Edisi 17-07-2017
Turki Makin Menjauh dari Uni Eropa


ISTABUL – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kemarin mengecam sikap Uni Eropa (UE) dan negaranya akan berjalan dengan cara sendiri.

Penegasan Erdogan itu bersamaan dengan janjinya untuk menghidupkan kembali hukuman mati jika parlemen menyetujuinya. Dia menuding kalau Brussels telah mengabaikan upaya Turki selama beberapa dekade bergabung dengan blok tersebut. “Sikap UE sudah sangat jelas dilihat, 54 tahun mengabaikan dan mereka masih mengacaukan kita,” ujar Erdogan dalam pidatonya di depan istana presiden di Ankara kemarin pagi, dilansir Reuters.

Dia juga mengungkapkan UE gagal mewujudkan semuanya janjinya dari kesepakatan visa hingga bantuan bagi migran Suriah. Langkah Turki bergabung dengan UE akan sirna jika parlemen mendukung hukuman mati. “Saya tidak mendengar apa yang dikatakan Hans dan George. Saya akan mendengarkan apa yang dikatakan Ahmet, Mehmet, Hasan, Huseyin, Ayse, Fatma, dan Hatice,” ujarnya.

Namun demikian, Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan UE tetap berkomitmen membangun dialog dengan Turki. Dia menyerukan Ankara untuk memperkuat demokrasi dan penegakan hukum. Dia juga menentang Turki untuk memberlakukan kembali hukuman mati.

“Setahun setelah upaya kudeta, Eropa tetap membuka kesempatan,” tulis Juncker pada harian Jerman Bild am Sonntag. “Jika Turki memberlakukan hukuman mati, pemerintah Turki akhirnya menutup pintu keanggotaan UE,” ungkapnya. Sebelumnya ratusan ribu rakyat Turki turun ke jalan untuk memperingati kudeta gagal pada Sabtu malam (15/7).

Itu sebagai dukungan massal bagi Presiden Erdogan. Erdogan menyampaikan pidato emosional di depan ribuan warganya yang berkumpul di Istanbul. Dia berjanji akan menghukum para musuh yang melakukan kudeta. Dia juga memuji sikap warga sipil yang melawan tentara yang hendak melakukan kudeta.

“Mereka (tentara kudeta) menunjukkan tidak memiliki rasa belas kasihan saat mengarahkan senapan mereka ke arah rakyatku,” ujar Erdogan dilansir Reuters pada Sabtu (15/7). “Apa yang dilakukan rakyatku? Mereka mengibarkan bendera dan melakukan hal yang penting karena mereka memiliki kepercayaan,” paparnya.

Kudeta gagal setahun lalu itu telah menewaskan sedikitnya 260 orang dan melukai 2.196 warga. Akibat kudeta tersebut, 150.000 pegawai negeri dipecat dari institusi negara karena terkait dengan jaringan Gulen. Selain itu, 50.000 orang yang diduga terkait kudeta ditahan di penjara, termasuk di antaranya 10.000 tentara dan 2.745 hakim.

Terbaru pada Jumat (14/7) lalu, pemerintah juga memecat lebih dari 7.000 polisi, pegawai negeri, dan akademisi yang berasosiasi dengan kelompok pendukung kudeta. Erdogan juga memberikan pernyataan yang emosional dan menyentuh rakyat Turki. Dia mengungkapkan banyak orang pada malam kudeta tidak memiliki senjata api, tetapi mereka memiliki bendera dan yang lebih penting lagi adalah mereka memiliki keyakinan.

Tepat di atas jembatan Selat Bosphorus, Erdogan berpidato di hadapan puluhan ribu pendukungnya. Jembatan itu menjadi simbol saat warga sipil menghadapi tentara pendukung kudeta setahun lalu. “Saya bersyukur kepada semua rakyat saya yang membela negara mereka,” ungkapnya. Meskipun banyak korban tewas, dia mengungkapkan Turki telah memenangkan masa depannya.

“Kehadiran massa yang memenuhi jembatan pada malam itu ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka telah memegang kendali,” kata Erdogan. “Jutaan orang lainnya yang turun ke jalan pada malam itu untuk mempertahankan kehormatan bangsanya,” tegasnya. Erdogan mengatakan bahwa dia akan mematahkan kepala para pengkhianat yang merencanakan kudeta tersebut.

Erdogan juga mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Perdana Menteri Binali Yildirim tentang komplotan kudeta tersebut. “Ketika mereka muncul di pengadilan, ayo kita tampilkan mereka dengan seragam ala Guantanamo,” ujarnya saat berbincang dengan Yildirim. Di atas jembatan Selat Bosphorus tersebut, Presiden Erdogan memimpin doa bersama para pejuang bagi orangorang yang tewas akibat upaya kudetaitu.

Jembatan itu sendiri telah berganti nama menjadi Jembatan Martir sejak 15 Juli. Usai berpidato di hadapan massa, Erdogan kembali ke Ankara untuk berbicara di gedung parlemen, yang setahun lalu menjadi salah satu sasaran serangan oleh komplotan kudeta. Setelah itu, Presiden direncanakan meresmikan monumen korban kudeta di istana negara.

andika hendra m

Berita Lainnya...