Edisi 23-05-2017
Pesta Gay Digerebek, 141 Ditangkap, 10 Dijadikan Tersangka


JAKARTA– Aparat Satreskrim Polres Jakarta Utara menggerebek pesta seks kelompok homoseksual (gay) di bangunan ruko Permata Blok B15–16, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu (19/5/) malam.

Sebanyak 141 orang, 4 di antaranya warga negara asing (WNA), ditangkap. Dalam pengembangan penyidikan kemarin, 10 orang ditetapkan sebagai tersangka. ”Sementara sisanya masih kami lakukan penyelidikan, termasuk mencari indikasi adanya (keterlibatan penggunaan/ jualbeli) narkoba,” ujar Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Dwiyono di Jakarta kemarin. Sejumlah kalangan mengapresiasi pengungkapan kasus ini.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai tindakan polisi tepat untuk menekan praktik prostitusi dan perilaku menyimpang. Berdasarkan data Polres Jakarta Utara, para tersangka adalah Christian Daniel Kaihatu( pemilik ruko), Nandez dan Dendi Padma Putranta (kasir), serta Restu Andri (petugas keamanan yang juga pemberi honor bagi penari). Selain itu ada 4 penari telanjang, yakni Syarif Akbar, Bagas Yudistira, Doni, dan Tommy Timothy.

Dua tersangka lain adalah pengunjung yang ikut menari bugil, yaitu Aries Suhandi dan Steven Handoko. Penggerebekan pesta seks bertema The Wild One itu dilakukan sekitar pukul 23.00 WIB (21/5). Sebanyak 20 anggota resmob dan jatanras Polres Metro Jakarta Utara bersenjata lengkap merangsek ke lantai 1 ruko yang difungsikan sebagai pusat kebugaran atau fitnes Atlantis Gym and Sauna. Di tempat itu polisi mengamankan seorang petugas keamanan.

Pesta liar kaum homoseksual ternyata berlangsung di lantai 2, 3, dan 4. Di lantai 2 yang digunakan sebagai kafe itu, polisi mendapati 4 penari telanjang tengah menghibur 2 tamu yang juga tanpa pakaian. ”Para penari bergerak liar. Mereka melakukan segala gerakan yang bisa memuaskan tamunya, mulai dari diikat, dicambuk, juga meliuk-liuk dalam kerangkeng besi.

Ada pula yang berkostum superhero,” kata salah satu penyidik yang ikut dalam penggerebekan. Aktivitas mesum itu juga ditemukan di lantai 3. Ratusan orang diduga telah mengetahui kedatangan polisi, tetapi tak bisa bergerak ke mana-mana. Karena itu mereka memilih mematikan lampu. Namun polisi dengan cepat mengamankan kaum gay yang juga dalam kondisi bugil itu.

Dalam penelusuran polisi, lantai 3 terdapat 16 kamar yang diduga menjadi tempat para kaum gay itu melampiaskan hasrat seksualnya. Petugas selanjutnya menyisir kelantai 4. Lantaiini merupakan ruang VVIP yang dilengkapi dengan jacuzzi, juga digunakan para pelaku pesta untuk menyalurkan syahwatnya. Dari ratusan orang yang diamankan, keseluruhan dalam kondisi telanjang.

Para peserta pesta itu memang diharuskan mencopot pakaian sejak di lantai 1 dan menyimpannya di loker. Selanjutnya petugas hanya memberikan handuk dan minuman soda bagi para tamu. Dalam penggerebekan ini polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya borgol, rantai, dan kostum striptis, serta alat kontrasepsi. Para ter-sangka dijerat dengan pasal berbeda.

Untuk 4 pengelola dikenai Pasal 30 juncto Pasal 4 ayat 2 UU 44/ 2008tentangPornografidengan ancaman hukuman penjara maksimal 6 tahun dan denda paling banyak Rp3 miliar. Mereka disangkakan sebagai penyedia sarana dan prasarana tempat hiburan dalam jasa pornografi. Adapun 6 tersangka lain dikenaiPasal36 juncto Pasal 10UU44/ 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimalRp5miliar.

