Edisi 19-05-2017
Wali Kota Gerah Ditanya soal Kunker


CIREBON - Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis gerah disinggung soal rencana kunjungan kerjanya (kunker) ke Batam yang disebutsebut diselingi "jalan-jalan" ke Singapura.

Berdasarkan informasi, Azis diagendakan bertolak ke Batam dari Jakarta pada Jumat (19/5) pagi bersama sejumlah pimpinan instansi pemerintah. Agenda kunker untuk mempelajari perihal keamanan di Batam yang dinilai lebih baik. Dalam rundown kegiatan yang beredar di dunia maya, kunker di Batam menghabiskan waktu hanya sekitar 1,5 jam pada Jumat (19/5) siang. Sehari setelahnya atau Sabtu (20/5) pagi, Azis dan rombongan diagendakan menyeberang ke Singapura dengan menggunakan kapal feri.

Di Singapura, rombongan didampingi pemandu lokal Singapura direncanakan melakukan tur ke sejumlah lokasi di antaranya Suntec City, Esplanade, Foto Stop di Merlion & Garden by The Bay, Bugis Market, China Town, Orchard Street, hingga Sentosa Island. Petang hari, barulah rombongan dijadwalkan kembali ke Batam sebelum kembali ke Jakarta dan Cirebon pada Minggu (21/5). Disinggung terkait rencana itu, Azis meyakinkan, hanya mengikuti program kegiatan yang dirancang Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cirebon. Menurutnya, pemilihan Batam sebagai tujuan kunker perihal keamanan telah melalui serangkaian pertimbangan tertentu. "Kunker kan bukan pertama kali, bukan cuma ini. Banyak juga kunker ke kota lain, kenapa yang ini disoal," ujarnya setengah bertanya kepada sejumlah media yang mengklarifikasinya soal keberangkatan ke Batam.

Kunjungannya ke Singapura dipastikannya telah dibatalkan. Hanya kunker ke Batam yang positif dilaksanakannya bersama jajarannya. Meski meyakinkan kunker ke Batam akan menjadi pembelajaran baik bagi Pemkot Cirebon dalam hal keamanan, Azis mengaku tak bisa menjamin keberhasilan dari hasil kunker tersebut bila diterapkan di Kota Cirebon. Menurutnya, hasil kunker hanya bisa diketahui nanti setelah melihat dan mempelajari kebutuhan pemerintah daerah Batam dalam menerapkan keamanan.

"Kami hanya ingin adopsi, keberhasilan tergantung nanti. Ini soal upaya," cetusnya. Sementara, pemerhati kebijakan pemerintah dari Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Kota Cirebon Abdul Jalil Hermawan telah menyayangkan sikap kepala daerah yang tak transparan. Perjalanan dinas itu dipandangnya akan menjadi sebuah pelanggaran bila kemudian dijadikan perjalanan pribadi. "Manipulasi plesiran dengan kunker masih berpotensi dilakukan, sedangkan esensi kunker tak ada. Apalagi durasi kunjer hanya 1, 5 jam, sisanya plesiran," paparnya.

Dia menyarankan kepada daerah bersikap transparan guna menjawab pertanyaan publik. "Kalau mau berangkat ya berangkat. Tapi jangan ditutupi. Buka seluasnya, mulai dari tujuan, peserta, anggaran, hingga output kunker itu nantinya," tegasnya.

Erika lia




Berita Lainnya...