Edisi 06-08-2017
Beras


Beras tengah menjadi trending topic di negeri kita. Namun, mari lupakan case yang menjadikannya sebagai polemik bangsa minggu-minggu ini.

Mari kita bicara beras sebagai sebuah entitas.

Pertama, beras adalah sejarah yang simpang siur.

Ada yang bilang, beras adalah makanan asli Indonesia sehingga sampai saat ini masih banyak orang Indonesia yang mengaku ”belum makan” jika belum makan beras. Ada juga yang bilang, beras itu bawaan orang India. Riset yang dirilis dalam Laporan Akademi Sains Amerika Serikat menyebutkan bahwa oryza sativa indica ditanam di India pada awalnya.

Hanya sebagian kecil di Myanmar dan Thailand. Prof Nadirman Hasma, peneliti sagu Indonesia bahkan tegas mengatakan bahwa bahan makanan yang asli Indonesia adalah sagu. Catatan Tlsyrin Naufatty Tsani menuliskan sejarah beras dalam versi yang lain, beras berasal dari China.

Beras ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi (SM). Dari China, barulah beras menyebar ke Sri Lanka dan India. Beras baru masuk ke Asia Barat hingga Yunani pada 300 tahun SM oleh tentara Alexander Agung.

Kedua, beras adalah legenda kemuliaan.

Semua orang mengenal Dewi Sri sebagai ”Dewi Padi”. Seorang dewi baik hati yang jasadnya berubah menjadi bulir-bulir benih tanaman padi pemberi berkah makhluk di bumi. Penjelmaan jasad Dewi Sri menjadi bahan makanan yang dibutuhkan manusia tentu bukan kebetulan. Beras adalah simbol kemuliaan, untuk melukiskan bahwa hanya orang yang mulialah yang bisa menjadi berkah bagi sesama.

Beras adalah keberkahan bagi manusia. Pertanyaannya, adakah anak sekarang yang paham filosofi kisahnya?

Ketiga, beras adalah kebinekaan.

Keindahan perbedaan warna dan manfaat. Ada beras merah yang merahnya berasal dari antosianin. Ada beras hitam yang antosianinnya berkadar sangat tinggi, kendati sama-sama dihasilkan oleh aleuron dan endospermia. Ada beras putih yang kadar antosianinnya rendah, tapi memiliki derajat amilosa cukup tinggi.

Ada juga ketan putih yang hampir seluruh patinya merupakan amilopektin. Begitu juga ketan hitam sebagi versi lain beras hitam. Semua punya manfaat. Antosianin berfungsi sebagi antioksidan di dalam tubuh yang mencegah terjadinya aterosklerosis, penyakit penyumbatan pembuluh darah.

Kendati berbeda di komposisi monomernya, amilosa dan amilopektin adalah sumber energi, sekaligus pemberi rasa pera dan lengket pada nasi sehingga enak dimakan. Namun, pernahkah kita mendengar ada ”pertengkaran” di antara mereka? Atau, adakah kita merasa bahwa beras putih pasti ”jemawa” dan ”sok penting” hanya karena dia dominan dalam kuantitas produksi di muka bumi? Tentu tidak.

Kenapa? Karena kita manusia tak mempermasalahkannya. Karena kita paham bahwa masing-masing punya manfaat dan penggemarnya. Sesederhana itu, bukan? Maka, segala masalah perbedaan yang bermuara pada pertikaian di muka bumi ini sesungguhnya adalah masalah penyikapan kita sang manusia.

Keempat, beras adalah ikon kebanggaan.

Masih ingat pada 1984 di mana kita ditasbihkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) sebagai negara dengan swasembada beras? Juga betapa bangganya pemerintah kita ketika pada akhirnya, pada 2016 FAO baru kembali mengakui keswasembadaan kita akan kebutuhan beras? Jadi, tidak adanya impor beras sepanjang tahun yang menunjukkan salah satu kekuatan dan kedaulatan pangan adalah sebuah kebanggaan bagi bangsa dan negara.

Kelima, beras adalah instrumen politik.

Beras bisa menjadi komoditas, tapi juga bisa menjadi alat politik. Itu juga terjadi di Indonesia. Karena bicara beras, berarti bicara tentang hajat hidup orang banyak. Kajisa dan Akiyama (2004) mengatakan, beras memiliki sensitivitas ekonomi dan sensitivitas politik yang tinggi. Pergolakan harga beras dapat memengaruhi ketidak stabilan politik. Maka, pemerintah berkepentingan mengendalikan harga, pasokan, dan distribusinya.

Jadi, apa yang dilakukan pemerintah negara kita sudah tepat. Celakanya, kepentingan dengan hajat hidup orang banyak ini diartikan juga sebagai ”peluang bisnis yang sangat besar” bagi sebagian orang sehingga mereka melupakan bahwa pengendalian yang dilakukan negara ini adalah untuk menjamin keterjangkauan dan ketersediaan beras di menu pangan masyarakat. Bukan sebagai ajang kepentingan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya demi pundi-pundi kekayaan pribadi.

FAJAR S PRAMONO

Alumnus Fakultas Pertanian UNS