Edisi 19-05-2017
Nasionalisme dan Islamisme


Dalam beragama, manusia harus memahami diri dalam kerangka kesadaran teologis dan sosiologis. Secara teologis manusia diikat dengan sebuah sistem keyakinan yang bersifat absolut dan mutlak.

Pada tataran ini maka manusia harus memiliki komitmen keyakinan yang kuat terhadap jenis keimanan yang dianutnya. Pada level ini maka kita harus saling menghormati dan menghargai (QS.Al- Kafirun:5). Oleh sebab itu, negara harus melindungi pelembagaan keyakinan yang dimiliki oleh seseorang.. Sikap intoleran terhadap keyakinan kepada orang lain merupakan sikap yang tidak etis dan beradab, mengingat Allah sendiri menciptakan manusia dalam ruang dan peluang untuk berbeda. (QS/Al-Hujurat:13).

Di sisi lain, manusia yang beragama tidak dapat melepaskan diri dari fakta bahwa ada konstruksi sosial dan budaya yang terus beroperasi dalam lingkaran dirinya sehingga ikatan sosial termasuk raung kehidupan dalam satu bangsa adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dimungkiri.

Nasionalisme dalam Perspektif Islam

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang universal. Artinya, manusia berpeluang untuk hidup di mana saja. Namun, eksistensi diri yang berada pada bagian dari sebuah sistem kemasyarakatan dan kebangsaan membuat kita harus memberikan sikapsikap adaptif untuk bisa berkolaborasi. Bahkan, senantiasa berkontribusi antara satu dan yang lainnya. Fakta akan adanya pluralitas masyarakat adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Terlebih bagi bangsa Indonesia yang memiliki banyak suku sehingga menuntut adanya sikap harmonis untuk saling menghargai dan menghormati.

Kesamaan pandangan untuk dapat hidup bersama dalam keberagaman dalam membangun kemanusiaan yang luhur itu, oleh para pendiri negeri ini kemudian dimonumentalkan dengan sebuah konsep dasar negara dan falsafah negara yang dikenal dengan Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, ideologi kebangsaan yang bernama Pancasila merupakan kesepakatan luhur untuk merajut perbedaan yang ada. Para ulama sendiri menjadi bagian dari aktor sejarah yang terlibat dalam memformulasi terlebih mengisi substansi dari Pancasila itu sendiri.

Karenanya, ulama dan tokoh agama sesungguhnya telah mencontohkan harmonisasi antara agama dan negara. Karenanya, sikap nasionalis sejatinya merupakan manifestasi pesan keagamaan untuk memberikan ruang kearifan lokal untuk menjadi sistem nilai yang patut dihormati bahkan dipedomani. Pada masa bani Umayyah, strategi Arabisasi dijadikan sebagai instrumen untuk mempersatukan masyarakat untuk memiliki kesamaan gerak dan kebijakan. Namun, Arab di sini adalah sebuah bangsa dan bukan agama. Agama merupakan sistem ajaran dari Tuhan, sedangkan bangsa merupakan produk dan hasil konstruksi budaya untuk secara bersama-sama membangun kehidupan yang beradab dan sejahtera.

Namun, budaya dan bangsa akan menjadi wadah agama untuk mengekspresikan diri dalam wadah lokal. Dalam konteks bangsa Indonesia, Islam menjadikan negara tercinta ini untuk memanifestasikan diri dalam berbagi kebaikan dan kebajikan. Sebagaimana Rasulullah SAW ketika di Madinah, beliau tidak membuat orang Madinah menjadi orang Mekah, misalnya, atau memaksakan orang Yahudi dan Nasrani menjadi muslim. Piagam Madinah yang dibuat pada masa beliau membuktikan bahwa Islam sudah terbiasa dan dibiasakan untuk hidup toleran dan humanis.

Berislam yang Nasionalis

Dalam konteks kebangsaan seorang muslim harus mampu menunjukkan kemampuan menghubungkan bahasa agama dan bahasa negara. Seluruh kearifan dan nilainilai universal yang ada dalam ajaran Islam diharapkan dikontribusikan dalam kehidupan berbangsa. Islam hadir di Indonesia tidak untuk mengubah bangsa menjadi bangsa lain, ras satu kepada ras yang lain. Islam mengisi dimensi kerohanian manusia. Manusia yang Islami sesungguhnya manusia yang dapat bermanfaat buat orang lain.

Bahkan, Nabi SAW mengingatkan bahwa saham utama dan terbanyak yang mengantarkan manusia ke surga adalah ketakwaan dan perilaku yang baik. Egoisme dan individualisme bukan cerminan ajaran Islam. Karenanya, penulis berharap kepada para pemimpin negara justru harus proaktif merangkul para tokoh dan kaum cendekiawan dari umat Islam itu sendiri untuk ditampung pandangannya, tentunya juga pada saat yang memberikan peluang bagi yang lain untuk diminta pandanganpandangan kebangsaannya. Bagaikan piring kaca, negeri ini tidak boleh pecah. Karena sekali pecah maka akan sulit untuk disatukan kembali. Konsep persatuan dan kesatuan yang menjadi semangat bersama kita selama ini sesungguhnya hadir dalam substansi ajaran agama.

Karenanya, kita harus mengampanyekan sikap hidup yang terus mendalami ajaran agama dan pada saat yang sama kita harus menjadikan wadah bangsa untuk menjadi proyek melahirkan suasana hidup yang damai dan penuh kasih sayang. Islam sendiri lewat konsep rahmat-Nya terus mengajak semua kaum muslim menjadi insan yang rahmatan lil rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), termasuk rahmatan lil indunisiyyin (rahmat bagi bangsa Indonesia). Pawai lilin versus pawai obor yang sempat ada beberapa waktu yang lalu, sesungguhnya ungkapan tentang permintaan kepada sesamanya bahwa dirinya ada.

Oleh sebab itu, karena kita telah menyepakati untuk bersama dalam perbedaan (Bhinneka Tunggal Ika). Semua dari kita harus mampu memberikan kesadaran untuk saling melindungi anak bangsa. Jangan sampai ada pihak lain yang memanfaatkan perbedaan pandangan kita untuk kepentingan mereka. Semoga.

DR SYAFRUDDIN SYAM M,AG
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut








Berita Lainnya...