Edisi 20-06-2017
Hiraukan Bahaya demi Mengais Rezeki Musiman


Saat Ramadan, berbagai kebiasaan masyarakat Indonesia terus menjamur hingga kini. Salah satunya tradisi memainkan petasan dan kembang api.

Hal ini menjadi salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tak heran, saat Ramadan tiba, penjual petasan dan kembang api selalu saja muncul di sejumlah titik, walaupun menjadi penjual petasan cukup berisiko terhadap diri sendiri atau orang lain. Salah satunya adalah Mali, 65. Penjual petasan dan kembang api itu memilih berjualan di sekitar Jalan AH Nasution, Ujungberung, Kota Bandung, tepatnya di depan salah satu pusat perbelanjaan Griya Ujungberung. Saat ditemui KORAN SINDO, Mali mengaku dia sudah merintis usaha berjualan petasan dan kembang api sejak 2002 silam.

Artinya kini sudah 15 tahun. Mali adalah satu-satunya penjual yang paling berumur di antara penjualpenjual petasan dan kembang api lainnya. “Saya _berjualan sejak pukul 08.00 WIB dan baru pulang pukul 11.00 malam. Setiap hari selalu banyak yang datang, alhamdulillah. Rata-rata per hari pembelinya sampai 20 orang,” ujar warga asli Garut ini Kemarin. Pembelinya pun beragam, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Kebanyakan dari mereka memilih petasan jenis kembang api yang diluncurkan ke atas. Mali mengatakan, kendati masih banyak peminatnya, namun jumlahnya terus menurun.

“Anak-anak sih sebenarnya yang paling banyak peminatnya. Sampai saat ini, permintaannya meningkat. Kalau buat kalangan remaja dan dewasa itu menurun. Ramainya pembeli pas tiga hari Ramadan, kemudian seterusnya permintaannya menurun. Terus tujuh hari menjelang Lebaran, naik lagi. Hampir 50 orang datang setiap harinya,” ujar Mali. Petasan dan kembang api yang dijual Muin ini paling murah dihargai sekitar Rp1.000-5.000, paling mahal Rp300.000-400.000. Petasannya beraneka macam. Mulai dari kembang api, spinner, bola lima sot, dan lain sebagainya. Diakui dia, modal utama penjualan petasan dan kembang api ini mencapai Rp15 juta. Omzet per harinya adalah sekitar 500.000.

“Alhamdulillah buat bantu bantu keluarga, saya menghidupi anak orang. Jadi disyukuri saja, intinya mah saya cuman berniat nyari rezeki saja,” ungkapnya.

M-6
Kota Bandung

Berita Lainnya...