Edisi 19-05-2017
Tiga Daerah Tak Ambil Jatah Beras


PALEMBANG- Penyerapan beras sejahtera (rastra) hingga kini belum maksimal. Sebab, sampai pertengahan tahun ini misalnya, masih ada tiga daerah yang belum mengambil jatah beras untuk masyarakat prasejahtera.

Berdasarkan data Bulog Divre Sumsel dan Babel, ketiga ka bu - pa ten/kota yang belum me - ngambil rastra yakni Kabu pa - ten PALI, Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muratara. Hal ini disampaikan Kepala Divre Bulog Sumsel Babel, Bach tiar AS, kemarin. Dika takan dia, penyerapan beras yang belum dilakukan oleh pemerintah daerah dikhawatirkan akan berpengaruh pada kebutuhan beras oleh masyarakat di pasar tradisional. Apalagi, kebutuhan beras akan meningkat men - jelang bulan Ramadan. “Karena itu, Bulog juga meng inginkan agar Pemprov (Sumsel) bisa mengeluarkan edaran atau semacam penyampaian kepada pemerintah kota dan kabupaten, agar mengambil beras bagi masyarakat pra se - ja hteran,”ujarnya.

Menurutnya, menjelang bu lan Ramadan, hendaknya ke bu tuhan pangan bagi ma - syarakat. Terutama masyarakat pra - se jahtera dapat terpenuhi. Se - hingga, masyarakat tersebut ti dak akan kesulitan memper oleh beras di pasar tra - disional. “Jika jumlah rastra di tiga daerah ini ditotal, jumlahnya cukup besar. Jika kebutuhan pangan itu malah diperoleh dari pasar tradisional, maka tentu bisa berpengaruh pada harga dan stok beras di pasar tradisional,”terangnya. Berdasarkan datanya, ras - tra untuk tiga kabupaten/kota tersebut di antaranya Ka bupaten PALI sebesar 825,975 kg, Kota Lubuklinggau 708,075 kg, dan Kabupaten Muratara 923,850 kg. Sumber data yang sama diketahui, penyerapan beras rastra sampai dengan awal Mei lalu di Sumsel Babel sebesar 30,34%.

Diketahui tiga daerah di Sumsel yang sudah menyerap rastra paling tinggi di anta - ranya Kabupaten OKU, OKU Timur, dan OKU Selatan. Dikatakannya, Perum Bu - log juga mengupayakan agar pe nyaluran rastra tepat waktu. Mengingat, jarak tempuh ter - uta ma di Sumsel cukup ter se - bar, apalagi kabupaten dengan topografi perairan. Bulog juga menginginkan agar harga ras - tra di wilayah terluar atau ter - jauh juga tidak mengalami pe - ningkatan dari harga dasar Rp1.600/kg.

“Pada Juni mendatang, pe - merintah mengupayakan agar penyaluran rastra dapat se per - ti di Palembang. Di Palembang, beras rastra sudah bisa diambil dengan sistem bantuan pa - ngan nontunai (BPNT). Na - mun, bukan berarti penye rap - an beras untuk rastra nantinya langsung sama sekali diha pus - kan, meski sudah diarahkan ke BPNT,”terang Bachtiar. Untuk Mei ini, Bulog sudah menyerap sekitar 23.000 ton beras. Jumlah itu masih belum mendekati dibandingkan dengan target tahun ini yang men capai 120.000 ton beras. Na mun, sambung dia, jumlah serapan itu menyebabkan ca - dangan beras di Bulog Divre Sumsel Babel menjadi cukup un tuk enam sampai tujuh bu - lan mendatang.

“Penye rap an beras di petani akan terus di-la kukan, namun memang ada kla sifikasi beras yang diserap, misalnya beras tidak patah atau beras dalam kualitas baik,”pungkasnya. Menanggapi kondisi ini, Plt Sekda Sumsel Joko Imam San - to sa mengatakan, pihaknya akan segera membuat edaran atau pemberitahuan kepada pemerintah kota dan ka bu - paten yang penyerapan rastra masih rendah, atau sama sekali belum mengambil rastranya. Penyerapan rastra juga ber hu - bungan dengan kebutuhan pe - menuhan pangan bagi ma sya - ra kat, terutama mereka yang ma sih tergolong keluarga pra - se jahtera.

“Hari ini suratnya sudah akan disampaikan. Saya juga inginkan agar beras jangan men jadi komoditas pemicu inflasi. Selain itu, masyarakat juga harus terpenuhi kebu tu h - an pangannya, apalagi hendak puasa dan Lebaran. Jika perlu, penyaluran rastra dipercepat,” ungkapnya kemarin.

Tasmalinda




Berita Lainnya...