Edisi 17-07-2017
Cegah Prediabetes Jadi Diabetes


PREDIABETES yang merupakan pencetus diabetes melitus tipe 2 (DMT2) menjadi permasalahan kesehatan global, termasuk di Indonesia. Jika tidak ditangani dengan baik, dalam jangka waktu pendek prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2.

International Diabetes Federation 2011 memperkirakan, pada 2030 sebanyak 398 juta penduduk dunia akan mengalami prediabetes. Sementara itu, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menemukan bahwa prevalensi DMT2 daerah perkotaan Indonesia sebesar 5,7%, sedangkan prevalensi prediabetes hampir dua kali lipatnya, yaitu 10,2%.

Hasil riset ini diperkuat data Departemen Kesehatan 2008 yang menyatakan, prevalensi prediabetes di Indonesia dua kali lipat dari angka penderita DMT2 atau 11% dari total penduduk Indonesia. Hal ini berarti jumlah penduduk Indonesia yang terkena DMT2 akan meningkat dua kali lipat dalam waktu dekat. Meski jumlah prediabetes di Indonesia semakin tinggi, manajemen untuk pasien prediabetes belum banyak dikaji.

Selain itu, kurangnya pedoman dan upaya deteksi dini prediabetes membuat kondisi prediabetes tidak diketahui dan tidak teramati. Prof Dr dr Mardi Santoso DTM&H Sp.PD-KEMD FINASIM FACE, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) wilayah Jakarta, menjelaskan, jika tidak ditangani dengan baik, dalam jangka waktu pendek, prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2.

“Melakukan deteksi dini prediabetes dapat mencegah peningkatan prevalensi DMT2 yang berhubungan dengan mordibitas, risiko progresivitas penyakit, biaya, dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular dini,” ujar Prof Dr dr Mardi Santoso DTM&H Sp.PD-KEMD FINASIM FACE.

Upaya pencegahan prediabetes dapat dilakukan dengan beristirahat cukup; mengonsumsi makanan rendah kalori dan tinggi serat, seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan biji-bijian; serta melakukan aktivitas fisik minimal lima kali dalam seminggu dengan durasi 30-60 menit.

Kasus prediabetes menyerupai fenomena gunung es, di mana jumlah individu yang belum terdeteksi DMT2 (termasuk prediabetes) lebih banyak dibandingkan DMT2. Karena itu, prediabetes sebagai pencetus harus dapat diatasi sehingga angka penderita DMT2 dapat ditekan.

Adapun penanda prediabetes yaitu kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl dan atau kadar glukosa darah 2 jam postprandial 140-199 mg/dl. Dalam jangka waktu 3-5 tahun, 25% prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2, 50% tetap dalam kondisi prediabetes, dan 25% kembali pada kondisi glukosa darah normal.

Melihat tingginya prevalensi prediabetes, Nutrifood bekerja sama dengan Kemenkes RI, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) mengadakan program edukasi bertema “Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes” yang diikuti 100 dokter umum puskesmas di lima wilayah DKI Jakarta.

Drg Dyah Erti Mustikawati MPH, Kepala Subdirektorat Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolisme Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) mengatakan, Kemenkes RI, khususnya Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, menyambut baik inisiatif berbagai pihak dalam mengadakan program edukasi pentingnya deteksi dini dan pencegahan prediabetes.

Susana selaku Head of Nutrifood Research Center mengatakan, pihaknya menyambut baik respons positif Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia).

Program ini merupakan kelanjutan dari rangkaian program edukasi “Cermati Konsumsi Gula, Garam, Lemak (GGL), dan Baca Label Kemasan Makanan” sebagai dasar edukasi pencegahan penyakit tidak menular (PTM). Adapun program edukasi “Cermati Konsumsi Gula, Garam, Lemak (GGL) dan Baca Label Kemasan Makanan” telah dilaksanakan sejak 2013 melalui berbagai kegiatan.

sri noviarni