Edisi 19-06-2017
Ayunan Langit, Sensasi Berayun di Atas Jurang


Bukit Watu Jaran, dulu hanya dikenal oleh warga Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo sebagai puncak tertinggi di Pedukuhan Sabrang Lor.

Tempat inipun hanya disinggahi warga yang tengah merumput atau berburu. Namun dalam satu bulan terakhir bukit ini booming menjadi salah satu destinasi wisata dengan menawarkan ayunan di atas ketinggian yang dikenal dengan ayunan Langit Watu Jaran. Semenjak dibuka untuk masyarakat umum, kunjungan wisatawan ke tempat ini terus bertambah.

Apalagi banyak beredar foto-foto wisatawan di sejumlah media sosial. Foto selfie duduk pada ayunan di atas jurang sedalam ratusan meter menjadi sensasi tersendiri. Kepala Desa Purwosari, Purwito Nugroho Wiji Mulyanto destinasi ini hadir setelah ada program kemitraan dengan kalangan perhotelan. Kebetulan Desa Purwosari menjadi binaan dari Hyatt Regency Yogyakarta. Dari situlah kemudian muncul ide untuk mengembangkan ayunan langit. “

Ayunan Langit ini menambah destinasi baru, karena sebelumnya hanya ada Gua Sikidang Kencono,” ujar Purwito. Untuk sampai di lokasi ini, wisatawan langsung menuju ke Girimulyo dan bisa menanyakan arah ke Desa Purwosari kepada masyarakat. Kondisi jalan yang menanjak menjadi tantangan tersendiri dengan kondisi jalan yang halus.

Ayunan ini memilii ketinggian delapan meter di atas 750 diatas permukaan air laut (dpl). Begitu berayun, akan berada di atas jurang yang cukup dalam dan menjadi sensasi sendiri. Namun wisatawan tidak perlu takut, karenapengelolamenambatkan beberapa alat pengaman. Mereka juga melakukan perawatan ekstra untuk memastikan kondisi alat tetap safety.

“Bobot maksimal bisa sampai 500 kilogram,” ujarnya. Setiap pengunjung perlu mengeluarkan biaya total Rp30.000. Rinciannya, Rp10.000 untuk harga tiket masuk objek wisata, sudah termasuk ojek dari lokasi parkir ke ayunan, pergi pulang dan asuransi. Sedangkan Rp20.000 merupakan biaya untuk menikmati ayunan. General Manager Hyatt Regency Jogja, Nurcahyadi mengaku ide memunculkan ayunan langit muncul ketika pihaknya melihat banyak tamu hotel yang mengaku bosan dengan sejumlah destinasi wisata di Yogyakarta.

Wisatawan ingin destinasi wisata yang unik, baru dan memacu adrenalin.“Tren swafoto dan foto selfie itu berada di lokasi yang unik. Ini kita tawarkan disini,” ujar Nurcahyadi. Managemen hotel juga melakukan pembinaan kepada masyarakat. Mulai dari peningkatan kualitas homestay, pelatihan Bahasa Inggris hingga bagaimana melayani pengunjung agar terkesan.

Ke depan, di lokasi ayunan langit juga akan ditambah dengan lokasi swafoto, untuk mengisi waktu pengunjung saat menunggu antrian. “Operator sudah dilatih dan alat yang safety,”terangnya. Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo Krissutanto mengatakan pengelola wisata memang harus membuat sesuatu yang unik, dan atraktif supaya dapat menarik kunjungan wisata. Di Desa Wisata Purwosari sangat lengkap mulai dari curug, gua hingga agrowisata wisata.

Agrowisata didukung kebun salak, kambing PE, kapulaga, cengkih dan teh. “Dinas juga rutin membina desa-desa wisata dan pengelola obyek wisata,” ujarnya. Salah seorang wisatawan, Miazidah mengaku sensasi berayun di atas bukit dengan kondisi jurang dibawah menjadi tantangan.

Inimenjadidestinasi yang menatang adrenalin. Apalagi ketika ayunan pertama dilepas, terasa berdebar dan cukup menakutkan. Namun setelah menikmati rasa itu akan hilang dengan sendirinya dan membuat tertantang berpose terbaik. “Pertama itu jantung akan berdebar kencang, dan ini cukup menantang,” jelas wisawatan asal Sleman ini.

kuntadi



Berita Lainnya...