Edisi 19-06-2017
Alat Suntik Filler Berbentuk Pena


PERAWATANkecantikan suntik filler tampaknya masih digemari perempuan, khususnya di Indonesia.

Filler pun kini tidak diaplikasikan melalui suntikan konvensional, tetapi dengan alat suntik berbentuk pena elektronik. Country Manager Parvus Indonesia Fredrik Hendrik Soedira menuturkan, Parvus Indonesia, perusahaan medis di bidang kecantikan, mencatat bahwa sepanjang lima bulan pertama tahun ini, pertumbuhan penjualan meningkat lebih 100% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Ini menunjukkan semakin pesatnya perkembangan kebutuhan perawatan kecantikan di Indonesia,” ujar Fredrik di Hotel Four Season, Jakarta, Sabtu (27/5). Menurutnya, tren pasien yang menggunakan perawatan filler saat ini tidak hanya perempuan yang berusia di atas 30 tahun. Para perempuan usia 20-an pun mulai banyak yang melakukan perawatan serupa, begitu pula dengan kaum laki-laki, khususnya public figure .

“Memang 80% masih perempuan di atas 30 tahun melakukan suntik filler . Biasanya mereka melakukan perawatan filler untuk kantung mata dan bibir agar lebih berisi. Namun, saat ini banyak juga perempuan di bawah 30 tahun biasanya datang ke klinik estetika untuk membuat hidung lebih proporsional atau menghilangkan kantung mata,” ujar Fredrik. Sementara itu, menurut Direktur Asia Pasifik Teoxane Laboratories Christophe Dang, 80% produk filler yang digunakan saat ini merek Teoxane asal Jenewa, Swiss.

Untuk lebih mempermudah proses perawatan kecantikan melalui filler , Teoxane meluncurkan Teosyal RHA Filler dan Teosyal Pen, alat suntik elektronik tanpa kabel. “Teosyal Pen ini akan memberikan akurasi penyuntikan produk sesuai kebutuhan pasien untuk mempercantik diri,” ujar Dang. Dang menjelaskan, Teosyal Pen memberikan pemahaman baru tentang alat suntik yang modern. Alat suntik elektronik tanpa kabel ini membantu dokter mendapatkan hasil penyuntikan asam hialuronat yang terlihat alami di kulit pasien, dengan memberikan rasa yang nyaman serta waktu pemulihan yang lebih pendek.

“Alat suntik ini beratnya hanya 40 gram, sangat akurat, intuitif, cepat, dan mudah dalam penggunaan serta kompatibel dengan semua jenis jarum dan kanula untuk memenuhi berbagai tujuan dalam proses penyuntikan,” ujar Dang. Alat suntik elektronik ini secara otomatis mengontrol volume HA (hyaluronic acid ) pada saat proses penyuntikan ke lapisan kulit. Menurut Dang, dengan alat suntik elektronik ini, dokter hanya perlu fokus pada lokasi penyuntikan tanpa perlu memberikan perhatian khusus saat memberi tekanan yang konsisten pada alat suntik saat melakukan penyuntikan.

Dengan begitu, maka secara signifikan memberi kenyamanan bagi pasien. “Alat suntik elektronik berbentuk pena ini juga lebih akurat dalam kadar atau volume penyuntikan ke dalam kulit dibandingkan menggunakan jarum suntik yang dioperasikan secara manual, yang artinya ini penghematan bagi pasien,” ungkap Dang.

Dwi nur ratnaningsih