Edisi 19-05-2017
Usulan Politikus PDIP Dikecam


SURABAYA – Usulan politikus PDI Perjuangan Agustin Poliana agar tempat karaoke dibuka selama bulan Ramadan mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya menilai usulan tersebut mencederai hati warga Muslim Surabaya.

“Kalau Pemkot Surabaya menyetujui usul tersebut ini akan menjadi preseden buruk bagi penegakan perda di Surabaya. Ingat, keputusan menutup karaoke saat Ramadan sudah final sehingga tidak bisa ditawar lagi,” kata Ketua PCNU Surabaya Ahmad Muhibbin Zuhri, kemarin. Muhibbin meminta Pemkot Surabaya jernih melihat persoalan sehingga tidak begitu saja mengamini usul anggota DPRD atas legalisasi karaoke saat bulan Ramadan nanti. “Sekali lagi, pemerintah kota bisa dipandang tidak memiliki komitmen yang kuat atas masalah ini. Masak perda ditawar,” ujarnya.

Dosen Fakultas Tarbiah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya ini menilai, alasan kewajiban menggaji pegawai sebagai dasar permohonan tidak tepat. Mestinya pengusaha sudah berhitung mulai dari awal saat Ramadan harus tutup. “Harus lakukan antisipasi, misalnya ada tabungan yang disisihkan untuk persiapan Ramadan,” ujarnya. Karena itu, mantan pengurus PC PMII Surabaya ini meminta pemkot tidak membiarkan karaoke buka lagi. Baginya, penutupan tempat karaoke saat Ramadan sudah tepat. Hal itu sebagai bentuk menghargai bukan Ramadan, termasuk juga yang menjalankannya.

Terpisah, Anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius meminta semua pihak menghargai peraturan pemerintah Surabaya. Menurutnya, peraturan daerah (perda) No.23/2014, Pasal 24 sudah tegas menyatakan bahwa hiburan karaoke dewasa, karaoke keluarga untuk tutup selama bulan Ramadan. “Sejauh perda ada, maka semua harus patuh. Siapa melanggar, maka tentu ada sanksinya,” kata pria yang akrab disapa Awey ini. Awey menyampaikan, alasan apa pun tidak bisa menjadi pembenaran atas pelanggaran terhadap perda tersebut. Baginya, sepanjang perda masih ada dan belum berubah, maka semua yang diatur harus tetap dijalankan. Tak terkecuali aturan penutupan karaoke keluarga saat Ramadan.

“Kalaupun mau mengakomodasi kepentingan karyawan, pengusaha karaoke keluarga dan masyarakat, maka ketentuannya harus merevisi perda terlebih dulu. Tanpa itu (revisi) tidak boleh,” ujarnya. Menurutnya, idealnya karaoke keluarga tidak disamakan dengan karaoke dewasa. Ini karena bentuk kegiatan kedua tempat hiburan tersebut memang berbeda. Karaoke keluarga lebih banyak sifatnya hiburan dan suasana keluarga. Sementara karaoke dewasa tidak. “Di wilayah yang penduduknya mayoritas muslim seperti Pakan Baru karaoke keluarga masih boleh buka. Hanya saja waktunya dibatasi. Bisa saja Surabaya mencontoh. Tetapi, perda harus diubah dulu,” katanya.

Diketahui, pada Perda No.23/2012 tentang kepariwisataan, seluruh tempat hiburan tidak diperbolehkan buka selama bulan Ramadan. Beberapa di antaranya adalah tempat karaoke keluarga dan dewasa, panti pijat, spa, diskotek, klub malam, dan pub. Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Agustin Poliana mendukung tempat karaoke dibuka saat Ramadan. Bahkan politisi PDI Perjuangan ini akan berusaha mencari celah agar peraturan wali kota (perwali) tentang larangan operasional karaoke keluarga di bulan suci itu bisa diubah. “Saya melihat dari sisi positifnya saja. Kalau bisa bukanya setelah salat tarawih atau sekitar pukul 21.00 WIB dan tutup sebelum sahur sekitar pukul 02.00 WIB,” ujarnya.

Atas desakan itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkot Surabaya. Agustin beralasan, para pengusaha punya tanggung jawab besar untuk tetap membayar gaji karyawan selama Ramadan. Karena itu, mereka juga butuh pemasukan dari usaha karaoke tersebut. Agustin mengakui bahwa bulan Ramadan harus dihormati. Salah satunya dengan menutup tempat hiburan malam. Namun, bagi dia, tidak semestinya hal itu berlaku menyeluruh, termasuk karaoke keluarga. Menurutnya sepanjang rambu-rambu masih ditaati hal itu tidak menjadi masalah.

“Tidak harus sepanjang malam. Tetapi beberapa jam saja sehingga tidak mengganggu umat Islam yang sedang menjalankan ibadah,” katanya.

ihya ulumuddin





Berita Lainnya...