Edisi 19-06-2017
Minim Sentimen Positif Jelang Libur Lebaran


JAKARTA– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan terakhir jelang libur panjang Hari Raya Idul Fitri 2017 diperkirakan bergerak flat karena minimnya sentimen positif.

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, pelemahan yang cukup dalam pada pekan sebelumnya diharapkan memberikan kesempatan pada IHSG untuk dapat berbalik menguat. Untuk itu dibutuhkan sentimen positif setelah dinaikkannya suku bunga The Fed di pekan lalu. “Perlu juga dipertimbangkan akan cenderung sepinya transaksi di pekan depan seiring jelang libur panjang Lebaran,” kata Reza di Jakarta kemarin. Dia memperkirakan pergerakan IHSG di pekan ini akan berada pada kisaran level support 5.692-5.700 dan resisten 5.755-5.787.

Hal tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang berada pada level support 5.660-5.670 dan resisten 5.735-5.770. “Pelaku pasar sebaiknya tidak terlalu berspekulasi memanfaatkan minimnya sentimen di pekan depan,” jelas Reza. Menurutnya, investor juga diminta memperhatikan perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada pekan ini. Pelaku pasar diharapkan bisa memanfaatkan momen dalam penyelenggaraan aksi korporasi tersebut.

“Dengan telah terdiskonnya IHSG dari posisi tertingginya diharapkan aksi jual dapat lebih mereda dan dapat dimanfaatkan untuk kembali masuk. Namun demikian, tetap cermati berbagai sentimen yang ada,” paparnya. Indeks pada perdagangan Jumat (16/6) akhir pekan lalu berakhir melemah 52,65 poin atau 0,91% ke level 5.723,64. Namun, untuk pergerakan IHSG sepanjang periode 12 Juni hingga 16 Juni mengalami penguatan sebesar 0,85% atau di atas pekan sebelumnya yang melemah 1,17%.

“Laju IHSG sempat melampaui high level dari pekan sebelumnya dengan berada di 5.797,12 dibandingkan sebelumnya di 5.765,83 seiring sempat kembalinya aksi beli,” ucapnya. Pergerakan IHSG di akhir pekan lalu seiring kembali maraknya aksi jual. Padahal, kata Reza, terdapat sejumlah sentimen positif terutama dari berbagai pihak terkait imbas kenaikan fed fund rate (FFR). Ini dinilai tidak banyak berpengaruh pada kondisi ekonomi dan pasar yang seiring masih stabil dan cukup kuatnya ekonomi Indonesia dalam menghadapi kenaikan tersebut.

Sementara itu, Vice President Research Department PT Indosurya Mandiri Sekuritas William Surya Wijaya menjelaskan, pekan terakhir jelang libur Lebaran akan cukup memengaruhi perilaku investor. Terutama untuk investor jangka pendek yang akan lebih mengurangi tingkat agresif di pasar. “Hal ini tentunya akan memberikan pengaruh terhadap pola gerak IHSG dalam jangka pendek hingga setelah libur Lebaran,” papar William.

Namun, menurut dia, jika terjadi peluang koreksi wajar, hal tersebut justru merupakan momentum untuk melakukan akumulasi pembelian mengingat kondisi jangka menengah maupun jangka panjang IHSG masih berada pada pola kenaikan (uptrend ). Reza melanjutkan, pada pekan ini juga terdapat rilis data perekonomian tentang penjualan mobil yang diperkirakan ada peningkatan. Hal ini sebagai dampak dari jelang Hari Raya Idul Fitri sehingga dapat mendorong kenaikan di beberapa emiten yang berkaitan dengan automotif.

“IHSG untuk awal pekan ini berpotensi menguat, saya memperkirakan pergerakan indeks akan berada di level 5.676 hingga 5.837,” tutur Reza. Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono mengatakan pergerakan IHSG di periode 12-16 Juni 2017 ditutup menguat 0,85% menjadi 5.723,63 poin dari 5.675,52 poin. Sejalan dengan penguatan IHSG, nilai kapitalisasi pasar juga menguat 0,88% menjadi Rp6.241,14 triliun dari Rp6.186,68 triliun. Investor asing mencatatkan aksi beli Rp172 miliar di sepanjang pekan lalu sehingga aliran dana investor asing dari awal tahun hingga akhir pekan ini tercatat beli bersih Rp19,73 triliun.

“Meski demikian, rata-rata nilai transaksi harian saham pada pekan ini mengalami perubahan 1,22% menjadi Rp6,47 triliun dari Rp6,55 triliun,” ujar Yulianto. Dia menjelaskan, rata-rata volume transaksi harian saham di pekan kemarin juga mengalami kenaikan 13,32% menjadi Rp6,96 triliun dari Rp8,03 triliun di periode sepekan sebelumnya. Sementara rata-rata frekuensi transaksi harian saham pekan ini juga berubah 7,98% menjadi 265.900 kali transaksi dari 288.960 kali transaksi pekan lalu. Total emisi Obligasi dan Sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2017 adalah 30 emisi senilai Rp46,37 triliun yang berasal dari 26 emiten.

Total emisi Obligasi dan SukukyangtercatatdiBEIberjumlah327 emisi dengan nilai nominal outstanding Rp331,38 triliun dan USD67,5 juta, diterbitkan oleh 109 emiten. AdapunSurat BerhargaNegara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 95 seri dengan nilai nominal Rp1.942,7 triliun dan USD 200 juta dan delapan emisi Efek Beragun Aset senilai Rp3,5 triliun.

Heru febrianto