Edisi 17-07-2017
Laju IHSG Dibayangi Aksi Jual Investor


JAKARTA– Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini dibayangi aksi jual (profit taking) investor karena minimnya sentimen positif yang ada di pasar. Pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan harga minyak mentah dunia merupakan satu di antara sentimen yang menekan laju kenaikan bursa.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, IHSG pekan ini diperkirakan akan berada pada kisaran level support 5.800-5.822 dengan level resisten 5.840-5.858. Naik tipis dibanding pekan sebelumnya di level support 5.784-5.800 dan resisten 5.827-5.839. Hal ini dipengaruhi imbas pencapaian new high record dua pekan lalu yang membuat posisi IHSG dinilai masih mahal.

“Ini mendorong maraknya aksi jual. Pelaku pasar pun masih memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengurangi posisi sehingga mengurangi potensi bertahannya IHSG di zona hijau,” ungkap Reza kemarin. Dia memperkirakan laju kenaikan IHSG akan kembali variatif cenderung tertahan karena masih ada tekanan jual dan minimsentimen positif. Minimsentimen positif terutama dari rupiah terdepresiasi dan harga obligasi masih melemah turut menghadang potensi pembalikan arah naik tersebut. “

Tekanan datang dari sentimen dari masih melemahnya laju nilai tukar rupiah dan obligasi serta dibarengi dengan melemahnya harga minyak mentah dunia. Pekan kemarin minyak dunia sempat naik, tapi diimbangi dengan pergerakan USD setelah testimoni Janet Yellen di hadapan kongres,” tutur dia.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai harga minyak mentah dunia masih akan bergejolak hingga penghujung tahun ini. Kondisi itu akibat kebijakan pembatasan produksi minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Karena itu, situasi tersebut bakal sangat memengaruhi gerak minyak dunia.

Kondisi itu semakin pelik menyusul sikap Rusia tidak mau mengikuti aturan pembatasan produksi OPEC tersebut. “Itu akan sedikit menekan harga minyak dunia. Kemudian secara tren harga minyak masih tertekan, masih di kisaran USD40 per barel,” ucap dia. Menurut Ariston, pergerakan harga minyak mentah hingga akhir tahun ini akan berada di kisaran USD40 hingga USD48 per barel.

Saat ini harga minyak mentah berada di level USD44 per barel (West Texas Intermediaries/WTI). Apalagi, dalam jangka pendek secara tren masih turun. “Banderol minyak akan mengikuti circuit pada level support USD40-48 per barel hingga penghujung tahun,” kata dia. Pembatasan produksi, lanjut Ariston, sangat berperan terhadap gejolak harga minyak mentah.

Di Amerika Serikat (AS) misalnya produksi mulai turun dan diharap dapat mendongkrak sedikit harga minyak dunia. Karena itu, hingga penghujung tahun ini gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi berada di kisaran Rp13.400-13.500 per USD. Fluktuasi nilai tukar terjadi seiring pengaruh sentimen eksternal.

Menurut dia, sentimen tersebut memiliki potensi besar untuk memengaruhi nilai tukar sehingga ada wacana kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun ini. Selain itu, masih ada sentimen lain datang dari eksternal. “ Jadi, tekanan terhadap rupiah masih relatif besar,” tegas Ariston. Research Analyst OCBC Sekuritas Indonesia Liga Maradona melihat tren IHSG pekan ini masih dibayangi pelemahan.

Para investor akan menunggu sentimen positif emiten khususnya yang termasuk LQ 45. Sedangkan sentimen dari luar seperti AS masih menunggu kebijakan penurunan pajak korporasi yang masih belum jelas. “Pekan lalu indeks ditutup naik tipis. Begitu juga pekan ini yang berada di kisaran 5.770-5.855. Hasil laporan keuanganemiten yang akan segera dirilis seperti Bank Mandiri, Bank BCA, Telkom, dan Unilever,” kata Maradona.

Sebagai catatan pergerakan IHSG pekan lalu hanya menguat 0,29% di atas pekan sebelumnya yang melemah - 0,26%. Indeks minim sentimen positif sehingga cenderung lebih banyak bergerak di teritori merah sepanjang pekan kemarin.

Rekor high levelhanya mencapai 5.843 dari sebelumnya di 5.910. Banyak aksi jual pasca-IHSG menyentuh rekor tertinggi membuat laju IHSG kian tertekan sepanjang pekan kemarin. Investor asing juga mencatatkan keluar dari pasar dengan melakukan aksi nett sell Rp2,96 triliun atau naik dari pekan sebelumnya Rp1,98 triliun.

hafid fuad