Edisi 17-07-2017
Konektivitas Udara Terus Ditingkatkan


JAKARTA– Pemerintah terus mendorong peningkatan konektivitas udara dalam rangka menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke berbagai destinasi wisata.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sangat berkepentingan dengan ihwal yang terkait aksesibilitas dan konektivitas udara seperti pembukaan rute baru penerbangan dan peningkatan kapasitas angkut (seat capacity) yang ujungnya akan meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia. Pasalnya, 75% wisman datang ke Indonesia melalui pintu bandara.

Maka itu, pada berbagai kesempatan, Kemenpar turut menjajaki peluang kerja sama dengan pemerintah ataupun maskapai negara lain. Belum lama ini Kemenpar yang diwakili Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pasar Asia Tenggara Rizki Handayani melakukan pertemuan dengan Manajer Silk Air Laos Caleb Sim di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Viantiane, Laos.

Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (12/7) membahas potensi kerja sama dan penerbangan langsung dari maskapai milik grup Singapore Airlines itu ke Indonesia, termasuk juga peluang membuka penerbangan ke 10 destinasi wisata prioritas yang telah ditetapkan oleh Kemenpar. Rizki mencontohkan Bandara Silangit di Sumatera Utara yang statusnya akan menjadi Bandara Internasional tahun ini.

Peluang lain adalah destinasi wisata di Borobudur dengan paket Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Wisata alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama kawasan Joglosemar sangat layak dipasarkan ke dunia internasional. “Bandara Adisucipto dan Ahmad Yani yang masuk Great Joglosemar memiliki kontribusi besar sebagai pintu masuk utama wisman dan juga bisa terus ditambah untuk didatangkan Silk Air,” ujar dia seusai pertemuan, seperti dikutip melalui siaran persnya kemarin.

Upaya penjajakan tersebut merupakan bagian dari strategi hard selling yang menjadi fokus Kemenpar tahun ini. Sebelumnya selama dua tahun Kemenpar menggencarkan strategi brandingWonderful Indonesia. “Tahun ini kami lebih fokus selling dengan persentase 50%, branding 30%, dan advertising 20%,” ucap Kiki.

Pada kesempatan yang sama, Caleb Sim mengungkapkan antusiasme Silk Air untuk menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Indonesia. “Kerja sama bisa kita mulai dari mana saja. Kami suka dengan famtrip (familiarization trip), festival-festival, sehingga kami bisa membuka penerbangan baru ke Indonesia. Terutama membawa pasar Laos yang punya kemiripan dengan Indonesia,” ungkap dia.

Pihak Silk Air akan segera mendata biro tour and travels dan industri terkait pariwisata lain di Laos, yang nanti akan diikutsertakan dalam kegiatan famtrip atau wisata pengenalan di Indonesia. Menurut Caleb, seperti di dunia, Bali juga sangat populer di Laos.

Namun, pihaknya juga mendukung upaya Pemerintah Indonesia mengenalkan destinasi lain di Indonesia yang tak kalah indah. “Kami akan coba membuka penerbangan dari Laos ke Bangkok maupun Singapura dan langsung menuju tempattempat destinasi lain selain Bali,” sebut dia.

Terpisah, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana menjelaskan beberapa rute penerbangan yang baru dibuka dan akan dibuka ke destinasi wisata di Indonesia. Antara lain maskapai Batik Air yang akan terbang dari Chennai (India) ke Bali, maskapai Jetstar yang rencananya terbang dari Australia ke Lombok, dan maskapai berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) asal Korea Selatan yang berniat terbang ke Lombok.

Rute lainnya adalah dari Singapura ke Belitung dan dari China ke Tanjung Pinang. Menurut Pitana, kian banyak maskapai asing yang berminat terbang ke Indonesia menunjukkan bahwa pariwisata Indonesia kian dilirik wisman dunia, dan hal itu tak terlepas dari gencarnya promosi dan brandingWonderful Indonesia.

Pitana mengharapkan komitmen pemerintah daerah untuk ikut berkontribusi dalam mendongkrak pariwisata di daerahnya. “Pekan ini saya akan rapat dengan gubernur Nusa Tenggara Barat untuk menanyakan kontribusi dan kemudahan yang bisa diberikan pemda.

Kita bisa lihat contoh Manado, banyak yang mau terbang dari China ke Manado karena banyak insentif yang diberikan pemda. Dengan banyak wisman datang, hotel dan restoran penuh, cenderamata laku. Ekonomi bergerak dan pajak pun masuk,” tutur dia.

inda susanti