Real adalah studi skala besar pertama yang memantau efek pengobatan penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor) pada grup pasien DM tipe 2 yang lebih luas, yaitu pada mereka yang belum terkena komplikasi CVD, tetapi berisiko mengalaminya dibandingkan dengan evaluasi sebelumnya dalam uji klinis (clinical trials), di mana pasiennya sudah dengan komplikasi CVD.

sri noviarni