Edisi 19-05-2017
Lahan Tol Brebes Timur-Pemalang Tuntas


SLAWI – Pengerjaan proyek jalan tol Pejagan-Pemalang seksi III dan IV di wilayah Kabupaten Tegal tak lagi terhambat pembebasan lahan. Hal ini setelah kasasi yang diajukan pemilik tujuh bidang tanah yang mengajukan gugatan harga ganti rugi ditolak Mahkamah Agung (MA).

Satu pekan menjelang Ramadan, perkembangan pengerjaan ruas jalan bebas hambatan bagian dari tol Trans Jawa itu sudah mencapai 90% dengan kondisi beton LC (lean concrete ) atau beton tipis. Ketua Satgas B Pelaksana Pengadaan Tanah Tol Pejagan-Pemalang Makmuri mengatakan, MA sudah mengeluarkan keputusan terkait kasasi yang diajukan empat warga pemilik tanah. “Kami sudah menerima surat keputusannya kemarin (Rabu) dari pengadilan negeri. Keputusannya, MA menolak kasasi yang diajukan,” kata dia kemarin.

Keempat warga yang ditolak kasasinya itu adalah pemilik masing-masing satu bidang tanah yang berada di Desa Sidakaton, Kecamatan Dukuhturi, dan enam bidang tanah di Desa Karangjati, Kecamatan Tarub. Dengan sudah keluarnya keputusan MA maka tujuh bidang itu sudah bisa dibebaskan, termasuk membongkar bangunan yang ada di atasnya. “Langkah kasasi ke MA merupakan upaya hukum terakhir yang bisa diambil pemilik tanah jika tak sepakat dengan harga ganti rugi yang ditetapkan tim appraisal. Jadi, keputusan kasasi ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap,” ujar Makmuri.

Menurut Makmuri, pihaknya sudah memberitahukan perihal keputusan MA ke para pemilik enam bidang tanah di Desa Karangjati. Meski kasasinya sudah ditolak, mereka disebut Makmuri tetap masih belum menerima besaran harga ganti yang sudah ditetapkan tim appraisal. “Kalau mereka masih tidak mau menerima uang ganti rugi, kami akan serahkan ke pengadilan atau konsinyasi. Sedangkan pemilik tanah yang di Sidakaton kami belum bertemu karena orangnya di Jakarta. Tapi kami nanti ‎akan sampaikan, apakah rumahnya akan dibongkar sendiri atau kami yang membongkar,” paparnya.

Makmuri menambahkan, setelah ada keputusan MA, proses pembebasan lahan tinggal menyisakan lahan yang berstatus tanah wakaf. Terdapat 9 bidang tanah berstatus tanah wakaf yang tersebar di Desa Adiwerna, Kecamatan Adiwerna sebanyak 3 bidang; Gembong Kulon, Kecamatan Talang (1); Langgen, Kecamatan Talang, (1); Harjosari, Kecamatan Suradadi, (2); dan Dermasandi, Kecamatan Pangkah (2). “Bisa dibilang pembebasan lahan sudah 99% selesai. Tinggal tanah wakaf yang belum karena masih menyelesaikan proses administrasi dari Kementerian Agama,” ungkapnya.

24 KM Ruas Jalan Sudah Beton LC

Sementara itu, kontraktor pelaksana pengerjaan tol Pejagan- Pemalang juga terus mengebut pengerjaan ruas Brebes Timur-Tegal (seksi III), dan Tegal-Pemalang (seksi IV) agar bisa dilalui pemudik pada H-10 Lebaran. Pimpinan Proyek PT Pejagan Pemalang Tol Road (PPTR) Mulya Setiawan mengatakan, progres pengerjaan sudah mencapai 90% fungsional. “Kalau fungsional bisa dilalui pemudik, artinya dalam kondisi beton LC (lean concrete ) sudah 90%,” ujarnya kemarin. Panjang ruas jalan yang sudah dalam kondisi LC atau beton setebal 10 sentimeter mencapai 24 kilometer (km) dari total panjang 35 km dari Brebes Timur hingga Pemalang.

“Kami optimistis H-10 Lebaran sudah bisa 100% fungsional,” tandas Mulya. Disinggung terkait sudah keluarnya putusan MA yang menolak kasasi pemilik tujuh bidang tanah yang sebelumnya belum bisa dibebaskan, Mulya menyebut langkah eksekusi keputusan tersebut menjadi kewenangan pelaksana pengadaan tanah. “Kami sebelumnya sudah antisipasi terkait adanya gugatan ganti rugi itu. Termasuk keberadaan satu rumah di Sidakaton yang belum bisa dibongkar. Walaupun belum bisa dibongkar, pengerjaan tetap berjalan,” katanya. Selain pengecoran ruas jalan, pengerjaan yang masih dikebut di antaranya pembuatan jalan elevated atau jalan layang, serta jembatan darurat agar kendaraan pemudik bisa melintas.

“Ruas jalan tidak ada yang sebidang dengan jalan desa atau kabupaten,” ujar Mulya. Staf Legal PT Waskita Karya Narendra Aryo Bramastyo sebelumnya mengungkapkan, pengerjaan fisik tol dikebut dan dilakukan 24 jam. Waktu pengerjaan dibagi dalam tigashift, yakni pagi, siang, dan malam. “Pekerjaan yang sifatnya tidak menimbulkan kebisingan dilakukan sampai pagi seperti pengecoran. Kalau pemasangan tiang pancang dibatasi sampai (pukul) 10 malam agar tidak mengganggu warga sekitar,” ungkapnya.

Menurut Tyo, kendala yang menghambat selama pengerjaan adalah cuaca yang tidak menentu. Meski sudah mulai memasuki musim kemarau, hujan masih kerap turun sehingga pengerjaan harus dihentikan sementara.

Farid firdaus


Berita Lainnya...