Edisi 17-07-2017
Federer, Raja Wimbledon


LONDON – Petenis Swiss, Roger Federer, berhak menyandang predikat sebagai Raja Wimbledon setelah mengalahkan Marin Cilic 6-3, 6-1, 6-4 di Centre Court, tadi malam.

Dengan koleksi delapan gelar Wimbledon, dia melewati pencapaian tujuh gelar Pete Sampras di Era Terbuka dan William Renshaw sebelum Era Terbuka (era 1880). Keberhasilan tersebut membuat Federer tak kuasa menahan haru. Beberapa kali dia menyeka air mata dan menunduk dengan bahu berguncang. “Ini adalah lapangan yang istimewa.

Begitu banyak legenda telah mencatatkan namanya di sini. Saya tidak percaya berada di sini dan mencapai hingga setinggi ini seperti sekarang,” kata Federer setelah pertandingan. Melawan Cilic tadi malam, Federer menunjukkan kualitasnya. Sempat tertinggal 1-2, dia berbalik memimpin 3-2, sebelum akhirnya mengunci set pertama setelah mematahkan servis Cilic pada game ke-9.

Kemenangan pada set pertama, membuat Federer tampil lebih agresif di set kedua dengan memenangi game pertama saat giliran servis menjadi milik Cilic. Pada situasi lawan tertinggal 0-3, Cilic mendapatkan perawatan dokter dan tampak kesakitan meski akhirnya mampu melanjutkan pertandingan.

Namun, perjuangannya sia-sia karena petenis Kroasia itu menyerah 1-6 pada set kedua. Set ketiga, Cilic berusaha bangkit dan memberikan perlawanan di awal-awal set, tapi pada akhirnya Federer bisa kembali mematahkan servisnya pada game ke-7. Federer semakin tak terbendung dan memastikan gelar juara setelah mengunci set ketiga dengan skor 6-4.

“Kadang-kadang memang sangat kejam, tapi (Cilic) sudah berjuang dengan baik dan dia adalah pahlawan. Selamat atas sebuah turnamen yang indah. Cilic, Anda harus sangat bangga. Ini adalah momen spesial dan saya harap kita bisa bermain di tempat yang lebih baik ke depannya,” ucap Federer.

Berusia 35 tahun, membuat petenis asal Swiss tersebut menjadi petenis tertua yang menjadi juaradiWimbledonsejakEraTerbuka. “Rasanya hebat dan sangat berarti kembali di sini, memegang piala dan keseluruhan turnamen tidak kehilangan satu set adalah ajaib. Saya tidak dapat mempercayainya,” katanya. Bermain di lapangan rumput, Federer tidak berubah.

Gerakannya masih cair dan anggun, reaksinya masih tajam; backhand satu tangan yang menjadi ciri khasnya, tidak menunjukkan tanda-tanda karat karena usia. Imbasnya, petenis yang akan berusia 36 tahun pada Agustus mendatang ini berhasil menjuarai Wimbledon 2017 tanpa kehilangan set. Semua kelebihan tersebut belum bisa dipecahkan kompetitor big four lainnya; Rafael Nadal, Novak Djokovic, dan Andy Murray.

Ketiga petenis tersebut lebih mengandalkan pada kekuatan pukulan serta kekuatan menutup setiap inci lapangan dengan tenaganya. Beda dengan Federer yang kemampuannya lebih tentang kemahiran dibanding kebugaran. Tidak heran, jika ini adalah final Grand Slam kedua Federer di 2017, seusai kembali dari cedera.

Ya, setelah Wimbledon tahun lalu, dia memutuskan istirahat di sisa turnamen 2016 untuk penyembuhan lutut dengan pembedahan. Butuh waktu enam bulan sebelum kembali ke tenis pada 2017. Jeda istirahat tersebut membuat dia merasa bugar dan fit. Hasilnya, dia langsung menggebrak dengan meraih gelar AustraliaTerbukapada Januari, sekaligus menambah koleksi Grand Slam menjadi 18 gelar sekaligus yang pertama setelah puasa gelar empat setengah tahun.

Sedangkan Wimbledon tahun ini merupakan gelar Grand Slam ke-19. Diasepertiinginmembantah semua prediksi jika kariernya sudah habis karena, sejak 2012, tidak pernah mendapatkan gelar di ajang Grand Slam.

Dengan usia tak muda lagi, ditambah faktor cedera, bapak empat anak ini mengatur jadwalnya lebih hatihati. Jadi, gelaryangdiraihtahun ini, baikdiAustraliaTerbukaatau Wimbledon, merupakan hasil perencanaan matang.

maruf el rumi









Berita Lainnya...