Edisi 17-07-2017
DBS Siapkan Transfer Bisnis ANZ di Indonesia


JAKARTA – Sejak mengumumkan langkah akuisisi ANZ, Oktober tahun lalu, DBS Bank Ltd (DBS) terus menyiapkan sejumlah hal sehubungan dengan proses tersebut, termasuk di antaranya transfer bisnis ANZ ke DBS di masingmasing negara.

Untuk diketahui, DBS Bank Ltd mengumumkan akuisisi terhadap bisnis wealth management dan perbankan ritel ANZ di lima pasar dengan nilai sekitar 110 juta dolar Singapura pada 31 Oktober 2016. Portofolio bisnis yang diakuisisi mencakup di Singapura, Hong Kong, China, Taiwan, dan Indonesia, di mana pasar tersebut mewakili total nilai deposit sejumlah 17 miliar dolar Singapura, pinjaman sebesar 11 miliar dolar Singapura, investasi sebesar 6,5 miliar dolar Singapura dalam asset under management (AUM), dan total pendapatan sebesar 825 juta dolar Singapura untuk tahun finansial 2016.

”Melalui aksi korporasi ini, DBS berupaya memperkuat posisi sebagai bank penyedia layanan wealth management terdepan di Asia,” kata Director of Consumer Banking Bank DBS Indonesia Wawan Salum dalam keterangan resminya kemarin. Mengenai perkembangan terbaru terkait dengan proses akuisisi DBS terhadap ANZ di Indonesia, dia mengatakan bahwa saat ini perseroan tengah menyiapkan beberapa hal sehubungan transfer bisnis ritel ANZ ke Bank DBS Indonesia.

Hal-hal tersebut mencakup harmonisasi produk, harmonisasi fasilitas program kesejahteraan karyawan (employee benefit ), kelengkapan infrastruktur teknologi informasi (TI), dan persiapan rangkaian pelatihan. ”Kami tengah berkoordinasi dengan intens dengan ANZ Indonesia terkait persiapan hal-hal tersebut dengan diawasi oleh regulator terkait,” ujarnya.

Adapun proses akuisisi bisnis ritel dan wealth management ANZ oleh Bank DBS Indonesia ditargetkan selesai pada Februari 2018. Pengamat perbankan Sunarsip menilai langkah akuisisi oleh DBS tersebut akan melengkapi dan memperkuat posisinya di pasar Indonesia. Masuknya bisnis ritel yang selama ini menjadi kompetensi inti ANZ diperkirakan memperkuat bisnis ritel DBS di Indonesia.

Dia menilai selama ini DBS Indonesia memang berkeinginan untuk meningkatkan pangsa pasarnya di bisnis ritel, termasuk bisnis mikro dan UKM. ”Nah, dengan penggabungan ini diharapkan penetrasi pasar DBS Indonesia di bisnis ritel, termasuk pula wealth management, bisa meningkat,” ujar Sunarsip saat dihubungi kemarin.

Chief Economist Bank Bukopin itu menambahkan, harus diakui bahwa bisnis ritel perbankan di Indonesia sangat kompetitif. Namun, imbuh dia, meski tantangannya cukup besar maka potensinya pun sangat besar. Dia mengatakan banyak bank besar yang masuk kategori bank-bank BUKU IV sudah mantap posisinya di pasar ritel.

Infrastruktur yang dimiliki bank-bank itu pun menurut dia sudah cukup kuat, tidak hanya di perkotaan tetapi juga sudah menjangkau pedesaan. Namun demikian, potensi bisnis ritel perbankan di Indonesia masih terbuka luas.

Meskipun begitu, dia menilai tetap sulit bagi DBS Indonesia untuk mengambil alih pangsa pasar yang telah ada. Terlepas dari itu, kata dia, peluang DBS Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya terbuka lebar. ”Terlebih bila dukungan dari induknya di Singapura juga besar,” imbuhnya.

kunthi fahmar sandy