Edisi 19-05-2017
Senior Ganas, Taruna Akpol


SEMARANG – Brigdatar Mohammad Adam, taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang tewas dengan sejumlah luka lebam di tubuhnya dini hari kemarin. Adam diduga menjadi korban keganasan12 seniornya.

Korban merupakan taruna Ak - pol tingkat II, sedang para pe - laku adalah taruna tingkat III. Dari informasi yang dihimpun KORAN SINDO di sumber kepolisian, kor ban diketahui meninggal dunia sekitar pukul 02.45 WIB. Untuk mengusut kasus ini, kepolisian telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari jajaran Polda Jateng dan Ma - bes Polri. Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono meng - ungkapkan, luka lebam te r - lihat jelas di dada korban yang kemungkinan akibat tindakan penganiayaan.

“Jenazah al - mar hum diautopsi di RS Bha - yangkara Semarang, sebelum - nya sempat dibawa ke RS Bha - yangkara Akpol dengan kon - disi pingsan,” ungkap Condro saat menyampaikan keterangan pers di Mapolda Jawa Te ngah, KotaSemarang, sore ke ma rin. Korban diketahui meru pa - kan satuan enam pengiriman dari Polda Maluku. Kor ban - yang meru pakan lulusan SMA Negeri 29 Jakarta ini meng - ikuti Himpunan Indonesia Timur (HIT), yakni dari Papua, Maluku, dan NTT. Condro mengatakan, pe - nyi dik sudah memeriksa 21 sak si dari pihak Akpol, baik ta - runa maupun saksi dari pihak Akpol.

Dua per wira yang diperiksa adalah Kasatar 8 Taruna Tingkat III Akpol AKP Agung Basyuni, selaku Pawas Korps dan Kasatar 11 Tingkat III Akpol AKP Citra Fatwa, selaku Pawas Den Tingkat III pada Rabu (17/5). Keduanya adalah saksi yang membawa korban ke Rumah Sakit (RS) Akpol beberapa saat usai kejadian. Kejadian penganiayaan be - ra wal saat taruna tingkat II yang tergabung korps Him pu - nan Indonesia Timur ber jum - lah 22 orang di antaranya kor - ban, menghadap taruna ting - kat III Korps HIT ke flat Taruna Tingkat III pada pukul 00.30 WIB. Para taruna tingkat II ma - suk melalui jalur bukit be la - kang flat dengan alasan adanya kesalahan yang dilakukan oleh taruna tingkat I Kor HIT.

Seteah tiba di flat, Brigdatar Kasim Lating selaku Dansuk Korhit Taruna Tingkat II meng - hadap Dansuk Korhit Taruna Tingkat III Brigtutar Rinox Watimena. Seluruh Taruna Ting kat II kemudian diperin - tah kan untuk memanggil selu - ruh Taruna Tingkat III Korhit di kamarnya, untuk berkumpul di gudang flat A atas taruna tingkat II. Korban pun bersama Brigadir Swafauzah meng ha - dap Brigtutar Kristian Sermoes untuk membangunkan dan mengajak berkumpul di flat A atas. Pada pukul 01.00 seluruh taruna tingkat II sejumlah 22 orang dan taruna tingkat III sejumlah 12 orang berkumpul di gudang flat A atas taruna tingkat III.

Mereka meme rin - tahkan seluruh taruna tingkat II untuk melaksanakan sikap tobat sambil diberikan arahan. Di sinilah diduga pengania - yaan terhadap taruna kela - hiran Padang, 20 Juni 1996 ini terjadi. Pejabat Korps Brig - datar Kasim Lating (dansuk) dan Brigdatar R Chandra me ru - pakan Kasi Ops dipisahkan untuk tobat roket atau sikap standing dengan alas kepala dan kaki di atas. Kemudian taruna tingkat III melakukan pemukulan terhadap seluruh taruna tingkat II. Taruna tingkat II me lak - sanakan sikap mersing, dan Brigdatar Mohammad Adam, ditarik ke depan oleh Brigtutar Kristian Sermomes.

Kemu - dian, dalam keadaan sikap mer - sing Brigdatar Mohammad Adam atau korban dipukul lima sampai enam kali di bagian ulu hati secara berturut-turut, disaksikan taruna tingkat III dan II. Setelah itu, pukulan ter - akhir terhadap korban menye - babkan korban kesaki tan dan kejang. Taruna tingkat III melaku - kan upaya menyadarkan kor - ban dengan membasuh muka dengan air dan dipindahkan dari TKP ke gudang Kamar A1.3 oleh Brigtutar Adam Rah - man, Brigtutar Ahmad Nur Aziz dan Brigtutar A Kus nan - dar. Pukul 02.20, AKP Agung Ba - syuni mendapat laporan dari Brigtutar Kristian Sermomes bahwa terdapat taruna tingkat II pingsan, kemudian dite rus - kan ke pengawas lain.

