Edisi 19-05-2017
Terus Bertahan demi Tradisi Dugderan


Perayaan dugderan menyambut datangnya Ramadan menjadi berkah bagi sejumlah perajin Warak Ngendok di Kota Semarang.

Mereka kebanjiran pesanan dari masyarakat yang akan mengikuti perhelatan tahunan tersebut. Tak terkecuali Arif Rahman, 41, warga Jalan Agus Salim, Kelurahan Purwodinatan, Semarang ini. Arif sudah mengerjakan sebanyak 200 pesanan Warak Ngendok jelang Ramadan ini. “Kami sudah mengerjakan kurang lebih 200 pesanan Warak Ngendog jelang dugderan tahun ini,” katanya di Semarang beberapa waktu lalu. Jelang Ramadan dipastikan perajin replika hewan itu selalu banjir pesanan. Warak Ngendok merupakan ikon utama dalam tradisidugderan . jelang Ramadan di Semarang.

“Dari situlah pesanan Warak Ngendok di tempat kami sangat banyak,” kata Arif . Arif mengaku sudah puluhan tahun menggeluti kerajinan tersebut. Ada bermacam ukuran Warak Ngendek yang dikreasikan. Biasanya, ada tiga ukuran yang dikerjakan, yakni kecil ukuran 20 x 30 x 30 cm, sedang ukuran 50 x 70 x 100 cm, dan besar dengan ukuran menyesuaikan pesanan. Harganya sesuai dengan bentuk dan ukuran berkisar Rp50.000 sampai Rp1 juta. “Ya , tergantung pelanggan mintanya apa. Saya pernah mengerjakan seukuran bak mobil pikap,” kata ayah dua anak ini.

Karya-karya Arif banyak dipesan oleh instansi pemerintah dan sekolah. “Untuk tahun ini, pesanannya lebih banyak ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2016, kira-kira 100-an pesanan. Mungkin karena banyak pengrajin yang sudah tidak memproduksi lagi,” ujarnya. Menurut Arif, tidak kesulitan dalam membuat kerajinan itu. Namun, kerumitan yang acap ditemui adalah dalam membuat bagian kepala. Dia mengaku akan terus menggeluti kerajinan itu jelang Ramadan demi mempertahankan tradisi.

“Dulu ada lomba Warak Ngendog untuk pengrajin, sekarang tidak ada. Harapan saya lomba itu diadakan lagi supaya bisa jadi ajang bagi para pengrajin untuk lebih berkreativitas,” katanya.

Amin Fauzi
Kota Semarang











Berita Lainnya...