Edisi 06-08-2017
Prospek Bisnis Media Tetap Menjanjikan


EDINBURGH – Senjakala media cetak? Sinyalemen itu sepertinya tak berlaku dengan mengacu pada pencapaian surat kabar Inggris, i.

Media yang diakuisisi Johnston Press dari Evgeny Levebev senilai 24 juta poundsterling pada April 2016 tersebut dilaporkan meraup keuntungan 3,7 juta poundsterling pada enam bulan pertama 2017 atau naik 42%. Masih bersinarnya industri surat kabar juga tecermin di banyak negara, antara lain India. Laporan terbaru Biro Sirkulasi India pada awal 2017 menyebutkan bahwa pertumbuhan rata-rata sirkulasi media cetak hampir 5% per tahun.

Data terakhir yang dipublikasikan Asosiasi Surat Kabar dan Penerbitan Berita Dunia (World Association of Newspapers and News Publishers/WAN-IFRA) juga memaparkan bahwa pada 2015 media massa global menghasilkan sekitar USD168 miliar dalam sirkulasi dan pendapatan iklan. Dengan kondisi ini, prospek bisnis media dinilai tetap menjanjikan.

Menurut Johnston Press, pendapatan (revenue) sirkulasi harian i naik dari 4,4 juta poundsterling menjadi 11 juta poundsterling selama 26 pekan tahun ini bila dibandingkan dengan 12 pekan tahun lalu, sedangkan revenue iklan naik dari 0,8 juta menjadi 3 juta poundsterling. Namun perhitungan itu belum termasuk suku bunga, pajak, dan asuransi.

Rata-rata sirkulasi harian i pada Juni 2017 mencapai 270.990 atau turun 7,9%. Johnston Press merupakan perusahaan raksasa multimedia di Inggris. Mereka sedikitnya memiliki 200 surat kabar, termasuk The Scotsman, Yorkshire Post, dan Falkirk Herald. Raja media yang bermarkas di Edinburgh, Skotlandia, itu mengatakan secara keseluruhan pendapatan iklan digital perusahaan tumbuh 14,8% dari tahun ke tahun.

“Kondisi itu dibarengi dengan peningkatan tuntutan berita yang dapat dipercaya dan berkualitas,” ujar Johnston Press seperti dilansir Press Gazette kemarin. Jumlah pembaca digital juga melonjak sebesar 15% menjadi 26,5 juta per bulan. Utang bersih Johnston Press juga turun sebesar 8,7 juta poundsterling.

Tumpukan utang yang harus dibayar dalam anggaran keuangan mereka hanya 15,2 juta poundsterling. Kepala Eksekutif Johnston Press, Ashley Highfield, mengatakan, media merupakan sebuah bisnis yang perlu melakukan transformasi sehingga dapat bertahan di tengah persaingan global.

Sejak 2012, Johnston Press juga mau tidak mau harus mulai menerapkan perubahan hingga akhirnya kini menjadi bisnis lintas platform. “Di tengah kondisi perdagangan yang menantang, bisnis media masih merekam respons yang bagus. Dengan senang hati kami mengalami pertumbuhan revenue sebesar 4,6% pada separuh tahun ini.

Revenue di media digital dapat menambal penurunan di media cetak. Seluruh kru telah bekerja sangat baik,” kata Ashley. Pada 2014, Johnston Press juga meraih profit 2,8% atau 55,5 juta poundsterling. Menurut Ashley, bisnis media masih stabil dan aman. Sejak saat itu mereka sudah fokus meningkatkan revenue iklan di media digital.

Sebab iklan di media cetak yang memberikan porsi keuntungan terbesar turun bertahap. “Kami memasang target iklan di media digital lebih dari 20% dari total iklan. Selama kami mampu menjaga pertumbuhan iklan tiga kali lipat lebih besar, kami akan mampu bangkit,” ujar Ashley. Secara keseluruhan, pembaca online Johnston Press mencapai 16,7 juta orang.

Jumlah pembaca, menurut Ashley, merupakan aspek penting untuk menggenjot pendapatan karena bersinergi dengan penayangan iklan. Hal itu harus didukung kemampuan teknologi informasi (TI) yang memadai karena sekarang dunia sudah berada di genggaman tangan. Para jurnalis Johnston Press juga mendapatkan pelatihan khusus.

Johnston Press, menurut Ashley, telah membentuk ruang kendali berita (newsroom) agar berita dapat mengalir secara cepat dan tepat. Namun sama seperti perusahaan media lainnya, Johnston Press juga mengalami kelebihan wartawan setelah beberapa media kecil milik mereka dilebur.