Mereka cek ke lantai dua, ternyata kor - ban sudah tak sadarkan diri. Pukul 02.25 korban dibawa ke RS Akpol oleh AKP Agung Ba - syuni, AKP Citra Fatwa ber - sama Brigtutar Rinox dan Brigtutar Kristian Sermomes, dimasukkan mobil Innova warna hitam milik AKP Citra Fatwa. Korban kondisi sudah agak kaku. Pukul 02.30, sampai di RS Akpol dilakukan cek oleh dr Wina selaku dokter jaga. Pukul 02.45 WIB korban dinyatakan tewas. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djarod Padakova menam bah - kan sebanyak 21 Taruna yang diperiksa itu statusnya masih saksi.

“Kemungkinan bisa ber - tambah besok, diperiksa secara maraton,” tambah Djarod Kamis (18/5) sore. Pihaknya telah meng an - tongi nama siapa-siapa yang diduga melakukan peng ania - yaan itu. Untuk jenazah kor - ban, sudah dilakukan autopsi setelah pihak keluarga datang ke Semarang setelah persetu - juan pihak keluarga.

“Malam ini, setelah selesai diautopsi, pukul 20.00, akan diter bang - kan ke Jakarta (jenazah). Infor - masi yang kami dapat, kel ua r - ganya berada di sana,” lanjut Djarod. Hasil autopsi, paru-paru kanan kiri korban mengalami luka. Akibat tekanan cukup kuat, mengakibatkan korban sulit bernafas yang menye bab - kan meninggal dunia. Proses autopsi selesai Kamis (18/5) petang. Barang bukti yang diamankan; sabuk atau ikat pinggang, tongkat plastik sepanjang 20 cm.

Perlu Tindakan Tegas

Psikolog dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang M Akung mengatakan, banyak - nya kasus kekerasan di dunia pendidikan yang dilakukan para senior merupakan dosa masa lalu. Itu seolah menjadi mata rantai yang tidak pernah terputus dan akan terus terjadi jika tidak ada tindakan tegas untuk memutus hal tersebut.

"Menjadi senior merupa - kan saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Sebab dahulu, mereka juga meng - alami hal serupa sehingga saat menjadi senior mereka mela m - piaskan kepada juniornya. Ini biasa dan bukan rahasia umum lagi terjadi di sekolah-sekolah yang menerapkan sistem pen - didikan semi militer di In do - nesia," kata dia, kemarin. Mata rantai kekerasan da - lam pendidikan yang dil aku - kan senior ini, lanjut Akung, juga disebabkan lemahnya pe - ng awasan institusi pen di di - kan. Pihak sekolah memiliki tanggung jawab mengontrol semua anggotanya agar tidak melakukan tindakan yang berlebihan.

“Kontrol pihak sekolah sa - ngat penting untuk meng hin - dari adanya kasus kekerasan yang dilakukan senior kepada junior. Pendidikan moral serta pemahaman bahwa kekerasan tidak diperbolehkan dalam dunia pendidikan adalah mu - tlak dilakukan,” tegasnya. Pemerintah dan pihak se - kolah lanjut Akung harus bisa memutus mata rantai kasus kekerasan di dunia pendidikan yang disebabkan senioritas. Sanksi tegas harus diberikan jika terjadi kasus kekerasan oleh senior kepada junior. Apa - lagi, sampai menimbulkan kor - ban jiwa. "Sanski harus diberikan tegas, harus dibawa ke ranah hukum. Selama ini kan tidak, jika ada kasus kekerasan di ins - titusi pendidikan justru ditu - tup-tutupi karena dianggap aib," tegasnya.

Selain pemberian sanksi tegas, pihak sekolah juga harus lebih ketat mengontrol sis wa - nya. Tidak boleh mereka lepas tanpa kendali dan pengawasan sehingga berpotensi mela ku - kan tindakan balas dendam. “Di sinilah peran pend am - ping siswa sangat dibutuhkan. Pendamping memiliki tang - gung jawab terhadap siswasiswanya untuk menempuh pendidikan yang nyaman tanpa dihantui rasa keta ku - tan,” tegasnya. Akung menyesalkan masih adanya kasus kekerasan fisik dalam dunia pendidikan. Apa - lagi, pelakunya merupakan anak didik institusi itu. Kasus di Akpol bukan yang pertama, “Apapun alasannya kekerasan baik fisik maupun psikologis tidak boleh lagi ada di dunia pendidikan Indonesia," terang - nya.

Pada awal 2017 ini kasus penganiayaan taruna juga menggegerkan kampus Seko - lah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakar ta Utara. Akibat dianiaya senior, Ami - rullah Aditya Putra, 19, tewas dengan kondisi mem pri ha - tinkan. Akhir Maret lalu, Kres - na Wahyu Nurachmad, 15, siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang juga tewas karena dibunuh sesama siswa.

Eka setiawan/ andika prabowo






Berita Lainnya...