Edisi 19-05-2017
“Pesta” Kelulusan 6 Santri Tewas


GRESIK – Kegiatan outbound yang diselenggarakan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin, Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, memakan korban. Enam santri pondok itu tewas tenggelam di kolam bekas galian tambang kapur di belakang pondok.

Sesuai dengan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, kegiatan outbond ini diselenggarakan sebagai “pesta” setelah para santri menyelesaikan ujian kelulusan. Sebanyak 265 santri kelas IX MTs Mambaus Sholihin diwajibkan mengikuti kegiatan ini sebelum wisuda yang direncanakan pada Sabtu besok, 20 Mei 2017. Kegiatan ini dipandu dan dikoordinatori Ustaz Ghofur, salah satu pengajar MTs Mambaus Sholihin. Para peserta terbagi dalam delapan grup atau rombongan sesuai dengan jumlah kelas. Mereka harus melalui empat pos yang disiapkan panitia.

Sekitar pukul 07.00 WIB kemarin, rombongan pertama berjumlah 34 santri kelas IX C mendapat giliran pertama diberangkatkan dari Pos I yang berlokasi di kompleks pondok putra. Setelah melalui Pos II dan Pos III yang masih berada di lingkungan pondok, rombongan pertama ini bergerak menuju Pos IV yang berlokasi di bekas kawasan pertambangan, tepatnya tiga meter di belakang pondok putri. Didampingi dua guru, yaitu M Habibullah dan Sudarsono, tibalah rombongan 34 santri ini di Pos IV, kawasan yang dikenal dengan sebutan makam Kidang Kuning. Di lokasi ini terdapat beberapa kolam (lubang bekas galian tambang kapur yang terisi air hujan) dengan kedalaman sekitar 2-3 meter. Entah apa yang terjadi, empat santri dari rombongan ini tiba-tiba tercebur ke dalam kolam.

Spontan para santri berteriak meminta tolong lalu tidak muncul lagi ke permukaan. Melihat ini tiga siswa lain menceburkan diri ke dalam kolam untuk menolong, tapi ketiganya ternyata juga tidak menyembul lagi ke permukaan kolam setelah 10 menit. Saat itulah sekitar pukul 09.40, tiga guru MTs Mambaus Sholihin, yaitu Ustaz Rofik, Hadi, dan Gufron datang ke lokasi. Ketiganya langsung menceburkan diri ke kolam dan berupaya menolong ketujuh santri. Lebih dari 20 menit kemudian lima santri ditemukan.

“Tiga guru tersebut menemukan lima santri dalam kondisi lemas dan sudah tidak bernyawa. Mereka dibawa ke pondok,” ungkap ujar Kanit Reskrim Polsek Manyar, Polres Gresik, Ipda Yoyok Mardi P kepada wartawan, kemarin. Sekitar lima menit kemudian, dua santri lain juga ditemukan. Seorang santri bernama M Royi Amanullah Rusydi sudah meninggal, sedangkan satu santri lagi bernama Efendi masih bernapas. Setelah dibawa ke RS Petrokimia Gresik, Efendi dirujuk ke RS Semen Gresik. Mengenai penyebab tenggelamnya para santri ini, Ipda Yoyok menyebutkan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi untuk sementara peristiwa ini terjadi setelah para santri peserta outbound bergurau dan dorong mendorong ketika tiba di Pos IV sekitar kolam.

“Kami mendapat informasi, ketika di telaga para santri sudah diingatkan agar tidak bergurau karena jalan-jalan setapak masih licin. Tapi mereka rupanya peringatan itu tidak dihiraukan. Ada yang bermain dorongdorongan dan akhirnya tercebur,” ujar Ipda Yoyok. Kanit Tipiter Polres Gresik Iptu Agung Joko Haryono menyatakan, berdasarkan informasi dan data yang diperoleh ada 265 santri yang ikut dalam kegiatan outbound ini. Para korban sudah dilakukan visum luar dan dalam dan tempat kejadian perkara pun sudah disterilkan dengan garis polisi. “Kedalaman danau itu sekitar dua meter. Untukkronologispastinya kami belum tahu. Saat ini petugas masih melakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata dia.

Agung menyatakan meminta kepada pihak sekolah maupun pondok segera membuat laporan terkait kejadian tersebut. Para korban akan dibawa ke rumah duka setelah semua prosedur selesai. “Kami masih dalami dan periksa saksi- saksi,” katanya.

Sempat Disembunyikan

Orang tua para santri mengaku tidak tahu adanya kegiatan outbound tersebut. Mereka hanya tahu ada undangan wisuda pada Sabtu, 20 Mei 2017. “Tadi ada orang tua yang kaget kejadian itu. Mereka tidak tahu ada kegiatan outbound karena justru mereka diminta hadir ke pondok saat wisuda,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik Abu Hasan yang mendampingi para korban kemarin. Bahkan peristiwa outbound mautinisempat disembunyikan pengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin. “Awalnya memang pihak pondok sedikit tertutup. Tetapi akhirnya, kami beri pengertian akhirnya mulai terbuka kepada kami. Karena ini demi penyidikan yang kami lakukan,” ujar Kanit Tipiter Reskrim Polres Gresik Iptu Agung Joko Haryono.

Namun, saat coba dikonfirmasi sejumlah wartawan, pihak ponpes juga berusaha menghindar dengan alasan pengasuh pondok KH Masbuhin Faqih dalam kondisi sakit. “Kami khawatir Pak Yai (KH Masbuhin Faqih) kaget. Saat ini beliau sedang sakit-sakitan. Kalau tahun kami khawatir makin sakit. Apalagi selama ini kegiatan outbound maupun pramuka atau kegiatan yang sifatnya outbound ke luar pondok sangat dilarang,” ujar Ahmad Nadilah, salah satu keluarga Ponpes Mambaus Sholihin. Dia mengakui, pihak ponpes merasa kecolongan atas kejadian ini. Dia bahkan menduga kegiatan outbound ini dilaksanakan tanpa dikonsultasikan dengan pengasuh.

Menurut dia, pengasuh ponpes selama ini sudah melarang kegiatan di luar kawasan pondok demi untuk mengamankan keselamatan santri. “Sudah lama tidak ada kegiatan ke luar pondok. Tapi kok kali ada kegiatan. Kalau tahu pasti tidak boleh,” kata Nadilah. Sementara berita duka tewasnya enam santri Ponpes Mambaus Sholihin dengan cepat menyebar melalui media sosial dan menjadi perhatian sejumlah pejabat penting di Kabupaten Gresik pun mendatangi lokasi kejadian. Setelah Kapolres Gresik AKBP Boro Windu Danandito dan Camat Manyar Abdul Hakam, Kepala BPBD Gresik Abu Hasan dan Wabup Gresik M Qosim pun kunjungan ke kamar mayat RSUD Ibnu Sina.

Bupati Sambari Halim Radianto pun tak ketinggalan meninjau telaga bekas galian tambang di Desa Suci, Kecamatan Manyar, tempat tenggelamnya para santri yang juga menjadi lokasi sumur pengeboran minyak Lengowangi II oleh JOB PPEJ tersebut.

Ashadi ik

Berita Lainnya...