Edisi 19-05-2017
Mengelola Hipertensi


HIPERTENSI selama ini diketahui sebagai salah satu faktor risiko yang menjadi penyebab gangguan otak, jantung, dan ginjal.

Selain pola hidup yang sehat, peran aktif dalam memonitor tekanan darah merupakan cara efektif untuk mengelola hipertensi dan mengidentifikasi gejala penyakit, terutama hipertensi, sedini mungkin. Hipertensi dikenal sebagai silent killer , penyakit yang menyebabkan kematian, tetapi hampir tidak menunjukkan gejala apa pun.

Dokter Yayasan Jantung Indonesia dr Siska Suridanda Danny SpJP FIHA mengatakan, hipertensi sebagian besar tanpa gejala dan sering baru terjadi keluhan setelah terdapat komplikasi dan gangguan organ lain, seperti sakit kepala hebat, rasa lelah berkepanjangan, gangguan penglihatan, sesak napas, nyeri dada, berdebar-debar, dan sangat diperlukan kewaspadaan dan pemeriksaan berkala.

“Hipertensi tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan domisili (perkotaan maupun desa). Hipertensi menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah. Jika hipertensi tidak terkendali, akan memicu stroke dan serangan jantung karena terjadi kerusakan pada pembuluh darah di otak dan jantung. Hipertensi dapat pula berdampak pada organ penting lainnya, seperti ginjal dan mata.

Hipertensi juga mengancam ibu hamil dan bayi dalam kandungan,” ucap dr Siska dalam Konferensi Pers Memperingati Hari Hipertensi Sedunia bersama Yayasan Jantung Indonesia dan Omron Healtcare Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Namun, dia menegaskan, hipertensi dapat dikendalikan dengan memperhatikan berat badan melalui olahraga teratur, mengurangi konsumsi garam, serta beristirahat yang cukup.

“Yang paling penting, mengukur tekanan darah secara rutin sebagai deteksi dini. Pada umumnya tekanan darah normal adalah 120/80 mm Hg. Selain itu, gaya hidup masyarakat harus diubah menjadi pola hidup sehat,” ucap dr Siska.

Menurutnya, pemantauan tekanan darah harus dilakukan setiap dua tahun untuk orang-orang berusia di bawah 20 tahun yang tidak menunjukkan gejala-gejala di atas dan sekali setahun untuk kategori orang-orang di atas usia 40 tahun, teridentifikasi memiliki tekanan darah normal-tinggi (130-139/80-89 mmHg) dan memiliki faktor-faktor risiko kardiovaskular lain, misalnya diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, dan faktor keturunan.

“Pemantauan tekanan darah secara mandiri merupakan salah satu cara yang tepat dalam mengelola hipertensi. Ini membantu pasien dan dokter menjadi mitra yang baik dalam merencanakan pengelolaan hipertensi yang baik,” ujar dr Siska. Mengenai mengukur tekanan darah mandiri, dr Siska menjelaskan bahwa tujuan pengukuran tekanan darah mandiri tersebut untuk mengonfirmasi diagnosis, memonitor terapi, dan memperbaiki compliance atau ketaatan akan minum obat dan terapi.

“Cara pengukuran tekanan darah posisi duduk bersandar dan rileks, lengan diposisikan di meja, dengan ketinggian selevel dengan posisi jantung, gunakan manset dengan ukuran yang sesuai, posisi batas manset sekitar 2,5 cm di atas siku. Ukur tekanan darah setiap hari selama 3-4 hari, idealnya tujuh hari.

Lakukan setiap pagi dan malam hari, ambil 2-3 pengukuran setiap harinya dan catat rata-rata, lalu lakukan di ruang yang tenang dan dalam posisi duduk yang baik. Sekitar 15 menit Sebelum diperiksa, sebaiknya tidak boleh merokok, minum alkohol, dan mengonsumsi kafein seperti kopi, minuman bersoda, dan minuman berenergi,” beber dr Siska.

Sementara itu Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia Syahlina Zuhal menjelaskan, hipertensi adalah salah satu penyakit yang diam-diam membunuh (silent killer) di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit minim gejala ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi.

“Masyarakat perlu menyadari bahaya penyakit hipertensi dan cara mencegahnya seperti memantau tekanan darah secara rutin di rumah sakit atau dilakukan sendiri di rumah. Kami selalu menganjurkan masyarakat menerapkan Panca Usaha Jantung Sehat, yaitu seimbangkan gizi, enyahkan rokok, hadapi dan atasi stres, awasi tekanan darah, dan teratur berolahraga,” papar Syahlina.

iman firmansyah