Edisi 19-05-2017
Potensi Aksi Teror Semakin Sporadis


MALANG – Indonesia masih berada dalam ancaman terorisme. Kembalinya sejumlah warga Indonesia setelah ikut berperang di Suriah harus diwaspadai.

Untuk menekan gerakan mereka, dilakukan dengan latihan rutin penanggulangan teror seperti digelar di Markas Batalyon B Pelopor Brimob Polda Jawa Timur, Malang kemarin. Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Torik Triono menjelaskan, latihan tersebut melibatkan satuan- satuan Polri dan TNI, di bawah komando BNPT. Hal ini penting untuk meningkatkan kemampuan pasukan dalam melaksanakan penindakan terhadap pelaku teror.

“Kami lakukan pengecekan persenjataan, dan latihan bersama,” ujarnya. Seluruh wilayah di Indonesia rentan terjadi serangan teror. Kepulangan warga Indonesia dari Suriah harus menjadi perhatian khusus karena berpotensi mengembangkan gerakan radikalnya di berbagai wilayah di Indonesia. Dari 900 orang yang berangkat ke Suriah, BNPT mencatat 74 di antaranya telah kembali ke Indonesia. “Ada juga yang tidak pulang, tetapi memilih membangun gerakan di wilayah Filipina Selatan,” ujar Torik. Kendati tidak pulang, pergeseran para alumni perang Suriah ke wilayah selatan Filipina tetap harus diwaspadai juga.

Wilayah perbatasan Indonesia- Filipina merupakan jalur rentan untuk suplai persenjataan. “Kami terus melakukan kegiatan deradikalisasi dan pengawasan terhadap WNI yang pulang dari Suriah,” kata Torik. Sementara itu, pasukan Batalion B Pelopor, Brimob Polda Jawa Timur, juga menyiagakan pasukan antara lain Unit pasukan Perlawanan Teror (Wanteror), dan Penjinak Bom (Jibom). Komandan Batalion B Pelopor AKBP Sunadi menyatakan, saat ini pasukannya bersiaga penuh karena garis komando kelompok teror yang ada saat ini semakin tidak jelas. Mereka terbagi dalam sel-sel kecil dan lebih banyak berafiliasi kepada Islamic State of Iraq-Syiria (ISIS).

“Mereka berusaha melakukan aksi teror dengan sporadis. Baik menggunakan bom maupun serangan langsung dengan senjata api,” ungkapnya. Melihat situasi yang semakin rumit, deteksi dini yang paling efektif lewat peningkatan kewaspadaan masyarakat, terutama saat menghadapi harihari penting seperti libur panjang, atau peringatan hari raya keagamaan. Selain itu, para anggota Satuan Polisi Lalulintas (Satlantas), Polsek, dan Polres di Malang Raya, yang bertugas di jalan raya, dan tempat umum pun diberikan bekal latihan khusus. Latihan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggota Polri di lapangan saat menghadapi aksi teror.

Komandan Kompi I Batalyon B Pelopor, Satuan Brimob Polda Jawa Timur, Iptu Darmono mengaku pasukannya melakukan patroli wilayah secara rutin untuk mendukung pengamanan yang dilakukan jajaran polres di Malang Raya. “Patroli kami laksanakan malam hari, meliputi wilayah rawan, dan objek vital,” ujar Darmono. Pasukan yang bertugas melakukan patroli keamanan wilayah ini menggunakan sepeda motor, dengan kekuatan masing-masing unit sebanyak 10 personel yang dilengkapi dengan senjata laras panjang.

Tim Jibom Batalyon B Pelopor juga telah memberikan pelatihan kepada para anggota polisi sektor (polsek) se-Malang Raya untuk mengenali dan melakukan penanganan yang tepat saat terjadi teror bom di tengah masyarakat. Komandan Tim Jibom, Batalyon B Pelopor, Satuan Brimob Polda Jawa Timur, Iptu Sumantri menyebutkan, pelatihan bertujuan untuk menyosialisasikan Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPTKP) bom.

Yuswantoro










Berita Lainnya...