Edisi 06-08-2017
Mengagumi Semesta, Mensyukuri Bumi


Ketertarikan manusia terhadap fenomena alam semesta telah muncul sejak ribuan tahun silam. Tak heran, disiplin ilmu astronomi menjadi salah satu cabang ilmu tertua.

Agustinus Gunawan Admiranto, peneliti di Pusat Sains Antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menulis buku ini untuk memaparkan kembali pengetahuan- pengetahuan dasar astronomi berkaitan dengan tata surya dengan gaya penyajian yang sederhana.

Buku yang terdiri dari lima bab ini hanya berfokus pada tata surya, bukan seluruh benda langit yang telah dipelajari manusia. Pembahasan tentang tata surya banyak terpusat pada ulasan tentang matahari mulai dari proses pembentukannya, bagian-bagian yang menyusunnya, termasuk kemungkinan habisnya bahan bakar inti di matahari yang akan menyebabkannya membesar menjadi ”bintang raksasa merah”.

Matahari saat ini diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun ditaksir akan menjadi bintang raksasa merah pada 6,4 miliar tahun mendatang (hlm 48). Bumi satu-satunya rumah bersama manusia merupakan planet istimewa sehingga bisa mendukung berlangsungnya kehidupan yang berkembang di permukaannya.

Planet yang mengorbit matahari pada 150 juta kilometer ini memiliki air dalam tiga tingkat wujud, yakni cair, beku, dan uap. Bumi tidak terlalu panas, seperti Merkurius dan Venus serta juga tidak terlalu dingin seperti Mars. Ketebalan atmosfer bumi yang seimbang memungkinkan kehidupan berlangsung di bumi.

Jika ketebalan atmosfer bumi seperti Venus yang 80 kali lebih tebal, tidak mungkin ada kehidupan di bumi. Sebaliknya, bila lebih tipis, maka meteor akan mudah masuk ke bumi dan tidak sempat terbakar di udara (hlm 77). Di antara fakta menarik tentang atmosfer adalah bahwa 20% oksigen yang ada di atmosfer ternyata dihasilkan oleh hutan di daerah Amazon.

Atmosfer saat ini merupakan atmosfer ketiga sejak bumi terbentuk dikendalikan oleh ganggang hijau biru yang terdapat di lautan. Ganggang inilah menjaga proses yang menghasilkan keseimbangan jumlah oksigen dan karbon dioksida. Ada juga bagian membahas tentang keadaan iklim bumi saat ini khususnya terkait dengan isu perubahan iklim.

Perubahan iklim global diperkirakan terjadi mulai era revolusi industri. Kecenderungan meningkatnya iklim global disebabkan oleh semakin banyaknya gas rumah kaca (karbon dioksida dan metana) yang terlepas ke atmosfer. Namun, para ahli masih tidak sepakat seberapa besar sumbangan manusia pada peningkatan jumlah gas rumah kaca ini (hlm. 91-92).

Bagian yang menarik dari buku ini terdapat di bagian ”lampiran”. Di sini Admiranto berusaha memberikan bantahan atas ”teori” bumi datar yang belakangan cukup populer. Penganut ”teori” bumi datar ini menurut Admiranto, umumnya tergolong tidak kritis dan menyukai hal-hal sensasional.

Mereka juga menyukai teori persekongkolan, misalnya dengan mengatakan bahwa NASA didirikanolehmantantokoh- tokoh Nazi Jerman. Ada rencana jahat dari pihak tertentu mengurangi penduduk bumi secara drastis (depopulasi) atau adanya sekelompok manusia ingin membentuk satu Tata Dunia Baru.

Pandangan kelompok ini sering tidak mendidik, menakut-nakuti, dan mempersempit nalar. Kelemahan utama kelompok ini adalah mereka tidak memiliki bangunan teori yang konsisten dan utuh untuk menjelaskan klaim-klaim mereka. Bahkan, teori ini dapat dibantah dengan pengamatan dan pembuktian sederhana.

Misalnya, pembuktian dengan pergerakan kapal laut jika dilihat dari pantai atau bayangan bumi di bulan saat terjadi gerhana (hlm 272-275). Buku ini mengisi kekosongan minimnya buku ilmiah dasar tentang astronomi yang dikemas secara populer dan berbahasa Indonesia.

Penyajiannya yang tersaji dengan model tanyajawab dilengkapi dengan ilustrasi pendukung serta QR code di nyaris setiap halaman untuk menggali informasi lebih jauh di You- Tube, membuat buku ini terasa nyaman dan mudah dicerna. Buku ini muncul pada saat pemanasan global terus meningkat seiring industrialisasi dan globalisasi merangsek hingga ke pelosok desa di negara-negara berkembang.

Meningkatnya pemanasan bumi berbanding lurus dengan tingkat ketamakan manusia untuk terus menerus mengeksploitasi alam. Pada satu sisi, eksploitasi alam mengakibatkan rusaknya sebagian besar hutan yang menjadi sumber keseimbangan alam.

Pada sisi lain, pusat-pusat baru industri dan pabrik-pabrik terus menghasilkan emisi gas karbon dioksida yang menimbulkan efek rumah kaca dan selanjutnya meningkatkan suhu bumi. Buku ini memberi pemahaman yang baik tentang alam semesta, termasuk bumi.

Dengan membaca buku ini, kiranya akan muncul rasa kagum sekaligus rasa syukur kita sebagai salah satu makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Kewajiban kita selanjutnya adalah ikut menjaga keseimbangan alamiah yang ada di dalamnya agar kehidupan bisa terus berlangsung dengan baik.

M. Mushthafa

Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep