Edisi 19-05-2017
Eksploitasi Pariwisata Picu Kerusakan


GUNUNGKIDUL – Upaya pemanfaatan pariwisata yang menggunakan sumber daya alam perlu dijaga kelestariannya. Eksploitasi pariwisata yang berlebihan dan tidak memikirkan keberlanjutan akan merusak alam.

Pemerhati wisata dari UGM Chafid Fadeli mengungkapkan, potensi pariwisata di Gunungkidul yang berbasis alam sangat luar biasa. Kendati demikian, pemanfaatan wisata bisa dilakukan untuk kesejahteraan dengan tidak memicu kerusakan alam. “Potensi wisata alam di Gunungkidul bak dua sisi mata uang. Satu sisi pemanfaatannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tapi sisi lain bisa memicu kerusakan alam jika tidak dikelola dengan baik,” ungkapnya dalam talkshow gotong royong Gunung Sewu UNESCO Global Geopark di Desa Ekowisata Pampang, Kecamatan Paliyan, kemarin.

Dijelaskannya, potensi pariwisata yang melimpah harus benar-benar diatur dengan baik. Selain itu, dia juga mengingatkan supaya dalam pengelolaan wisata alam tetap mengedepankan keberlanjutan atau kelestarian alam. “Anugerah potensi alam yang luar biasa dari Tuhan, harus dimanfaatkan dengan cara yang tidak merusak alam,” ucapnya. Dia menambahkan, salah satu indikator pengembangan wisata alam tanpa merusak lingkungan adalah pengelolaan berbasis konservasi. Artinya, pengembangan pariwisata tetap dilakukan dengan perlindungan serta pelestarian alam. “Ekowisata Pampang ini harus bisa menjadi salah satu contoh pengelolaan wisata berbasis konservasi. Ide pengelola yang melarang memaku pohon merupakan ide menarik,” ujarnya.

Dia yakin, dari hal-hal kecil bisa dilakukan untuk kelestarian alam ini dan ke depan bisa dilakukan seluruh masyarakat Gunungkidul di tengah upaya pengembangan wisata alam. “Saat iniGunungkidulyangjugabagian dari Geopark Gunungsewu sudahmasukdalamGlobalGeopark Network (GGN). Tinggal bagaimana masyarakat dana pemkab mengeloladenganbaik,” katanya. Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Harry Sukomono mengaku tengah menyusun kajian untuk rancangan peraturan daerah tentang pariwisata. Perda itu nanti mengatur lebih detail dan spesifik mengenai pengelolaan wisata, termasuk pengelolaan wisata ramah lingkungan. “Tema kawasan wisata akan sesuai dengan peruntukannya,” katanya.

Dia menyebutkan enam kawasan yang dimaksud, yaitu PantaiNgobarandansekitarnyaakan menjadi kawasan wisata berbasis budaya dan ritual keagamaan. Kawasan pantai khusus untuk pengolahan hasil laut, kawasan pantai dengan daya tarik konservasi dan pengetahuan. Selain itu, juga Kecamatan Patuk dan Playen untuk kawasan wisata alam pegunungan dengan berbasis konservasi dan edukasi. Kemudian kawasan karst yang menawarkan wisata petualangan. Terakhir, kata dia, kawasan wisata alam di wilayah Kecamatan Gedangsari yang menjadi kawasan wisata berbasis pemberdayaan masyarakat.

Suharjono

Berita Lainnya...