Edisi 19-06-2017
Bolehkah Penderita Epilepsi Berpuasa?


KENDATI ada kekhawatiran bagi penderita epilepsi untuk berpuasa, selama mampu menjalaninya tidak masalah.

Kecuali penderita yang masih dalam proses pengaturan obat, dia tidak disarankan berpuasa. Hal ini ditegaskan dr Irawaty Hawari SpS. Menurutnya, tidak masalah bagi orang dengan epilepsi (ODE) untuk berpuasa selama dia sanggup menjalaninya. Namun, apabila penyandang epilepsi masih dalam proses pengaturan obat dan mengalami bangkitan, disarankan untuk tidak berpuasa. Begitu pula pada penyandang epilepsi yang mengonsumsi beberapa obat anti epilepsi (OAE).

“Akan tetapi, bila serangan sudah teratasi, OAE bisa secara perlahan diatur atau diubah waktu meminumnya. Misalnya, si A biasa minum karbamazepin dua kali sehari satu tablet pada pukul 07.00 dan 19.00, maka dia dapat menggeser waktu minum obatnya sehingga bisa diminum saat sahur dan setelah berbuka puasa,” kata dr Irawaty dikutip dari ina-epsy.org . Sedangkan, bila harus minum obat tiga kali sehari satu tablet, bisa diubah menjadi dua kali setengah tablet. Dengan begitu, walaupun frekuensi minum obat berkurang, dosis per hari tetap sama atau tidak berubah.

Sedangkan, bagi mereka yang menggunakan OAE dengan dosis satu sehari, tentunya kala berpuasa hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia ini menjelaskan, saat ini memang ada beberapa obat antiepilepsi yang cukup diminum satu kali sehari, tapi bukan berarti saat puasa penderita epilepsi boleh langsung mengganti obat dengan dosis satu kali sehari. ODE juga tidak boleh menurunkan dosis atau menghentikan obat secara mendadak karena akan berakibat fatal.

Pada beberapa penelitian di luar negeri, memang banyak yang tidak menganjurkan penyandang epilepsi untuk berpuasa karena dikhawatirkan kondisi lapar (kurang kadar gula darah/hipoglikemia) akan mencetuskan kejangnya, demikian juga dengan waktu tidur yang berkurang. Akan tetapi, ternyata yang berpengaruh adalah karena siklus bangun-tidur mereka yang berkali-kali. Misalnya bangun sahur terlalu dini, sehingga setelah sahur tidur lagi sebentar sampai imsak/subuh, kemudian tidur lagi, atau mau iktikaf di masjid semalaman.

Dr Irawaty mengingatkan, setiap individu berbeda kondisinya, apakah sudah terkontrol bangkitan epilepsinya, obat apa yang diminum, berapa kali frekuensi pemberian obat, dosis, maupun jumlah obat yang harus diminum. “Jadi, sebaiknya konsultasikan lebih dahulu ke dokter Anda, apakah dimungkinkan untuk coba berpuasa dan bagaimana cara pengaturan obatnya,” ucap dr Irawaty.

Dia mewanti-wanti agar ODE tidak mengatur dosis sendiri atau mengganti obat, bahkan menghentikan OAE tanpa konsultasi ke dokter karena akan mengakibatkan bangkitan yang lebih berat, bahkan sampai mengancam jiwa. Bagi penyandang epilepsi, berpuasa tentunya menjadi suatu tantangan tersendiri. Hal ini berkaitan dengan kepatuhan minum obat. Namun, karena tekad yang sudah bulat, Yuliana, penderita epilepsi, tidak melihat hal tersebut sebagai suatu hambatan. Dia justru meyakini Allah SWT akan memberikan keringanan dalam menjalankan ibadah bagi hamba-Nya yang mengalami kondisi penyakit tertentu.

Berbekal keyakinan ini, ibu dua anak itu lalu berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya mengenai dosis dan perubahan jam minum OAE. “Untuk puasa, saya selalu mengikuti kondisi tubuh sesuai kesanggupan saya. Bila sudah tidak tahan dan seperti mendapatkan aura anfal, saya segera membatalkan puasa. Jadi, puasa saya mulai dengan bertahap, seperti belajarnya puasa anak kecil, tidak memaksakan diri,” beber Yuliana yang divonis epilepsi pada 2005. Kondisinya sebagai penyandang epilepsi, tidak lantas menjadikannya malas atau tidak mau berpuasa.

Beruntung Yuliana memiliki dukungan tanpa batas dari keluarga tercinta. Dia bahkan giat memberikan semangat kepada ODE untuk berpuasa, bangkit dan tidak menyerah pada keadaan, bahkan tetap berprestasi. Bangkitan epilepsi terjadi akibat adanya cetusan listrik yang berlebihan/abnormal di otak sehingga mengakibatkan kejang atau bentuk lain, seperti perubahan tingkah laku, perubahan kesadaran, dan perubahan lain yang hilang-timbul, baik yang terasa ataupun yang terlihat.

Untuk mengendalikan aktivitas abnormal tadi, penyandang epilepsi diharuskan untuk OAE secara teratur.

Sri noviarni