Kendati secara umum media cetak disalip media digital dalam hal pendapatan iklan, Johnston Press tidak akan membuat kebijakan ekstrem. “Saya kira kami tidak akan menutup surat kabar terkemuka. Media cetak tetap merupakan model bisnis yang bagus. Media cetak juga dapat memperkuat kredibilitas media online dan tentu masih tetap memiliki tempat di hati para pembaca.

Pasalnya tidak semua orang menyukai berita online,” papar Ashley. Perusahaan media lainnya, Times Newspapers Limited, milik Rupert Murdoch juga mengalami kenaikan pendapatan yang substansial pada 2015. Perusahaan yang mengoperasikan The Times dan The Sunday Times itu meraup profit hingga 21 juta poundsterling, naik dari setahun sebelumnya yang hanya meraih 1,7 juta poundsterling.

Sejak 2002, Times Newspapers Limited menderita kerugian hampir setiap tahun. Situasi itu berangsur membaik pada 2016 ketika media massa di Inggris sedang gonjang-ganjing. Times Newspapers Limited dilaporkan meraup keuntungan bersih sekitar 11 juta poundsterling. Adapun News Corp Inggris dan Irlandia yang memiliki The Sun rugi 33 juta poundsterling.

Sirkulasi Melesat

Biro Sirkulasi India menilai pertumbuhan media cetak di negara itu tak lepas dari berkembangnya ekonomi nasional dan meningkatnya konten lokal. Mengutip data WANIFRA, biro tersebut menunjukkan bahwa sirkulasi surat kabar India meningkat 32% antara 2013 hingga 2015. “India adalah salah satu tempat paling bersinar untuk media cetak,” demikian bunyi laporan Biro Sirkulasi India seperti dikutip CNN Money.

Pertumbuhan media cetak bahkan muncul saat Pemerintah India dan raksasa TI asal Amerika Serikat (AS) seperti Google dan Facebook berupaya membawa negara berpenduduk lebih dari 1,3 miliar orang ini untuk akrab dengan internet. Semakin banyaknya pembaca berimbas pada penerbit.

Publikasi cetak India diproyeksikan menarik pendapatan iklan senilai hampir 300 miliar rupee (USD4,5 miliar) pada 2021, melesat dari sekitar 200 miliar rupee (USD3,1 miliar) pada 2016. Pada saat itu, menurut estimasi biro, industri media cetak India akan bernilai sekitar USD6,7 miliar. Di Jepang, jumlah oplah media cetak juga stabil.

Menurut WAN-IFRA, sirkulasi The Yomiuri Shimbun mencapai 9,1 juta eksemplar dan The Asahi Shimbun 6,6 juta eksemplar. Tempat ketiga diisi koran ternama AS, USA Today, dengan 4,1 juta eksemplar. Yang menarik, di tengah kerasnya tantangan termasuk pendapatan iklan yang cenderung turun, perusahaan raksasa media AS, Gannet, berencana mengakuisisi sejumlah surat kabar lokal.

Gannet berpandangan ekspansi adalah salah satu cara untuk memperluas penjualan iklan secara nasional. “Kami masih tertarik untuk memperluas jejak lokal di mana dia (surat kabar lokal) dapat menambah kluster, membuktikan bahwa kami dapat dengan cepat menemukan pusat untuk memasarkan merek tersebut,” kata Kepala Penerbitan Gannett John Zidich.

CEO Gannett, Robert Dickey, menegaskan bahwa memperluas jaringan USA Today adalah hal penting bagi perusahaan. “Di sini fokus utama kami publikasi yang melayani pasar menengah dan besar, mulai dari setengah juta sampai 3 juta penduduk. Namun Gannett juga sangat terbuka terhadap pasar yang mungkin sedikit lebih kecil (media lokal), tapi bisa menambahkan beberapa sinergi langsung,” sebutnya.

Gannett Company Inc adalah perusahaan induk media yang telah melantai di bursa. Perusahaan ini merupakan penerbit surat kabar terbesar AS bila diukur dari jumlah sirkulasi. Asetnya mencakup surat kabar nasional USA Today dan mingguan Weekend serta surat kabar lokal. Di antaranya The Arizona Republic di Phoenix, Arizona, The Indianapolis Star, The Cincinnati Enquirer, The Tennessean di Nashville, Tennessee.

Gannet juga memiliki Courier-Journal di Louisville, Kentucky, The Democratic and Chronicle di Rochester, New York, dan The Des Moines Register, The Detroit Free Press, The News-Tekan di Fort Myers, Milwaukee.

Pada 2015 Gannett Co Inc mengubah bisnis penerbitan menjadi entitas publik yang terpisah sambil mempertahankan divisi media internet. Segera setelah spin off, perusahaan induk itu (Gannett Co Inc) berganti nama menjadi Tegna. Adapun bisnis penerbitan mereka berganti nama menjadi Gannett.

muh shamil