Edisi 06-08-2017
Selamatkan Satwa dengan Kearifan Lokal


Borneo Orangutan Survival Foundatin (BOSF) dan Bank Central Asia (BCA) bersinergi dengan masyarakat adat setempat dalam rangka mencegah kepunahan orangutan.

Bagaimana peran ketiganya- BOS, masyarakat adat, dan BCA-menyelamatkan orangutan? Sebagaimana lumrahnya, tiap masyarakat memiliki lokal genius atau kearifan lokal yang bisa dijadikan acuan untuk mengatasi masalah. Satu sisi, orangutan terancam punah akibat hutan yang menjadi habitat mereka semakin berkurang.

Sisi lain, masyarakat adat Kalimantan memiliki kearifan dalam merawat lingkungan hidup. Kearifan itu bisa ditemukan dalam cerita-cerita mitologi yang dikisahkan turun-temurun. Salah satu cerita yang memiliki pesan merawat lingkungan di suku Dayak Wehea Kalimantan adalah cerita tentang Dewi Padi, Long Diang Yung.

Dikisahkan, demi menyelamatkan warga dari kelaparan, Long Diang Yung putri semata wayang Ratu Dayak Diang Yung rela dikorbankan dengan cara disembelih. Kisah yang melegenda ini tidak hanya disertakan turun-temurun, tapi juga dirayakan dalam upacara adat setiap musim panen. Sebagai ucapan terima kasih, warga Dayak Wehea merayakan kehadiran Long Diang Yung dengan melaksanakan ritual dan pesta adat Lom Plai.

Warga Dayak Wehea percaya, jika pengorbanan Long Diang Yung membawa kemakmuran dan kesejahteraan hidup untuk manusia. Pesta adat ini bisa berlangsung sebulan, melibatkan berbagai elemen masyarakat. Dan pada inti dari seluruh rangkaian ritual terkandung kearifan untuk menjaga harmoni kosmik, manusia dan alamnya.

Itulah mengapa BOSF yang didirikan pada 1991 melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pelestarian habitat orangutan. Lembaga yang sangat concern terhadap nasib orangutan itu, pada 2 Agustus 2017 mendapat bantuan senilai Rp200 juta dari BCA.

Bantuan ini khusus untuk kegiatan pelepasliaran sebanyak 12 orangutan dari Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Pihak BCA ikut menyaksikan pelepasliaran 12 orangutan itu ke habitatnya.

Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati mengungkapkan pentingnya kerja sama dari semua elemen dalam menjaga kelestarian orangutan sebagai satwa yang dilindungi. ”Selama ini, banyak yang beranggapan tempat paling aman bagi orangutan adalah pusat rehabilitasi.

Padahal, tempat paling layak untuk satwa liar adalah habitat aslinya, hutan. Karenanya, BCA sangat mendukung kegiatan BOSF melepasliarkan orangutan yang sebelumnya telah menjalani proses rehabilitasi melalui sistem Sekolah Hutan dan tahap pra-pelepasliaran,” kata Inge.

Sejak tahun 2012, Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) sebagai yayasan orangutan terbesar di dunia telah aktif melepasliarkan 289 orangutan di Kalimantan, dengan sekitar 650 orangutan yang masih direhabilitasi.

Hingga tengah tahun 2017, BOSF telah melepasliarkan 167 orangutan di Hutan Konservasi Bukit Batikap di Kalimantan Tengah, 75 orangutan di Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur, dan 47 orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan Tengah.

Kali ini, BOSF memberangkatkan 12 orangutan dari Program Reintroduksi Orangutan di Nyaru Menteng menuju titik-titik pelepasliaran yang telah ditentukan sebelumnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Tengah.

donatus nador