Edisi 17-07-2017
ITF Sunter Senilai Rp3 Triliun Segera Dibangun


JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta segera melakukan ground breaking pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) atau sistem pengelolaan sampah dengan teknologi canggih di Sunter, Jakarta Utara.

Sejak mengambil alih pengelola an sampah di Tempat Peng olah an Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi dari pihak ketiga, DKI belum mampu mengatasi sampah di wilayahnya. Wakil Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Ali Maulana Hakim mengatakan, Pemprov DKI belum maksimal mena ngani persoalan sampah yang dihasilkan warga sebanyak 7.000 m3/hari.

Sejak mengambil alih dari PT Godang Tua Jaya pada Juli 2016, instansinya hanya bisa merapikan sampah yang semakin hari semakin meninggi. Untuk mengatasinya, Pemprov DKI akan membangun lima ITF. Sampah dibakar dan diolah menggunakan tekno logi incenerator sehingga menghasilkan energi listrik.

Dalam waktu dekat, badan usaha milik daerah (BUMD) PT Jakarta Propertindo berencana membangun ITF di Sunter. “PT Jakpro yang sudah men dapatkan pemenang lelang masih mendalami studi kajiannya. Dalam waktu dekat atau sekitar Oktober, rencananya dilakukan peletakan batu pertama di Sunter,” kata Ali, kemarin.

Dalam pembangunan ITF, Pemprov DKI menyiapkan lahan seluas 3,2 hektare di wilayah Sunter. Teknologi pengolahan sampah dengan incenerator akan dibangun de ngan pembiayaan pihak ketiga. Secara konsep, perjanjian kerja sama pengelolaan IT menggunakan built operating transfer (BOT), di mana pihak ke tiga diperbolehkan mengelola sampah yang disediakan Pemprov DKI sekaligus mengambil keuntungan dari listrik hasil pengelolaan IT tersebut dalam beberapa tahun.

“Saat ini masih dirundingkan kerja sama dan kelayakan studinya. Mungkin bisa sampai 25 tahun pengelolaan oleh pihak ketiga, baru dikembalikan ke Pemprov DKI,” ungkapnya. Kepala Badan Perencanaan PembangunanDaerah(Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati mengatakan, konsep perjanjian PT Jakpro dengan pihak ketiga sama dengan TPST Bantar Gebang.

Namun, ITF menggunakan teknologi waste to energy dari incenerator. “Hasil pem bakar an atau residu pembakaran akan diolah kembali menjadi residu. Lainnya diubah menjadi teknologi pembangkit energi listrik. Rencananya dijual ke PT PLN. Kami masih membahas kelanjutannya,” ujarnya.

Menurut Manager Business Development Division II PT Jakpro Olivia Allan, saat ini PT Jakpro yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah merampungkan kajian feasibility study (FS) ITF. Hasilnya meliputi waste sampling, tipping fee analysis, serta studi interkoneksi, termasuk soal analisis dampak lingkungan (Amdal) dan lalu lintas akses ITS.

“Kajian FS sudah final,” ucapnya. PT Jakpro tengah meneliti sampling sampah dari enam lokasi TPS yang akan mendistribusikan sampah ke ITF. Masing-masing tiga lokasi di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Enam lokasi sampling itu dipilah berdasarkan lokasi dekat permukiman dan pasar. Proses kajian bertujuan agar potensi jenis sampah yang diproduksi dapat diperhitungkan.

“Sesuai studi, kalori sampahnya mencapai 1.300-an dan bisa hasilkan 35-40 mega watt. Listrik itu bisa dijual ke PLN,” kata Olivia. Sejak akhir 2016, PT Jakpro mendapatkan pemenang lelang pembangunan ITF dari investor asal Finlandia yakni Fortum Finlandia. ITF akan menjadi sistem pengolahan sampah dalam kota yang per - tama dibangun di dalam kota Jakarta.

PT Jakpro meyakini Fortum Finlandia memiliki pengalaman selama 30 tahun dalam menangani sampah. Fortum akan membangun fasilitas ITF dengan teknologi incenerator di lahan seluas 3,2 hektare. Sebanyak 2.200 ton per hari akan dibakar dan diolah sehingga menghasilkan energi listrik.

Kapasitas listrik yang dihasilkan bisa mencapai 40 megawatt. Adapun nilai investasi proyek ITF menelan Rp3 triliun. Jakpro dan Fortum akan meng gunakan pola investasi BOT untuk membangun proyek pengolahan sampah yang ditargetkan rampung pada 2019.

bima setiyadi

Berita Lainnya...