Edisi 17-07-2017
Oposisi Venezuela Gelar Referendum


CARACAS – Oposisi Venezuela menggelar referendum tidak resmi kemarin, untuk meningkatkan tekanan terhadap Presiden Nicolas Maduro yang hendak menciptakan majelis konstitusi.

Referendum simbolik ini bertujuan melemahkan legitimasi Maduro di tengah krisis ekonomi yang memburuk dan tiga bulan kerusuhan antipemerintah yang menewaskan hampir 100 orang. Para pemilih dalam referendum itu juga ditanya apakah mereka ingin pemilu dipercepat. Pemungutan suara dibuka sejak pukul 7 pagi waktu setempat di 2.000 tempat pemungutan suara (TPS) di penjuru negeri.

Langkah oposisi ini akan diikuti “zero hour”, yakni kemungkinan mogok kerja nasional atau aksi lain melawan Maduro. Meski demikian, referendum itu tampaknya tidak menunjukkan perubahan pemerintahan dalam jangka pendek atau solusi bagi krisis politik di Venezuela. Maduro, 54, menegaskan referendum itu ilegal dan tidak berarti apapun.

Meski demikian, Maduro berkampanye untuk pemilu parlemen 30 Juli mendatang untuk memilih majelis konstitusi baru yang dapat menyusun ulang konstitusi dan membubarkan lembaga negara. “Meski ada hujan, petir atau kilat, referendum Minggu (16/7) akan tetap jalan!” tegas pemimpin oposisi Venezuela Henrique Capriles saat siaran Jumat (14/7) malam, dikutip Reuters .

Dia menegaskan, “Kami rakyat Venezuela akan memilih untuk masa depan, tanah air dan kebebasan Venezuela.” Para pemilih akan mendapat tiga pertanyaan dalam referendum itu: apakah mereka menolak majelis konstitusi, apakah mereka ingin angkatan bersenjata membela konstitusi sekarang dan apakah mereka ingin pemilu sebelum periode jabatan Maduro berakhir pada 2018.

Beberapa pegawai negeri yang mendapat tekanan pe-merintah agar tidak berpartisipasi dalam acara oposisi itu, mencari cara kreatif untuk tetap memberikan suara dalam referendum tanpa diketahui. Re-ferendum juga diikuti rakyat Venezuela di luar negeri. Oposisi berharap refe-rendum itu diikuti jutaan orang dan hasil penghitungan suara akan diumumkan pada Minggu (16/7) malam waktu lokal.

Meski demikian, oposisi menghadapi beberapa penghalang utama. Mereka tidak memiliki akses pada infrastruktur pemilu biasa untuk menggelar referendum. Regulator telekomunikasi Venezuela, Conatel, memerintahkan stasiun televisi dan radio agar tidak menggunakan kata “pemungutan suara” saat menyiarkan kegiatan itu.

Conatel juga meminta media massa menarik iklan oposisi terkait referendum itu. Besarnya partisipasi pemilih dalam referendum itu akan mencerminkan meluasnya kekecewaan publik terhadap Maduro dan mendorong kampanye oposisi untuk menggulingkannya.

Meski demikian, rendahnya partisipasi publik akan membuat Partai Sosialis yang berkuasa semakin yakin membentuk majelis konstitusi. Para pejabat pemerintah menyatakan pemungutan suara itu melanggar undangundang yang mengharuskan pemilu digelar oleh dewan pemilu.

“Kami tidak membiarkan sayap kanan Venezuela berjalan sendiri dan mengganggu rakyat,” tegas Wakil Presiden Partai Sosialis Diosdado Cabello saat kampanye untuk pembentukan majelis konstitusi. Referendum itu digelar seiring unjuk rasa setiap hari oleh oposisi. Demonstrasi itu sebagian besar dilakukan para pemuda dengan bersenjata batu, bom molotov dan mortir rakitan untuk melawan pasukan antihuru-hara yang menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.

Kerusuhan itu mengakibatkan korban tewas di pihak demonstran dan pasukan keamanan. Sebagian besar korban tewas akibat peluru tajam. Ratusan demonstran juga ditahan aparat dan ribuan orang terluka sejak April lalu. Pekan lalu, tujuh pasukan Garda Nasional terluka akibat ledakan di Caracas. Pemerintah menuding oposisi sebagai pelakunya.

Video yang beredar di sosial media pada Jumat (14/7) lalu menunjukkan seorang pria dipukul, ditendang, dan dihantam kepalanya dengan senjata serta tameng setelah dilempar ke tanah oleh puluhan aparat keamanan.

Dia kemudian dinaikkan ke sepeda motor dan dibawa dengan darah mengucur di wajahnya. Video kedua menunjukkan pria berseragam menghancurkan jendela satu mobil setelah perkelahian dengan seorang perempuan di sisi jalan. Reuters tak dapat secara independen mengonfirmasi kebenaran video tersebut.

syarifudin



Berita Lainnya...