Edisi 19-05-2017
Wisata Kiwi di Selandia Baru


LEBIH dari sekadar buah, kiwi dipandang sebagai komoditas ekspor bernilai tinggi, inovasi, dan di atas itu keberlangsungan hidup masyarakatnya yang menyandarkan ekonomi pada buah asal China ini.

Tidak berlebihan kiranya pernyataan tersebut jika Anda melihat langsung cara Selandia Baru menangani kiwi. KORAN SINDO berkesempatan mengunjungi negara dengan penduduk sekitar 4,6 juta jiwa tersebut belum lama ini atas undangan Kiwi Zespri. Beruntung cuaca cukup bersahabat, meski di awal kedatangan hujan menyambut kami.

Hari berikutnya matahari menampakkan sinar dan membuat langit Selandia Baru biru memukau dengan suhu 25 derajat Celsius. Bagi Anda yang belum tahu, buah kiwi aslinya berasal dari China. “Buah ini dibawa oleh Isabel Fraser pada 1904 ke Selandia Baru.

Penduduk setempat menamakannya Chinese gooseberries dan mulai dibudidayakan sejak itu,” kata Oliver Broad, Communication Manager Zespri International di kantor Zespri, Mount Maunganui, Tauranga. Alhasil, pada 1952 dimulailah pengapalan komersial perdana buah ini seberat 13 ton ke Inggris. Tujuh tahun kemudian barulah buah ini resmi dinamakan kiwi, penamaannya mengacu pada burung kiwi yang menjadi ikon negara ini.

Kini ribuan penanam kiwi berhimpun di dalam Zespri yang merupakan organisasi para petani penanam buah kiwi. Mereka lantas memasarkan kiwi dengan merek tersebut, yang sebelumnya industri buah kiwi ini dipegang oleh pemerintah. Tak main-main, kue ekspor negara ini 50 persennya disumbang dari buah kiwi dengan pendapatan menembus angka 1,33 juta miliar dolar Selandia Baru pada 2016 dan terus tumbuh.

Produksi kiwi negara dengan dua pulau North dan South Island ini mencapai 489.000 ton per tahun, dengan 2.540 petani kiwi dan 12.500 hektare produksi kiwi. Juga 1.300 petani kiwi di luar negeri dengan produksi kiwi gold seluas 2.000 hektare. Ya, selain ditanam di Selandia Baru, kiwi Zespri juga ditanam di negara lain seperti Italia, Prancis, dan Korea Selatan.

Buah kiwi Zespri Green dijadikan tolok ukur standar dari buah kiwi. Jenis ini memiliki campuran rasa manis dan asam, bentuknya oval, dengan kulit cokelat berbulu halus. Buah kiwi Zespri green ditanam dengan metode konvensional dan organik, dan tersedia di wilayah Asia Tenggara pada bulan Mei hingga Desember. Sebelum diekspor, kiwi yang ditanam harus menjalani serangkaian seleksi ketat demi memenuhi standar kualitas yang diberlakukan.

Caranya, satu area perkebunan diambil 90 sampel untuk diuji. Pengujian meliputi kekokohan buah (firmness ), kadar gula dan keasaman yang dikandung hingga warnanya. Pengecekan warna ini (hue angle ) khusus sungold . Seluruh pengujian dilakukan pihak ketiga agar hasilnya objektif. Ada semacam lembaga khusus untuk mengontrol kualitas buahbuahan yang akan diekspor.

Eurofins namanya, berada di Tetley Road Katikati, kira-kira setengah jam dari Tauranga. Seluruh kiwi yang ditanam oleh para grower /penanam di Selandia Baru akan melewati proses seleksi (screening ) dulu sebelum akhirnya dipanen. Karyawan yang bekerja di tempat ini bukan hanya dari penduduk lokal, banyak di antaranya orang asing berbekal visa untuk bekerja (working visa ) guna menjawab minimnya tenaga kerja.

Tak mengherankan beberapa lansia pun tampak ambil bagian menguji sederet nampan potongan kiwi, untuk menutup biaya hidup yang tak bisa dibilang murah di negeri itu. Eurofins juga menguji buah lain seperti alpukat. Sebetulnya Eurofins adalah tempat pengujian kedua kiwi yang akan diekspor. Sebelumnya pihak Zespri telah menguji kiwi-kiwi itu seperti yang dilakukan di Pack House- Aongatete Coolstores-tak jauh dari Eurofins.

Di Pack House itu kiwi-kiwi yang sudah lulus uji akan dikemas dan disimpan di ruang khusus agar kiwi tetap dalam keadaan segar, sebelum akhirnya diterbangkan ke berbagai belahan dunia. Hal yang sangat menarik, meski telah melewati serangkaian tes, di tempat ini kiwi akan disortir lagi. Buah yang memiliki gores kehitaman ataupun bentuknya dinilai tidak bagus akan berujung di keranjang besar yang berisi kiwi yang ditolak (rejected ).

Bahkan kiwi yang dalam proses pengemasan tak sengaja jatuh pun juga langsung masuk ke keranjang afkir, meski rasanya tak berpengaruh. Pantauan KORAN SINDO , buahbuahan lokal di beberapa supermarket yang tersedia penampilannya tidak sebagus yang diekspor. Toh , hal ini tidak menyurutkan niat para konsumen untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yang mereka perlukan dengan buahbuahan yang ada.

sri noviarni