Para penari striptis dan dua tamu ini disangkakan telah mempertontonkan diri dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persanggamaan, atau bermuatan pornografi.

Dibayar Jutaan Rupiah

Hasil penyidikan polisi, pesta kaum gay diduga kuat telah berlangsung selama setahun terakhir dan rutin digelar tiap akhir pekan. Penggerebekan dilakukan setelah polisi mengintai dua pekan sebelumnya. Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul, pesta seks kaum gayitu sering berpindah-pindah sehingga polisi sering sekali dikelabui dan sulit mengungkap.

”Apalagi mereka menggunakan kedok tempat berolahraga. Tapi ada kecurigaan-kecurigaan, kemudian kita kembangkan,” papar Martinus. Dalam penelusuran polisi, tidak semua orang dapat masuk dan bergabung dalam aktivitas tersebut. Hanya mereka yang terdaftar sebagai anggota (member) yang bisa mengikuti pesta cabul itu.

Untuk dapat mengikuti pesta The Wild One, setiap pelanggan diwajibkan membayar Rp185.000. Adapun mereka yang berumur 17–20 tahun diharuskan membayar Rp75.000. Mereka pun bebas menggunakan seluruh fasilitas ruko, termasuk berhubungan intim di kamar-kamar yang telah disediakan.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Nasriadi mengatakan, pestaliarkaumhomoseksual itubiasanya dilakukansetiapSabtu dan Minggu dari pagi hingga tempat fitnes tutup pukul 23.00 WIB. Para penari telanjang didatangkan khusus untuk menghibur para tamu. ”Mereka dibayar Rp900.000 sampai Rp1,4 juta untuk tiap show.Para penari dengan jam terbang tinggi dibayar Rp1,4 juta,” katanya.

Terungkapnya pesta asusila ini tak terlalu mengejutkan bagi warga sekitar. Mereka menduga tempat fines itu hanya kedok untuk berkumpulnya kaum gay. Ini karena yang datang selalu laki-laki. Selain itu para pegawai pria juga berlagak seperti perempuan. ”Semua pegawai kemayu (gemulai), termasuk pelanggannya. Mereka berjalan tidak seperti laki-laki normal,” kata Amal Fatrulloh, karyawan yang bekerja di samping ruko fitnes itu.

Amal menceritakan, tak jarang para tamu tempat itu berciuman di areal parkir. Sementara itu Doni, salah satu penari telanjang yang ditetapkan sebagai tersangka, mengaku telah lima kali mengikuti eventserupa. Pria berperawakan atletis ini dibayar Rp1,4 juta setiap show. ”Saya belum berkeluarga,” akunya.

Fenomena Gunung Es

Psikologdari UniversitasPancasila (UP) Aully Grashinta memandang homoseksual dan praktik seks sesama jenis merupakan perilaku menyimpang. Kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) umumnya akan bertindak eksklusif karena mereka menyadari tidak diterima masyarakat. ”Adanya kesamaan pandangan dan kebutuhan biasanya membuat kelompok ini semakin kohesif dan eksklusif,” ucapnya.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Sa’adi prihatin dan menyesalkan kasus di Kelapa Gading. Kasus ini menunjukkan homoseksual tidak bisa dianggap lagi menjadi masalah sederhana, tapi perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari semua pihak. Menurutnya, aktivitas berorientasi homoseksualitas sudah berkembang menjadi komoditas bisnis yang memiliki pangsa pasar dan jaringan yang rapi serta dikelola secara profesional.

Di lain pihak, koalisi LSM yang terdiri atas Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), LBH Jakarta, LBH Masyarakat, LBH Pers, Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), dan Arus Pelangi mengecam penangkapan kaum gay oleh polisi karena dianggap sewenangwenang, tak punya dasar hukum, dan bisa menjadi preseden buruk bagi kelompok minoritas gender dan seksual lain.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan bahwa kepolisian telah mempunyai bukti yang cukup untuk menetapkan para tersangka. Penangkapan tersebut dalam rangka penegakan hukum dan bukan kesewenangwenangan polisi.

yan yusuf/ r ratna purnama/ binti mufarida/ sindonews/ant













Berita Lainnya...