Edisi 19-05-2017
Bisa Sebabkan Komplikasi


KEBANYAKAN pasien diabetes umumnya tidak meninggal akibat penyakit tersebut, tetapi justru karena komplikasi yang melanda. Seperti dijelaskan Prof Dr Idrus Alwi SpPD, sekitar 60%-75% kematian pasien disebabkan komplikasi penyakit.

“Angka kematian yang paling tinggi pada orang diabetes bukan karena (kadar) gula darahnya, juga bukan karena penyakit ginjal, komplikasi mata, melainkan karena penyakit kardiovaskular,” kata Prof Idrus dalam acara Diskusi Media AstraZeneca: Studi tentang Komplikasi Penyakit Kardiovaskular (CVD) pada Pasien Diabetes atau DM Tipe 2 di Jakarta.

Dari data Centers for Disease Control (CDC), ujar Idrus, pasien diabetes melitus tipe 2 berisiko mengalami stroke, gagal jantung, dan penyakit jantung koroner (PJK). Namun, dengan ditemukannya terapi obat diabetes terbaru, pasien diabetes dapat menaruh harapan pada obat tersebut, yakni terapi obat diabetes penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor ), yang terbukti dapat mengurangi tingkat rawat inap akibat gagal jantung dan kematian hingga setengahnya.

Studi skala besar pertama telah dilakukan untuk mengevaluasi tingkat rawat inap karena gagal jantung dan kematian oleh berbagai penyebab pada pasien dengan DM tipe 2 yang menerima perawatan dengan terapi obat terkini tersebut.

Lebih jauh, analisis akan tingkat rawat inap karena gagal jantung diterapkan dengan menggunakan data pasien yang dirahasiakan yang berasal dari Denmark, Jerman, Norwegia, Swedia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Dari seluruh data yang dianalisis, 41,8% pasien menerima obat dapagliflozin, 52,7% menerima obat canagliflozin, dan 5,5% menerima obat empagliflozin.

Dapagliflozin saat ini merupakan satu-satunya penghambat SGLT2 yang telah dipasarkan di Indonesia. Sementara analisis pada angka kematian oleh berbagai penyebab diterapkan dengan menggunakan data pasien yang juga dirahasiakan, yang berasal dari Denmark, Norwegia, Swedia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.

Dari seluruh data yang dianalisis, 51,0% pasien mendapat obat Forxiga (dapagliflozin), 42,3% mendapat canagliflozin, dan 6,7% mendapat empagliflozin. Analisis ini adalah yang pertama dari beberapa analisis komparatif CVD-Real. Analisis ini masih terus dikembangkan dan berikutnya akan diterapkan dengan set data yang telah ada, sekaligus data dari negara-negara tambahan.

(sri noviarni)