Edisi 17-07-2017
Ketegaran dan Kesabaran


Alkisah, sepulang dari menerima sekolah, Putri datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran di teras belakang rumah.

“Ayah,” sapa Putri dengan kepala tertunduk dan nada suara yang murung. Sambil menurunkan koran yang sedang dibacanya, sang ayah memandang putrinya yang beranjak remaja itu. Ia tahu, ada sesuatu yang menjadi beban pikiran anak kesayangannya itu. “Ada apa, Nak? Bagaimana sekolahmu?” Dengan lesu, Putri menjawab, “Ayah.

Putri merasa capek. Yah, Putri sudah belajar matimatian, untuk mendapat nilai bagus di sekolah. Tapi, teman sekelasku selalu bisa mendapat nilai lebih bagus dengan cara mencontek. Itu kan tidak adil namanya. Selain itu, Putri juga capek karena harus membantu ibu membersihkan rumah hingga waktu belajar pun jadi berkurang, sedangkan teman Putri rata-rata mempunyai asisten rumah tangga yang setiap saat bisa menyelesaikan semua urusan rumah.”

Dengan suara lebih lantang, Putri melanjutkan unek-uneknya. “Putri juga capek karena harus menabung dulu untuk bisa membeli sesuatu, sedangkan teman-teman bisa belanja tanpa harus menabung. Lebih capek lagi, Putri harus menjaga segala ucapan dan tingkah laku, sedangkan teman-teman seenaknya berbicara, bahkan kadang mereka melontarkan ucapan yang membuat Putri sakit hati.

Pokoknya, Putri capek menahan diri. Putri ingin seperti mereka. Bebas berkata dan melakukan apa pun,” ungkap dia dengan nada berubah sendu, hingga kemudian ia pun mulai meneteskan air mata dan menangis tersedu-sedu. Sambil mengelus kepala si Putri penuh sayang, sang ayah berkata, “Ayah tahu kamu sudah berusaha belajar maksimal.

Ayah juga tahu kamu selalu berusaha jadi anak yang baik. Semua itu juga demi kebaikanmu. Jangan menangis. Besok Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Keesokan harinya, sang ayah mengajak Putri pergi ke suatu tempat yang tak jauh dari rumahnya. Di sana mereka berhenti sejenak di tempat, yang di depannya ada semak belukar dan pepohonan rindang.

“Kamu harus ikut. Tapi, hati-hati ya. Ikuti langkah Ayah baik-baik.” Tak lama, ayah-anak itu menyusuri jalan yang penuh semak belukar di depannya. Mereka juga melintasi jalanan berlubang di sana-sini dengan banyak genangan air, pepohonan berduri, dan berbagai serangga yang berdengung di sekitar mereka.

Jika tak hati-hati, banyak ranting tajam dari berbagai pepohonan yang bisa menggoreskan luka atau merobek baju. “Ayah, kita mau ke mana sih?” tanya Putri bingung. “Jalanan begitu kotor, seram, tak banyak sinar matahari. Kaki Putri luka tergores duri. Banyak nyamuk dan serangga pula!” Sang ayah hanya menjawab pendek, “Sabar Putri, yang tegar, sebentar lagi....” Setelah sekian lama, di akhir perjalanan, mereka sampai di sebuah telaga yang menakjubkan.

Airnya sangat jernih dan segar. Di sekelilingnya bunga yang cantik dan pepohonan rindang yang menyejukkan, serta burung dan kupu- kupu beraneka warna. Putri terpana kagum. Ia tak mengira, di tempat yang tak jauh dari rumahnya, ternyata ada pemandangan yang begitu indahnya. “Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi, padahal tempat ini amat indah?” Tanya sang ayah.

“Karena tidak banyak orang yang mau bersusah payah menyusuri jalanan yang jelek dan penuh tantangan tadi sehingga mereka tidak bisa menikmati surga alam yang begitu elok dan menawan ini.” Sembari mengelus kepala Putri, sang ayah melanjutkan nasihatnya, “Untuk menikmati sesuatu yang indah, perlu perjuangan dan kesabaran.

Seperti kehidupan ini, harus sabar, tegar dalam bersikap baik, sabar dalam kejujuran, sabar dalam memperjuangkan kebenaran nilai. Tegar dalam menghadapi setiap kesulitan dan masalah yang muncul.” “Tapi, kan tidak mudah untuk selalu bersabar dalam kebenaran, apalagi aku yang mengalami banyak kejadian yang kurang menyenangkan di sekolah?” “Memang,” jawab sang ayah dengan lembut.

“Karena itu, Ayah dan Ibu senantiasa menggenggam tangan Putri, membimbing dan mendukungdalamkebaikandankebenaran. Hingga kelak suatu saat nanti, Putrimamputegakberjalan sendiri, muliabagi keluargadansesama. ApakahPutrimengerti?” “Mengerti Ayah, terima kasih.”

The Cup of Wisdom

Kadang, ada banyak orang yang merasa iri karena membanding- bandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa lemah dan tak bisa apa-apa karena merasa tak punya fasilitas ini dan itu. Bahkan, ada yang kemudian merasa, bahwa takdir dan kondisi saat lahir membuatnya tak bisa sukses. Saat gagal sekali, saat kalah sekali, saat jatuh sekali, sudah menjadi “kiamat” yang dianggap tak bisa diubah lagi.

Kondisi tersebut menjadikan diri “manja” sehingga akibatnya, tantangan yang sebenarnya bisa menguatkan, justru jadi beban kehidupan. Padahal, sejatinya hidup adalah perjuangan. Kita terlahir sebagai pejuang, terutama untuk mengendalikan dan “mengalahkan” diri sendiri. Seperti kata motivasi yang sering saya ucapkan, “Kalau kita lunak pada diri kita, kehidupan akan keras terhadap kita.

Tetapi kalau kita keras terhadap diri kita sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap kita.” Untuk itu, jika ingin mencapai keindahan laksana alam nan indahdalamkisahtadi, mari menjalani hidup dengan penuh keberanian, keuletan, dan kesabaran. Terus berjuang, pantang menyerah, siapkan mental, agar kita jadi pemenang sejati kehidupan. Salam sukses luar biasa!

ANDRIE WONGSO