Edisi 17-07-2017
Tak Bebas Beribadah, Sehari-hari Bagaikan Hidup di Penjara


Untuk bisa melakukan salat di masjid raya di Kashgar, kota wilayah barat China, umat muslim dari etnis Uighur harus melewati pemeriksaan alat detektor.

Mereka berjalan melewati penjagaan ketat para polisi setempat. Otoritas setempat memang meningkatkan keamanan di wilayah Xinjiang yang dihuni mayoritas warga muslim Uighur. Mereka terpaksa menjalani kehidupan sehari-hari di bawah bayangbayang kematian.

Di sana, otoritas setempat melarang keras para pria untuk memelihara jenggot serta tidak diperbolehkan salat di tempat umum. Selama bertahun-tahun, alun-alun di luar masjid di Kashgar selalu dipenuhi kerumunan jamaah hingga berdesak-desakan di luar ruangan untuk salat dan merayakan Idul Fitri.

Namun, kondisi tahun ini berbeda karena semakin tidak kondusif. Para penduduk sekitar masjid menyebutkan tahun ini suasanya semakin hening dan menakutkan. Mereka harus menjalankan ibadah dalam bayang-bayang moncong senjata. Karena itu pula, jumlah warga yang berkumpul untuk merayakan Idul Fitri kemarin di kawasan tersebut menurun drastis.

Pihak berwenang menolak berkomentar mengenai angka tersebut. Namun, pengusaha lokal mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah setempat membangun beberapa pos pemeriksaan di sekitar jalanjalan Kota Kashgar untuk mencegah wisatawan bergabung dalam salat Idul Fitri.

“Di sini tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk menggelar kegiatan keagamaan,” tutur seorang sumber anonim seperti dilansir AFP. Pemerintah Beijing menyatakan pembatasan aktivitas beribadah dan banyaknya polisi di wilayah tersebut sebagai sebuah langkah untuk mengawasi penyebaran kelompok ekstremis Islam dan pergerakan separatis.

Namun, James Leibold—seorang analis keamanan China dari Universitas La Trobe, Australia, berpendapat wilayah Xinjiang telah berubah menjadi sebuah “penjara” di udara terbuka. “China telah menciptakan keadaan darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” jelas Leibold seperti dilansir AFP. Sejak 2009, pemerintah China meningkatkan keamanan dan pembatasan aktivitas beribadah umat muslim di Xinjiang.

Pemberlakuan ini setelah adanya insiden kerusuhan di Urumqi, ibu kota Xinjiang, yang menewaskan 200 orang. Pada Maret lalu, Presiden China Xi Jinping memerintahkan otoritas keamanan untuk membangun sebuah tembok raksasa yang terbuat dari baja di sekitar wilayah tersebut, setelah beberapa warga Uighur menyatakan bahwa mereka bagian dari kelompok ISIS di Irak.

Mereka akan kembali ke kampung halamannya dan menumpahkan darah seperti aliran sungai. Selama setahun terakhir, Beijing telah mengerahkan puluhan ribu anggota keamanannya di Xinjiang. Pospos polisi dibangun hampir di tiap-tiap blok, serta menjalankan aturan keamanan yang ketat dengan tujuan menumpas kelompok ekstremis.

Tanda-tanda umum terpajang dengan tulisan, “Tidak seorang pun diperbolehkan salat di depan umum atau memelihara jenggot sebelum usia 50 tahun. Sementara itu, pegawai negeri sipil dilarang untuk menjalankan puasa selama Ramadan .”

Di Kota Tashkurgan, wilayah dekat perbatasan Pakistan, otoritas setempat bahkan menutup sebuah restoran halal sebagai bentuk hukuman karena menolak membuka restorannya saat musim libur Ramadan. Sementara itu, seorang guru dan pegawai negeri sipil kepada AFP mengungkapkan bahwa sekolah-sekolah melarang muridnya untuk mengucapkan kalimat “Assalaamu Assalaamualaikum “.

“Pemerintah China menilai ucapan ini sama seperti separatisme,” ujar seorang PNS. Kamera pengawas atau CCTV bahkan terpasang di mana-mana, terutama di wilayah masjid terpasang sangat banyak. Sebuah masjid di bagian utara Kota Yarkand, misalnya, terpasang tiga kamera yang mengarah langsung ke tempat di mana imam salat biasa memimpin jamaah, sementara posisi kamera lainnya digantung menggunakan kayu terlihat seperti kelelawar.

Semua kamera pengawas masjid, gedung-gedung lainnya dan jalanan terhubung secara langsung dengan kantor kepolisian yang mengawasi aktivitas mereka setiap saat. Menjelang datang Idul Fitri, di wilayah gurun barat daya Kota Hotan, beberapa polisi berjaga di pos pemeriksaan dengan senapan serta dilengkapi dengan tombak terbuat dari pipa logam.

Pada sebuah perempatan jalan, beberapa pria dengan mengenakan rompi antipeluru menghentikan lalu lintas untuk memberi jalan pada puluhan truk berat lapis baja yang mengangkut peralatan dengan senjata terpasang. Seorang anggota polisi mengatakan bahwa setiap hari truk-truk melakukan patroli keliling kota selama Ramadan.

ARVIN