Edisi 19-05-2017
Wali Kota Ajak Masyarakat Lawan Pemecah Belah Bangsa


Kehadiran Wali Kota Blitar Muh Samanhudi Anwar di panggung konser kebangsaan di Alun- Alun Kota Blitar seperti siraman bensin pada api. Suasana yang sebelumnya biasa-biasa saja sontak berubah panas. Ribuan suara bergemuruh. Apalagi saat orang nomor satu di Kota Blitar itu berteriak lantang, “Jangan takut, jangan gentar melawan mereka yang memecah belah bangsa dan negara ini. Wali Kota Blitar siap berdiri di depan.” Riuh teriakan “Lawan! lawan!” semakin menjadi-jadi.

Sisa-sisa suasana syahdu kumandang nyanyian lagulagu nasional dan doa lintas agama lenyap sudah. Ribuan tangan yang sebelumnya melambai-lambai mengikuti alunan senandung Tanah Airku, Ibu Pertiwi, Rayuan Pulau Kelapa, dan Satu Nusa Satu Bangsa, berganti menjadi kepalan tinju di udara. Tidak ada yang berusaha menurunkan tensi. Agitasi dan propaganda yang dipekikkan Samanhudi justru semakin berapi-api. Di antara teriakan massa beberapa kali menyelip lengking “Bubarkan FPI”, “Bubarkan HTI”. “Jangan takut hanya karena mereka berjenggot. Kita lawan! TNI dan Polri ada di belakang kita,” pekik Samanhudi disambut gema teriakan lawan.

Rabu malam itu (17/5) langit bertaburan bintang. Udara terasa gerah. Maklum sudah sepekan lebih hujan tidak mengguyur Kota Blitar. Samanhudi mengenakan kaus putih model kerah dipadu celana panjang jins biru. Lelaki kelahiran 1957 itu menonjolkan kesan sporty. Mendaki tangga sisi barat panggung, kepala daerah yang juga Ketua DPC PDIP Kota Blitar itu langsung tersenyum sumringah. Dimulai dari assalamualaikum sebagai salam umat Islam, Samanhudi, menyapa bergiliran salam sejahtera untuk umat Nasrani, om swastiastu untuk umat Hindu dan nammo buddhaya untuk umat Budha.

Di sana juga hadir umat Konghucu. Malam itu masingmasing umat beragama didampingi pemukanya. Tepuk tangan membahana. Sesuai tema yang diusung, backdroppanggung mengambil warna merah putih. Sedikitnya dua belas lampu menggantung menjadi penerangnya. Sebelumnya massa menyanyikan lagu-lagu kebangsaan menyusul doa bersama. Untuk jumlah massa yang memenuhi separuh lebih luas Alun-Alun Kota Blitar, panitia konser kebangsaan menyebut 7.500 jiwa.

Hampir seluruhnya mengenakan kaus oblong putih. Tidak hanya kelompok usia remaja. Mereka yang hadir tidak sedikit dari kelompok kakek-nenek hingga anak-anak. Sebagai pengganti lilin, tiap peserta konser kebangsaan dan doa lintas agama menggamit batang fosfor warna-warni. Seperti kunang-kunang di gelapan, cahaya fosfor berpendaran, melambailambai. Layar ponsel juga diset terus menyala. Tikar-tikar plastik dibeber, dihamparkan. Beberapa orang melepas alas kaki dan memilih berdiri di atasnya. Kepada massa Samanhudi menegaskan bahwa NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika telah final.

Dia mengajak masyarakat, khususnya warga Blitar, berjaga bersama-sama dari rongrongan orang-orang yang mencoba memecah belah Indonesia. Meski mampu mengerahkan massa lebih besar, Samanhudi menegaskan tidak akan melakukan itu. “Sebab warga Blitar cinta damai. Kalau saya kerahkan, alun-alun sudah penuh,” paparnya. Dalam kesempatan itu Samanhudi juga meminta pemerintahan Joko Widodo menindak tegas kelompok sesat yang berusaha menghancurkan tradisi kebinekaan di Indonesia. Menurut dia , masyarakat Blitar secara tegas mendukung pemerintahan yang sah.

Koordinator acara, Ferry Yuswanto Panese, mengatakan, acara itu digelar dalam rangka menyambut hari kebangkitan nasional. “Selain itu juga untuk memperlihatkan bahwa NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika tetap utuh dan kokoh,” ujarnya. Hingga pukul 21.00 WIB acara yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB itu masih juga berlangsung. Akibat melimpah ruahnya massa arus lalu lintas di sekitar Alun-Alun Kota Blitar sempat macet.

Solichan Arif
Blitar


Berita Lainnya...