Edisi 19-06-2017
Ramadan dan Spirit Berwirausaha


Tiga pekan sudah seluruh umat muslim menjalani ibadah puasa Ramadan 1438 H. Atmosfer spiritual pun kian hari kian bergemuruh kencang, terutama memasuki 10 hari terakhir Ramadan.

Namun jika kita amati, dari tahun ke tahun ada sebuah fenomena yang selalu muncul, yaitu meningkatnya kadar konsumsi masyarakat Indonesia. Alih-alih berpuasa untuk “mengerem” konsumsi, nyatanya masyarakat kita justru semakin meningkatkan hasrat untuk mengonsumsi suatu barang. Belum lagi manuver dari produsen- produsen melalui tawaran promosi Ramadan yang semakin membuat masyarakat tergiur untuk berbelanja. Tak ayal, seolah-olah berbelanja merupakan bagian dari ibadah Ramadan itu sendiri. Namun bagi sebagian orang, fenomena tersebut dapat dijadikan sebagai peluang untuk mendulang rezeki di bulan berkah ini.

Tidak heran jika di bulan Ramadan ini banyak bermunculan wirausahawan skala mikro di tengah masyarakat kita, mulai wirausaha takjil buka puasa, parsel lebaran, kue lebaran, hingga pakaian lebaran. Perlu dicatat juga bahwa dengan berwirausaha, sebetulnya kita sudah berbuat kebaikan ke sesama manusia, dari kegiatan berwirausaha kita dapat membuka lapangan pekerjaan baru untuk orang lain, tentu ini akan memberikan multiplier effect yang positif.

Selain mendatangkan manfaat kepada diri sendiri, dengan berwirausaha, kita juga dapat mendatangkan kebermanfaatan kepada orang lain di sekitar kita. Dan juga, kita mampu berkontribusi dalam membantu pemerintah untuk mereduksi angka pengangguran di Indonesia. Kemunculan para wirausahawan mikro ini juga dapat memberikan sentilan tersendiri bagi masyarakat yang masih bersifat konsumtif dalam memenuhi kebutuhannya.

Dengan melihat banyaknya wirausahawan mikro, masyarakat yang konsumtif tadi diharapkan mampu mengubah paradigmanya dan beralih dari masyarakat konsumtif menjadi masyarakat produktif dengan jalur berwirausaha. Memang tidak mudah, seperti makna berwirausaha sendiri yang berarti berani mengambil risiko, artinya masyarakat dihadapkan pada beragam risiko yang harus ditaklukkan untuk benar-benar berani meninggalkan zona nyaman mereka dari konsumen menjadi produsen.

Pada akhirnya, datangnya Ramadan harus dijadikan sebagai poros spirit berwirausaha yang selama ini masih rendah. Hal ini terbukti dari data BPS (2017), yang menunjukkan bahwa rasio wirausaha di Indonesia sebesar 3,1%. Ratio ini terbilang masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia 5%, China 10%, Singapura 7%, Jepang 11%, maupun Amerika Serikat 12%. Ramadan sebagai bulan sinergitas dan perbaikan diri sudah seyogianya kita jadikan sebagai bulan pemberi spirit untuk berwirausaha.

Dengan kemunculan wirausaha mikro dari bulan Ramadan dan tetap sustaibnable di tahun-tahun berikutnya, bukan hal mustahil 10 sampai 20 tahun ke depan kita mampu mendongkrak angka rasio wirausaha mengalahkan AS. Meningkatnya rasio wirausaha diproyeksikan juga akan mampu membawa peningkatan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi ke depannya. Hal itu dapat kita capai bersama jika kita sama-sama mau memandang dan memulai Ramadan sebagai bulan spirit berwirausaha.

M RIFKI FADILAH
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi



Berita Lainnya...