Edisi 19-05-2017
Investor Siap Bangun PLTS di Pelosok


MEDAN - Sejumlah investor menawarkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan solar panel di kawasan pelosok dan terpencil di Sumatera Utara (Sumut). Selain akses listrik bagi masyarakat, solar panel jadi solusi krisis energi yang dialami beberapa negara di dunia.

Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Nurhajizah Marpaung menyambut baik rencana investor itu. Hal ini mengingat sampai sekarang di Sumut masih banyak daerah terpencil atau pelosok yang belum menikmati listrik. “Sementara yang lainnya juga masih mengalami pemadaman hampir setiap hari,” ujar Nurhajizah saat menerima audiensi perwakilan perusahaan pembangkit listrik nasional, PT Electric Vine Industries dan PT Cahaya Samudra Global di ruang kerjanya, Kamis (18/5).

Turut hadir perwakilan PT PLN Medan, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, dan perwakilan dari Electric Vine Industries, yakni Fibiola I Ohei dan Hengki Minim. Kemudian perwakilan dari PT Cahaya Samudra Global, yaitu Yohanes Budianto, Christian Tirta Kusuma, dan Emanuel Setiawan. Wagub mengatakan, berdasarkan laporan dari PT PLN, cadangan listrik di Sumut memang akan bertambah dengan kedatangan kapal pembangkit listrik Marine Vessel Power Plant (MVPP) berkapasitas 240 megawatt (MW) dari Turki dan nanti bisa memenuhi kebutuhan pasokan listrik di Sumut.

Namun, wagub menilai kehadiran para investor yang berniat membangun pembangkit listrik dengan energi alternatif harus tetap diapresiasi. “Kalau memang sudah cukup cadangan listrik kita, tidak perlu lagi ini (PLTS) dibangun. Tetapi kenyataannya, masih banyak yang belum menikmati listrik. Contohnya masyarakat yang tinggal dekat dengan PLTA Sigura-gura. Meskipun dekat sumber listrik, warga masih ada yang kegelapan,” ujarnya. Karena itu, Pemprov Sumut sangat mendukung rencana pembangunan PLTS, terutama di kawasan terpencil di pelosok Sumut.

Pemprov Sumut akan memberikan dukungan dengan memfasilitasi kebutuhan, seperti perizinan serta mengoordinasikan antara investor dengan PT PLN. Sementara perwakilan PT Electric Vine Industries, Fibiolla Ohei bersama Hengki Monim dalam paparannya menjelaskan, perusahaan mereka telah membangun sejumlah PLTS, yakni solar panel untuk 47 kepala keluarga (rumah) di Provinsi Papua dengan teknologi solar panel dan smart-meter. Dengan meteran otomatis, pengguna listrik yang tinggal di pedalaman bisa menikmati listrik dengan mengisi pulsa tanpa harus pergi ke kota.

“Sebelumnya untuk studi kami lakukan di Afrika. Kalau sistemnya ini standar nasional dan Eropa,” katanya. Selain itu, pembangunan PLTS berkapasitas untuk penggunaan rumah tangga tersebut tidak membutuhkan lahan yang luas seperti pembangkit konvensional yang ada. Sebab satu solar panel (enam bagian) dipasang di atas tiang seperti tiang listrik sehingga bisa didirikan di depan rumah penduduk. Satu tiang panel diperuntukkan bagi empat rumah. “Semua panel itu terhubung. Jadi, kalau ada daya listrik yang kurang, tetap akan terpenuhi melalui panel lain. Meteran juga berada di tiang listrik letaknya tinggi, jadi tidak bisa dicurangi atau dicuri,” katanya.

Pihaknya menargetkan antara 25-500 KK bisa terpasok listrik di pedalaman. Dengan kapasitas pemakaian rumah tangga, maka kekhawatiran akan krisis listrik bisa terjawab. Apalagi pembangkit tersebut bisa beroperasi hingga 20 tahun. “Intinya setelah dipasang, harus ada maintenance-nya. Itu nanti kami siapkan dengan melatih warga setempat. Dalam beberapa tahun, diperkirakan energi fosil semakin habis. Maka ini adalah solusi yang mendapat dukungan dari Presiden RI Joko Widodo,” katanya.

Lia anggia nasution

Berita Lainnya...