Edisi 19-06-2017
Go Public Itu Mudah


Banyak pemilik perusahaan di dalam negeri yang ingin perusahaannya semakin besar. Ingin berekspansi mengembangkan bidang usahanya. Bagaimana caranya?

Pasar modal bisa dijadikan solusi. Perusahaan yang masuk ke pasar modal atau disebut go public juga akan meningkatkan profesionalitas dan transparansi perusahaan dan memiliki Good Corporate Governance (GCG) yang baik. Apakah go public itu sulit? Jawabannya mudah. Langkah pertama, perusahaan mencari perusahaan efek yang akan membantu proses go public.

Perusahaan efek yang memiliki izin sebagai penjamin emisi efek (underwriter), bertugas mempersiapkan proses penawaran umum saham hingga melakukan penawaran saham dan membantu proses pencatatan saham perusahaan setelah go public di bursa efek. Esensi dari proses go public adalah menawarkan saham perusahaan kepada publik sehingga masyarakatyangmembelisaham perusahaan (disebut investor) akan ikut menjadi pemilik perusahaan. Konsekuensinya, pemilik perusahaan lama tidak lagi menjadi pemilik perusahaan sepenuhnya.

Saham pemilik akan terdilusi karena sebagian saham sudah menjadi milik publik. Tetapi, dengantetapmenguasaimayoritas saham perusahaan, pemilik tetap menjadi pemegang saham pengendali perusahaan. Dana hasil penawaran saham kepada publik bisa digunakan untuk melakukan ekspansi, misalnya, membangun jaringan pemasaran, meningkatkan kapasitas pabrik, atau untuk modal kerja. Dengan menjadi milik publik, perusahaan semakin transparan karena harus secara berkala sesuai ketentuan pasar modal melaporkan neraca keuangan kepada publik.

Dengan menjadi perusahaan publik, perusahaan akan lebih sehat dan akan mendapatkan reputasi yang lebih baik. Otomatis akan semakin mudah juga jika berhubungan dengan institusi keuangan seperti perbankan. Perusahaan yang menawarkan saham kepada publik atau disebut dengan emiten, juga bisa menikmati insentif perpajakan. Ada beberapa tahap yang dilalui dalam proses go public. Pertama, persiapan dokumen, dibantuunderwriter dan lembaga profesi penunjang.

Perusahaan harus menunjuk lembaga dan profesi penunjang yang terdiri atas akuntan publik, notaris, dan konsultan hukum pasar modal. Tahap kedua, melakukan permohonan perjanjian pendahuluan pencatatan saham ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dan penitipan kolektif saham di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Ketiga, penyampaian pernyataan pendaftaran ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan menunggu hinggamendapatkan pernyataan efektif dari OJK. Setelah mendapatkan pernyataan efektif OJK, perusahaan bersama underwriter masuk ke tahap keempat, penawaran umum saham kepada publik.

Di tahapan ini masyarakat akan membeli saham perusahaan dengan harga yang sudah disepakati dan diperhitungkan berdasarkan nilai perusahaan oleh underwriter. Apabila perusahaan memiliki kinerja keuangan yang bagus dan prospek yang menjanjikan, umumnya jumlah permintaan pembelian saham akan lebih banyak dari saham yang ditawarkan. Jika ini terjadi, akan ada penjatahan saham dan uang pembelian akan dikembalikan kepada investor yang tidak dapat jatah saham.

Sebaliknya, jika tidak semua saham yang ditawarkan terbeli oleh investor, umumnya underwriter yang akan membeli seluruh sisa saham perusahaan. Tahap kelima, setelah proses IPO (Initial Public Offering ) atau aktivitas di pasar perdana selesai maka masuk ke tahap berikut, yaitu pencatatan saham di BEI. Saham perusahaan masuk ke pasar sekunder. Di pasar sekunder, pembelian dan penjualan saham perusahaan dilakukan melalui mekanisme bursa. Bagaimana setelah perusahaan masuk bursa? Perusahaan mendapatkan label baru, yaitu Tbk (perusahaan terbuka). Jika sebelumnya nama perusahaan misalnya PT Segar Sentosa, kini namanya menjadi PT Segar Sentosa Tbk.

Perusahaan kini menjadi milik publik dan harus mengikuti ketentuan (peraturan) di bidang pasar modal. Perusahaan kini menjadi perhatian media dan publik sehingga dapat membantu meningkatkan branding perusahaan. Menjadi perusahaan yang semakin dikenal dan terpercaya.

*Kerja Sama Redaksi KORAN SINDO dan Bursa Efek Indonesia